Inul Menggoyang Bisnis Karaoke

Popularitasnya menjadi faktor yang sangat menentukan kesuksesan usahanya. Tak hanya pengunjung, investor pun terpincut karenanya.

Memasuki tahun 2004, dunia showbiz Indonesia dikagetkan oleh kehadiran seorang biduan bernama Inul Daratista. Penyanyi yang lebih banyak membawakan lagu dangdut ini mendadak menjadi bintang di jagat hiburan di Tanah Air. Padahal, sebelumnya Inul hanya dikenal sebagai penyanyi panggung yang berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya di wilayah Pasuruan dan sekitarnya (Jawa Timur).

inul.jpeg

Inul laris manis! Hampir setiap hari wajahnya menghias layar televisi, baik dalam bentuk aksi panggung (baca: menyanyi), wawancara dalam sebuah talkshow, hingga iklan yang dibintanginya. Belum lagi acara off air yang sangat padat. Setiap hari jadwalnya begitu padat, dan hampir tidak ada waktu kosong. Dan tentu saja, mengikuti popularitas dan kepadatan jadwal manggungnya, gemerincing rupiah pun mengalir deras ke pundi-pundinya.

Semua itu gara-gara goyang ngebor yang dipopulerkan wanita bernama asli Ainur Rokhimah ini. Walau mengundang kontroversi, tarian Inul justru menjadi selling point sekaligus diferensiasinya dibanding penyanyi dangdut lain. Bahkan, ketika sedang di puncaknya, Majalah Time Asia pun menyediakan dua halaman penuh untuk menceritakan artis ini sebagai sensasi baru di dunia musik dangdut Indonesia.

Nama Inul terus melambung. Album rekaman yang menjadi salah satu cita-citanya pun akhirnya terwujud. Tawaran manggung pun terus berdatangan. Bahkan, tak sebatas di Indonesia. Inul pun mulai rajin manggung di mancanegara: Singapura, Malaysia, Jepang, bahkan Belanda. Tak berhenti sampai di situ, ia juga “menjajah” dunia lain, yakni sinetron, dengan membintangi Kenapa Harus Inul?

Ingar-bingar dunia showbiz yang membuatnya berlimpah uang tidak membuat wanita kelahiran Pasuruan, 21 Januari 1979, ini lupa segalanya. Ia sadar bahwa kesuksesannya di dunia tarik suara tak akan langgeng. “Penyanyi selalu identik dengan kriteria cantik dan muda,” ujarnya. Karena itu, ia harus mempersiapkan diri mencari usaha yang bisa menghidupinya di hari tua bila tak lagi eksis di dunia tarik suara.

Pucuk dicita ulam tiba. Istri Adam Suseno ini bertemu dengan pria asal Korea Selatan yang biasa ia sapa “Mr. Kim” (Inul enggan menyebut nama lengkapnya). “Saya memang sudah ada niat masuk ke dunia bisnis. Dan ketika ketemu dengan Mr. Kim, akhirnya saya nekat saja,” tuturnya.

Mr. Kim mengajaknya terjun ke bisnis karaoke keluarga. Kebetulan di Kelapa Gading, Jakarta Utara, ada karaoke keluarga yang hampir bangkrut. Inul pun secara otodidak mempelajari bisnis ini. Bahkan, ia secara khusus melihat langsung perkembangan industri ini di Kor-Sel. Sambil melakukan road show, ia berkunjung ke beberapa tempat karaoke di Negeri Ginseng itu.

Keputusan pun dibuat. “Saya nekat. Dalam bisnis itu kan memang harus berani dan bertaruh. Kalau tidak untung, ya pasti merugi,” kata Inul. Sedikitnya Rp 4 milliar dikucurkannya untuk mengambil alih sekaligus membenahi karaoke keluarga yang bernama Karaoke Keluarga 123 itu. Interiornya diubah secara drastis. Perlengkapan dan sistem teknologi informasi diperbarui dengan menggunakan peralatan canggih, dan sumber daya manusianya ditambah. Langkah terakhirnya adalah mengubah nama karaoke, menjadi Karaoke Inul Vista. Nama Vizta diambil dari kata “fiesta”, yang bermakna “pesta”.

Gedung seluas 700 m2 itu diubah menjadi sarana rekreasi menyanyi dalam ruang yang berbeda dari kebanyakan karaoke keluarga lainnya. Ada 20 ruangan – dari ruang yang kecil berkapasitas empat orang sampai ruang VVIP dengan kapasitas sekitar 30 orang — dilengkapi dengan fasilitas TV LCD, layar lebar dan monitor LCD. Selain itu, Inul Vizta dilengkapi pula dengan wireless microphone, wireless keyboard, computerized karaoke system yang user friendly (tanpa operator), puluhan ribu lagu dari segala jenis dan golongan usia, serta fasilitas rekam VCD/CD. “Setiap ruang dilengkapi dengan kamera yang bisa diaktifkan langsung oleh pelanggan untuk fasilitas rekam audio-visual untuk merekam dalam CD atau VCD sesuai dengan keperluan dokumentasi, atau sekadar kenangan,” kata Mirza A. Mitha, Manajer Waralaba PT Vizta Pratama – pengelola Inul Vista.

Inul mengatakan, semua langkah tersebut tak lepas dari peran serta Mr. Kim yang juga menjadi konsultannya. “Ia mengajarkan banyak hal tentang bisnis karaoke kepada saya,” ungkap Inul yang memutuskan bermitra dengan Mr. Kim. “Kontribusi saya sebagai penyandang dana serta membantu dari sisi pemasaran dan promosi. Mr. Kim yang mengelola.”

Diakui Inul, saat ini bisnis karaoke sudah sarat pemain. Namun, ia percaya eksistensinya sebagai penyanyi bisa mendongkrak perkembangan bisnisnya di kemudian hari. Yang lebih penting lagi, ia punya profesional yang jago di bidangnya, yakni Mr. Kim dan Mirza. Ia sendiri berusaha meluangkan waktu untuk melihat perkembangan usahanya. “Sesempat mungkin saya mendatangi semua outlet setiap bulan,” ujar Inul yang merasa beruntung karena Mr. Kim dan Mirza cukup paham dengan kesibukannya. “Kalau ada kendala yang serius, sementara saya sedang show, biasanya kami selesaikan lewat telepon.”

Mirza menyebutkan, Inul Vizta membidik dua kategori ritel karaoke: eksekutif dan keluarga. Selama ini, dikatakannya, karaoke eksekutif sering dianggap memiliki reputasi negatif, operator manual, harga mahal, berlokasi di gedung serta interiornya berkelas. Adapun karaoke keluarga berciri interior seadanya, lokasi di ruko, tapi reputasinya positif/sopan, computerized dan harga terjangkau. “Inul Vizta mengambil interior sekelas karaoke eksekutif, tapi memiliki reputasi positif, sistem computerized dan harganya terjangkau. Namun, ada diferensiasi Inul Vizta dibanding karaoke lainnya, yakni berada di lokasi mal/trade center, trendi, inovatif dan selebriti abis,” ungkap Mirza.

Inul Vizta memang sengaja didesain untuk memenuhi selera masyarakat kelas menengah metropolis yang suka hang out atau berpesta di tempat yang cozy, fun, aman, nyaman, sopan, banyak selebriti dan harganya terjangkau. Apalagi, Inul pun memberikan Viztacard kepada kalangan artis secara gratis. “Kalau mereka (kalangan artis) mau cari hiburan berkaraoke,” kata Mirza, “mereka pasti ke Karaoke Inul Vizta.”

Konsultan OctoBrand, Sumardi, menyebutkan bahwa nama Inul punya pengaruh cukup signifikan dalam menentukan kesuksesan karaoke Inul Vista. Pasalnya, awareness masyarakat terhadap Inul sangat tinggi. Nama Inul Vizta terangkat karena Inul sangat dekat dengan media dan merupakan figur publik yang memiliki ciri khas. Ini menjadi keistimewaan Inul Vizta, yang tidak dimiliki tempat karaoke lain. Ini berkah bagi Inul pula dalam memanfaatkan kondisi ini. “Orang akan lebih aware dan tertarik mengunjungi tempat ini karena melihat sosok Inul,” ujarnya.

Analisis Sumardi boleh jadi benar. Sejak pertama kali dibuka di Kelapa Gading, Inul Vizta langsung dibanjiri pengunjung. “Awalnya, saya tertarik mencoba karena nama besar Inul,” ungkap Kristanti Desi Anggraeni, salah seorang pelanggan Inul Vizta. “Sekali mencoba berkaraoke di sana, langsung ketagihan,” ungkap Kristanti, ibu dua anak yang sebulan dua kali mengunjungi Inul Vizta bersama keluarga.

Belum genap sebulan gerai pertama berjalan, gerai kedua pun diresmikan. Kali ini mengambil lokasi yang cukup prestisius: Plaza Semanggi. Hebatnya, gerai kedua ini sudah dikembangkan dengan cara waralaba. “Jadi, tidak benar kabar bahwa Inul Vizta sempat menunggak pembayaran sewa gerai di Plangi (Plasa Semanggi). Cabang Plangi mendapat dukungan total dari si franchisee-nya,” ungkap Mirza tentang berita miring yang sempat menerpa Inul Vizta.

Mirza bercerita, awalnya Inul tidak berencana mewaralabakan usaha ini. Namun, karena ada permintaan, akhirnya diputuskan mewaralabakannya. “Para investor kami awalnya adalah customer. Mereka menyanyi, beberapa kali datang, dan akhirnya tertarik menjadi investor.”

Ungkapan Mirza dibenarkan Reni Abu Hasan. Ia tertarik berkaraoke di Inul Vizta bukan karena nama besar Inul sebagai artis fenomenal. Namun, karena suasana, pelayanan, dan sejumlah fasilitas yang ditawarkan di tempat ini. Menurutnya, citra negatif tentang karaoke sebagai tempat mesum sama sekali tak tergambar. Apalagi, pengunjung Inul Vizta sangat ramai. Tak ayal, ketika ia bertemu Inul di tempat karaokenya, Reni langsung menawarkan diri menjadi terwaralaba (franchisee). “Kebetulan kami punya rukan di Pekanbaru. Kapasitasnya sekitar 46 unit,” tutur Reni. “Jadi, rencananya, tahun ini saya mau buka Karaoke Inul Vizta di sana.”

Mirza menjelaskan, untuk membuka sebuah gerai dibutuhkan investasi Rp 3-4 miliar, tergantung pada banyaknya ruang. Untuk cabang dengan kapasitas 20 kamar, investasi yang dibutuhkan Rp 3 miliar, sedangkan untuk 32 ruang Rp 4 miliar. Biaya tersebut sudah termasuk franchise fee, interior, properti dan SDM. “Setiap outlet terdiri atas kurang-lebih 45 orang (karyawan). Kami buat dua shift,” ujarnya.

Kini Inul Vizta memiliki 8 cabang: antara lain di Plangi, Pasar Festival Kuningan, Point Square Lebak Bulus, Plaza Gajah Mada, Sarinah (Jakarta) dan Mal Paris van Java (Bandung), yang semuanya dikembangkan secara waralaba. Maka, Inul Vizta pun dilengkapi dengan sistem teknologi informasi yang canggih. “Kami punya lima tenaga TI di kantor pusat. Pengontrolan banyak kami lakukan melalui sistem intranet. Semuanya terkoneksi. Transaksi di setiap cabang langsung terekam ke pusat. Jadi, tidak bisa ada investor yang suka bandel memberi laporan palsu. Kalaupun ketemu dengan investor seperti ini, dari pusat kami bisa langsung sekali enter dan mereka tidak bisa beroperasi. Demikian sebaliknya, sebagai franchisee mereka juga bisa mengendalikan penyimpangan yang terjadi di dalam outlet, penyimpangan oleh karyawan misalnya,” Mirza menuturkan.

Sumardi menyebutkan, penggunaan nama Inul di bisnis ini menjadi nilai tambah Inul Vizta untuk menerapkan sistem waralaba. “Syarat pertama menerapkan sistem franchise adalah sudah ada brand awareness,” ujarnya. Karena itu, ia tidak heran, karaoke ini langsung diwaralabakan. “Setelah nama Inul bisa menciptakan traffic, sebenarnya tugas Inul selesai sampai situ. Selanjutnya tugas manajemen untuk memberikan pelayanan terbaik dengan customer retention.”

Mirza sepakat dengan Sumardi. Karena itu, Inul Vizta pun mulai menggelar program retention, Vizta Card. Dengan kartu yang dijual seharga Rp 500 ribu ini, pelanggan memperoleh diskon hingga 10%, serta program yang menawarkan berbagai hadiah. “Per Desember 2006 kami punya lebih dari 11 ribu member,” kata pria berkacamata ini.

Selain program retention, Inul Vizta juga mengelar berbagai aktivitas pemasaran lainnya, mulai dari survei kepuasan konsumen hingga menggelar lomba karaoke keluarga. “Kami melakukan building image untuk membentuk persepsi bahwa ini karaoke keluarga yang aman dan berkelas,” ujar Mirza. Dan manajemen VP pun menurut Mirza sangat hati-hati dalam membangun citra tempat karaokenya. “Maklum, sampai sekarang kami masih perlu banyak waktu untuk mengubah persepsi negatif orang tentang tempat karaoke. Sosialisasi dalam bentuk promo juga me-manage orang-orang di dalamnya – pelatihan karyawan — terus kami lakukan secara intens. Kami punya standard operational procedure yang harus ditaati setiap individu di sini.”

Selain itu, manajemen juga mencoba membangun citra dengan cara yang berbeda. Yaitu, dengan menampilkan menu makanan yang khas. Mirza menyebutkan, Inul Vizta menyajikan menu masakan Indonesia, Eropa dan Jepang dengan kualitas rasa yang tak berbeda dari hotel bintang tiga.

Selain untuk membangun citra, menu makanan yang ditawarkan Inul Vizta ternyata menjadi sumber pemasukan yang besar pula. “70% keuntungan berasal dari penjualan masakan,” ungkap Mirza. Maklum, margin dari penjualan makanan lebih tinggi dibanding menjual jasa sewa ruangan karaoke, yaitu mencapai 30%-35%.

Menurut Sumardi, masih ada peluang yang belum dilihat Inul, yakni masuk ke segmen menengah-bawah. “Bila dia benar-benar ingin Inul Vizta menjadi sebuah brand, kenapa dia tidak terpikir mengembangkannya ke segmen itu. Karena, Inul ini lintas kalangan.”

Sayangnya, Inul sudah cukup puas dengan perkembangan usaha karaokenya. Justru ia sedang melirik bisnis lain: restoran yang hanya buka malam hari. Untuk itu, ia kini melakukan survei ke Singapura. Kita tunggu saja seperti apa jadinya.

Artikel ini dimuat di Majalah SWA edisi 07/2007

About these ads

24 responses to “Inul Menggoyang Bisnis Karaoke

  1. Hallo Mba Inul

    saya tertarik mo jd memeber bearpa yach klo mo daftar n kalau mo karokean doang brapa dan klo keluarga gw mo krokean ter d dokumentasiin juga berapa tar bales ke Email gw

    Terimakasih

  2. Saya pengelola Hotel bintang 3 di Sidoarjo, ada space yang cukup luas untuk Karaoke. Melihat perkembangan Inul Vista, saya tertarik untuk menggandeng Inul Vista sebagai partner franchais. Dimana saya bisa hubungi ya?

  3. mbak inul boleh tidak anak yatim berkaroke di tempat mbak gratis ,saya tinggal disekitar jl.menteng jaya kel.menteng (pinggiran) karna saya lihat anak yatim dilingkungan saya banyak yang berbakat nyanyi loooh, kebetulan saya bag. dari staff Rw.01 kel.menteng. thank ya mbak.

  4. PENAWARAN UNTUK LOKASI DI MALL TERBESAR KOTA MALANG MALL OLYMPIC GARDEN. KARENA BELUM ADA INULVISTA DI MALANG SEMENTARA BANYAK KARAOKE YG LG BUKA TAPI BELUM ADA YG BUKA DI MALL, DIMANA SAYA BISA E MAIL UNTUK PENAWARAN TERSEBUT?

  5. Mbak inul,minta tips2 promo karaokeannya dong kalo boleh..aku lagi rintis karaoke kcil2an,tapi ada kendala di promo..gimana promo yg efektif?
    Balas di email aja..saya tunggu secepatnya ya..thanx

  6. Ngomong- ngomong mengenaoi Karaoke, saat ini ada karaoke baru di Bandung baru soft Opening CARRERA Karaoke di Banana Inn Hotel. Setiabudhi No 191 Bandung. 022-2005479. Konsepnya Cozy dan Minimalis…hargapun Ok. Sekrang lagi Diskon loh..40%. yang mau coba..boleh sekalian abisin long weekend..di Bandung…seru pastinya.

  7. mba saya mau buka di daerah kota tasikmalaya,,kira2 ada prsyaratan luas dan lebar tanahnya ga? brapa? 3-4m itu udh tmasuk prubahan struktur bangunan,tmbh daya,generator sama perizinan ga??trus lama waktu pembangunan sekitar brapa bulan???

  8. mbak inul, boleh minta pekerjaan engga? jadi apapun aku mau, saya hanya sekolah lulusan smp dan tidak mempunyai pengalaman apapun. saya minta kerjaan sama mbak inul. kalo ada lowongan sms ke nomorku ya mbak 02191333182.

  9. Saya tertarik dengan konsep kerja sama dengan Inul vista mohon info unutk dapat bekerja sama dengan Inul vista terim a kasih

  10. Sy ingin menawarkn kerjasama, qt punya tempat di daerah Tebet yg dijadikn t4 makan tp skrg qt mau adakan krjsma krn didaerah Tebet tdk ada t4 karaoke, qt melihat peluang bisnis yg bagus…nama t4 qt adalah Corner Tebet Utara (C’TU)…Mhn balasannya ke email – Bagasdaengjaya@yahoo.com.

  11. mbak inul, aku anak suroboyo umur 23thn, kalo aku jadi biduan nya di cafe veranza boleh gak? , suara ku enak lho mbak, makasih. kalau ada peluang untuk saya tolong hub 0857 0369 0796

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s