Persaingan Rokok Mild: Berat, Tak Seringan Namanya Mei 31, 2007
Posted by Taufik Hidayat in My Articles.Tags: A Mild, Bentoel, Djarum, Rokok Mild, Sampoerna
83 comments
Kehadiran A Mild tahun 1989 mengubah lanskap bisnis rokok nasional. Hampir semua produsen rokok ikut meramaikan persaingan di kategori rokok ringan ini. Perang komunikasi dan bajak-membajak tenaga kerja pun tak terelakkan.
Menjelang tutup tahun 1989, industri rokok di Indonesia dikagetkan oleh langkah berani PT HM Sampoerna Tbk. (HMS). Produsen rokok keretek Dji Sam Soe ini meluncurkan produk terbarunya yang tergolong unik. Kenapa unik? Karena produk itu tidak masuk dalam tiga kategori besar rokok yang ada saat itu, yaitu sigaret keretek tangan (SKT), sigaret keretek mesin (SKM) reguler, dan sigaret putih mesin (SPM). Lewat produk yang diberi merek A Mild, HMS membuat sebuah kategori baru: SKM mild.
HMS jelas serius menggelontorkan A Mild. Ia membutuhkan waktu hingga lebih dari dua tahun untuk proses persiapannya. Maklum, saat itu tidak ada benchmark produk yang dapat dijadikan acuan, termasuk di pasar internasional. Yang ada cuma berbagai survei dan riset yang melibatkan konsumen. Termasuk di antaranya, uji buta yang tidak hanya dilakukan sekali, tapi beberapa kali di beberapa kota.
Entah berapa banyak dana yang dikucurkan HMS dalam meracik A Mild. Namun, Putera Sampoerna yang kala itu menjabat Presiden Direktur HMS tetap ngotot untuk dapat menimang bayinya itu. “Sejak awal A Mild sudah dirancang untuk menjadi produk yang tidak ada duanya di pasar domestik,” ungkap Muhammad Warsianto, salah satu tokoh kunci di balik lahirnya A Mild.
Wifone, Membidik Pasar yang Terabaikan Mei 25, 2007
Posted by Taufik Hidayat in My Articles.Tags: Bakrie Telecom, Wifone
9 comments
Di tengah hiruk pikuk persaingan antaroperator seluler, Bakrie Telecom keluar dari arena persaingan dengan memancing di lautan biru yang masih baru. Kemudahan, tarif lebih murah, dan layanan nilai tambah menjadi andalannya.
Pantang menyerah, itulah ungkapan paling tepat yang layak diberikan kepada PT Bakrie Telecom Tbk. (BT). Untuk ketiga kalinya, BT kembali menawarkan layanan telepon tetap (fixed phone) lewat produk Wifone (Wireless Intelligent Fone). Apa yang kau cari BT? Tidakkah telepon tetap sudah dianggap ketinggalan zaman?
Ternyata dugaan itu meleset. Memang, berdasarkan data yang ada, pasar telepon tetap sulit berkembang di Indonesia – hingga saat ini jumlah pelanggan tak lebih dari 9 juta; sedangkan jumlah pelanggan telepon bergerak (mobile) sudah mencapai lebih dari 50 juta (GSM dan CDMA). Toh, BT melihat peluangnya masih menganga.
Adu Jos Bisnis Minuman Energi Mei 22, 2007
Posted by Taufik Hidayat in My Articles.Tags: Extra Joss, Hemaviton, Kuku Bima Energi
2 comments
Extra Joss mendapat serangan bertubi-tubi dari para pesaing. Saat berkonsentrasi mencegat Hemaviton Jreng, Kuku Bima Energy datang menghadang. Persaingan kian panas. Akankah Extra Joss terjungkal? Siapa yang bakal unggul?
Mungkin luput dari perhatian kita. Fenomena bundling produk AMDK dengan Extra Joss yang dilakukan pedagang asongan sudah sangat jarang kita temui. Kini, sebagian besar pedagang asongan hanya menjajakan AMDK, tanpa Extra Joss. Padahal, dulu bundling produk yang tidak pernah masuk dalam strategi kedua produsen ini seakan-akan menjadi amunisi wajib bagi para sopir dan pekerja kasar lainnya.
Tebersit pertanyaan, ada apa dengan Extra Joss? Adakah produk ini sudah masuk ke tahap declining? Memberikan jawaban bagi kedua pertanyaan di atas, memang masih terlalu dini. Namun, apa yang dialami Extra Joss saat ini mungkin mirip dengan yang dikisahkan Jesper Kunde dalam bukunya Corporate Religion tentang kejatuhan Adidas. Dalam bukunya, Kunde membuktikan bahwa pemasaran bukanlah hanya sebatas science; pemasaran juga membutuhkan penjiwaan. Ini terbukti lewat cerita kejatuhan Adidas kala ditinggal oleh CEO yang sangat menjiwai olah raga.
Ramai-ramai Mengepung Pocari Sweat Mei 15, 2007
Posted by Taufik Hidayat in My Articles.Tags: Isotonik, Kino Sweat, Mizone, Pocari, Power Rade, Vita Zone
3 comments
Keberhasilan Pocari Sweat mengembangkan pasar minuman isotonik menarik beberapa pemain baru. Diferensiasi dan harga yang relatif lebih murah menjadi andalan para penantang.
Ada gula, ada semut, bunyi pepatah lama itu rasanya sangat pas untuk menggambarkan persaingan di kategori minuman isotonik. Lima tahun lalu, selain Pocari Sweat, hampir tidak ada pemain yang melirik kategori produk ini. Alhasil, Pocari pun harus berjuang sendiri untuk mengembangkan pasar minuman yang berfungsi sebagai pengganti ion tubuh, setelah melakukan aktivitas.
Jalan terjal dan berliku harus dilalui oleh PT Amerta Indah Otsuka (AIO) — produsen dan pemasar Pocari Sweat. Bahkan, perusahaan asal Negeri Sakura ini sempat frustrasi karena pasar produknya tak kunjung berkembang. Sejak diluncurkan awal tahun 1990-an, penjualan Pocari tak kunjung take off, padahal potensi pasarnya amatlah besar. Itu pula yang menyebabkan Ajinomoto menyerah di tahun yang sama, 1990-an, setelah mencoba menggarap kategori produk ini.
Wisata Propaganda Yakult Mei 10, 2007
Posted by Taufik Hidayat in My Articles.Tags: Factory Fisit, Yakult
14 comments
Program kunjungan pabrik dikemas Yakult menjadi ajang edukasi dan promosi. Cocok buat konsumen Indonesia?
Sekitar pukul 9.00 pagi, ibu-ibu warga Kompleks BNI 46 Ulujami Jakarta Selatan tampak tengah bersiap melakukan perjalanan menuju Sukabumi. Sebuah bus AC dengan kapasitas 58 orang menunggu mereka sejak pagi. Bukan Lido Lake Resort atau Pelabuhan Ratu yang menjadi tujuan mereka, melainkan pabrik minuman kesehatan Yakult di Desa Pesawahan, Cicurug, Sukabumi.
Ibu-ibu ini datang atas undangan PT Yakult Indonesia Persada (YIP) — produsen Yakult — mengikuti program factory visit yang diselenggarakan sejak 1991. “Ini merupakan program global Yakult di seluruh dunia,” kata Antonius Nababan, General Manager Pemasaran YIP. Lewat program kunjungan pabrik, YIP mengajak banyak kalangan — terutama ibu-ibu PKK tingkat RT/RW, kelompok masyarakat, dan Dharma Wanita — melongok proses pembuatan minuman kesehatan keluarga, mulai dari pembibitan bakteri, fermentasi, pembuatan botol, hingga pengemasannya.
Kiat BMW Agar Tetap Unggul Mei 8, 2007
Posted by Taufik Hidayat in My Articles.Tags: BMW, Experiental Marketing
add a comment
Di tengah ketatnya persaingan di segmen mobil mewah, BMW berhasil mempertahankan kepemimpinannya. Peningkatan kualitas layanan dan strategi experiential marketing jadi kuncinya.
Indonesia merupakan salah satu negara Asia yang pasar mobil mewahnya mengalami pertumbuhan cukup tinggi. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan tren tersebut. Dari 2000 hingga 2005, tak kurang dari 27 ribu unit mobil mewah terjual. Itu tidak termasuk penjualan dari importir umum yang sebagian besar penjualannya adalah mobil mewah.
Dalam kurun tersebut, BMW merupakan merek mobil mewah yang penjualannya terbanyak dibanding pemain lain. Dari 2000 hingga 2005, BMW Indonesia berhasil menjual 12.742 unit mobil dan sekaligus memimpin segmen premium dengan pangsa pasar 47%.












