Ada Apa (Lagi) dengan Blazer?

Setelah berganti baju dari Opel menjadi Chevrolet pada September 2002, penjualan Blazer di Indonesia terus menurun. Awalnya, PT General Motors Indonesia (GMI) bisa sedikit tersenyum, karena transisi merek itu disambut baik oleh konsumen. Data Gaikindo menunjukkan, selama September 2002 penjualan Blazer meningkat cukup signifikan yaitu 166 unit. Bandingkan dengan Agustus 2002 — masih menggunakan merek Opel — selama bulan itu hanya terjual 65 unit. “Di luar dugaan, respons konsumen sangat baik,” ungkap Harold K. J. Koh, Presdir GMI.

Ternyata, peningkatan penjualan itu hanya terjadi sesaat. Oktober 2002 angka penjualan langsung drop 50% menjadi hanya 84 unit, dan bulan-bulan selanjutnya tren penjualannya terus menurun. Bahkan, berdasarkan data Gaikindo Maret 2003, penjulan Blazer mencapai titik terendah selama dua tahun terakhir, yaitu hanya 20 unit.

Ada apa dengan Blazer? Bukankah sebelumnya produk ini menunjukkan kinerja cukup memikat dengan penjualan rata-rata di atas 100 unit per bulan. Pihak GMI menampik data tersebut. “Justru bulan lalu penjualan Blazer sedikit lebih baik dari bulan sebelumnya,” ungkap Revyta Unsulangie, Asisten Direktur Pemasaran GMI.

Menurutnya tidak ada kendala berarti dalam penjualan Blazer hingga saat ini. “Kami hanya harus memperkuat brand awareness Chevrolet, agar peralihan merek dapat dikomunikasikan dengan baik,” kilahnya, sembari menjelaskan bahwa GMI akan terus berusaha meningkatan brand awareness Chevrolet.

blazer.jpeg


Pakar pemasaran dari Magister Manajemen Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, melihat ada beberapa alasan yang membuat Blazer sulit berkembang di Indonesia. Pertama, Blazer memiliki lawan sangat kuat, yaitu Toyota Kijang. Walau spesifikasinya sangat berbeda, di pasar mau tidak mau Blazer bersaing dengan Toyota Kijang. Kedua, Rhenald menilai Blazer memiliki beberapa kelemahan. Antara lain, boros bahan bakar dan harga suku cadangnya relatif mahal. “Karakteristik seperti itu tidak cocok dengan konsumen Indonesia,” ungkap Rhenald yang pernah memiliki Opel Blazer.

Ketiga, Rhenald juga menilai desain dan konfigurasi mesin Blazer praktis tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Memang ada varian baru yaitu Chevrolet Blazer 4.3 yang menyandang mesin 4.300 cc, 6 silinder dalam konfigurasi V (V6), dan menggunakan penggerak 4 roda (4 x 4). Namun, varian yang satu ini dijual dengan harga jauh lebih tinggi dibanding varian Blazer 2.2.

Rhenald menyayangkan langkah GM mengubah merek Opel menjadi Chevrolet, sebab menurutnya, GM sudah cukup berhasil dalam membangun merek Opel di Indonesia. Diakuinya, Chevrolet memang pernah meraih sukses di pasar Indonesia, tapi kejadian itu sudah sangat lama. Terlebih setelah pergantian merek, GM tidak terlalu aktif mengomunikasikannya. “Sepertinya, mereka hanya setengah hati melakukan perubahan,” kata Rhenald menengarai.

Hal ini tampaknya terkait dengan strategi investasi GM di Indonesia, yang menurut Rhenald bersifat hit and run — setelah membangun pabrik perakitan di Indonesia, GM tidak beraktivitas lain untuk menunjang keberadaannya di sini. Padahal, menurut Rhenald, pasar otomotif Indonesia memiliki prospek sangat baik. Toyota Corp. bahkan memperbesar kepemilikkan sahamnya di PT Toyota Astra Motor, sebab melihat potensi pasar yang besar di Indonesia. “General Motors tidak menjadikan Indonesia sebagai daerah operasional bisnis yang otonom,” ungkapnya, dengan demikian ruang gerak mereka di Indonesia sangat terbatas.

Sebenarnya, dengan reputasi sebagai salah satu raja otomotif dunia GM memiliki potensi sangat besar untuk masuk ke jajaran papan atas di pasar otomotif Indonesia. Nampaknya, potensi ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Jika kondisi ini terus berlanjut, masa depan GM di Indonesia akan semakin tidak menentu, karena selama ini kontribusi Blazer terhadap penjualan GM di Indonesia 50% lebih.

Artikel ini dimuat di Majalah SWA edisi 09/2003, 1 Mei 2003

About these ads

5 responses to “Ada Apa (Lagi) dengan Blazer?

  1. Waduh…
    Sekarang ini GM sudah kalang kabut Pak Rhenald.
    Sekalipun komentar anda dirilis pada tahun 2003,
    pada tahun- tahun itu juga GM sudah sulit bernafas.
    Apa jadinya kalau GM memperbesar pangsa luar
    negaranya dengan menjadikan pabrikan luar negaranya
    menjadi besar, sementara pabrikan dalam negeranya digempur
    habis- habisan oleh pendatang (Toyota, Honda, Nissan,
    dan baru- baru ini Hyunday).
    Perang di dalam negeri sekaligus perang di luar negeri,
    membuat keputusan strategi menjadi ‘simalakama’,
    sekalipun harus dipilih. Dalam hal ini, pantaslah bila GM
    seperti dikatakan: setengah hati. Sekalipun prospek pasar
    di Indonesia sangat baik, tapi bukankah itu baru sekadar
    catatan di atas kertas dan opini yang belum terbukti, sekalipun
    Toyota dan industri perakitan mobil merk Jepan sudah membuktikannya. Tai tidak semuanya, bukan? Contohnya: Mitsubishi jenis sedan, dsb. (Pemetaan pasar baru sekitar perkiraan potensi, bukan kepastian akan potensi dan realisasi dari potensi!)

  2. Service setiap 5000 – 6000 km, bbmnya bisa menggunakan premium, pertamax atau bensin tanpa timbal, tergantung dana mau pakai bbm yang mana. Supaya tarikan bagus sih sebaiknya pakai pertamax.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s