Bait Baru Industri Musik Indonesia

Puluhan triliun uang berputar di jagat industri musik nasional. Walau masih ada masalah besar yang sangat mengganggu, industri ini mulai bangkit lewat model-model bisnis baru.

Sarjana Muda. Album lagu milik Iwan Fals yang diluncurkan pada 1981 ini konon tercatat sebagai album pertama musisi lokal pertama yang berhasil menembus penjualan 1 juta kopi. Album yang mengandalkan lagu Oemar Bakrie tersebut memberi berkah sangat besar bagi Musica Studio yang menaungi Iwan kala itu. Harap maklum, sebelumnya penjualan tertinggi untuk kaset musisi lokal paling banter hanya separuhnya.

Tak hanya Musica Studio, Iwan Fals sebagai pelantun lagu tersebut juga memperoleh penghasilan yang sangat besar dari royalti penjualan album tersebut. Dan sejak itu, musisi bernama asli Virgiawan Listanto ini terus meroket di belantika musik nasional — bahkan sampai saat ini. Hampir semua album yang diluncurkannya laris manis diserap pasar. Kocek pria kelahiran 3 September 1961 ini pun semakin tebal dari pendapatan royalti albumnya.

Memasuki 1990-an, rekor penjualan album Iwan Fals tersebut memang sudah terlampaui. Bahkan, album Bintang di Surga karya Peterpan berhasil mencetak penjualan hingga 2,4 juta kopi. Grup band yang dimotori Ariel ini tak hanya berhasil menaklukkan pasar domestik, tapi juga pasar mancanegara, seperti Singapura, Malaysia dan Brunei.

Berbeda dari era Iwan Fals yang lebih mengandalkan royalti sebagai sumber pendapatan utama, para musisi yang bermain di tahun 2000-an telah dapat memperoleh penghasilan tambahan dari berbagai sumber.

Ya, irama industri musik nasional memang telah mengalami pergeseran. Sebelumnya, penjualan kaset dan CD menjadi pemasukan utama bagi para artis. Kini itu hanya menjadi bagian kecil dari pemasukan total bagi artis. Terlebih, industri rekaman tengah mengalami persoalan yang sangat pelik dan belum juga ditemukan jalan keluar yang tepat, yaitu pembajakan.

Terlepas dari masalah pembajakan, dalam beberapa tahun terakhir industri musik nasional memang sudah menunjukkan tanda-tanda kebangkitannya. Walau jumlah absolutnya terus turun, pangsa pasar kaset dan CD artis lokal terus meningkat jika dibandingkan dengan artis internasional. Berdasarkan data Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri), dalam tiga tahun terakhir, pangsa pasar artis lokal terus meningkat dibanding artis internasional, yaitu dari 73,5% pada 2005, menjadi 82,6% pada 2006, dan tahun lalu pangsa pasarnya kembali meningkat menjadi 85,8%. “Musik Indonesia sudah bisa diterima dan sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ungkap Michael Edwin, GM Asiri.

Jan Djuhana, Direktur Artists & Repertoir (A & R) Senior PT Sony-BMG Music Entertainment Indonesia, menguatkan pernyataan Edwin. Dia menyebutkan, sebelumnya komposisi pemutaran lagu impor dibanding lagu lokal di radio mencapai 80:20, kini berubah menjadi 50:50. “Radio yang masih dominan memutar lagu impor mulai ditinggal pendengarnya,” ujar Jan.

Lolita Malaihollo dari IP Production menyebutkan, salah satu radio besutan grupnya, i-Radio, bahkan hanya memutar lagu dari musisi Indonesia. “Awalnya, banyak orang yang menganggap ini tidak akan berhasil. Yang terjadi malah sebaliknya. Bahkan, radio-radio baru yang menyasar segmen anak muda lebih banyak memutar lagu Indonesia,” kata istri Harvey Malaihollo ini.

Semakin diterimanya musik Indonesia juga melahirkan berbagai bisnis baru yang masih punya kaitan erat dengan musik. Peluang bagi musisi untuk memperoleh pemasukan tambahan dari model bisnis baru itu pun semakin terbuka. Dan uniknya, antara satu bisnis dan bisnis lainnya memiliki keterkaitan yang cukup erat.

Salah satu model bisnis yang memberi kontribusi sangat besar bagi musisi adalah ring back tone (RBT). Menurut Anton Wahyudi, Manajer A & R NuBuzz, RBT merupakan sebuah alternatif distribusi yang saat ini paling diminati label dan artis. Bahkan, Once pernah meluncurkan satu lagu yang hanya ditujukan untuk pasar RBT. “Cara ini lebih cepat mendatangkan uang,” ujar pria yang juga menjadi Music Director Radio Prambors ini.

Anton mengatakan, setiap kali ada pelanggan yang mengunduh RBT, grup musik/penyanyi akan memperoleh royalti sebesar Rp 1.000. Jumlah tersebut setara dengan royalti sebuah album kaset atau CD. Padahal, BRT maksimal hanya 40 detik, sedangkan album rata-rata terdiri dari 10 lagu. Sebagai contoh, Anton menyebutkan, grup band Samsons memperoleh lebih dari Rp 2 miliar hanya dari RBT lagu Kenangan Terindah yang diunduh oleh lebih dari 2 juta user. “Kalau mengandalkan jualan album kaset atau CD, sebuah grup musik/penyanyi harus bisa jualan sebanyak 2 juta kopi baru bisa dapat angka yang sama. Faktanya, menjual 2 juta kopi itu tidak mudah.”

Jika dari satu lagu saja bisa dihasilkan lebih dari Rp 2 miliar, bisa dibayangkan berapa jumlah uang yang berputar di perdagangan lagu yang ditujukan untuk memanjakan orang yang menghubungi nomor telepon konsumen yang mengunduhnya ini. Rata-rata harga lagu yang dipasarkan lewat jalur ini berkisar Rp 7.000-9.000/lagu/30 hari (jika diperpanjang tarifnya turun menjadi Rp 5.000-7.000/lagu/30 hari).

Besarnya penghasilan yang diperoleh musisi dari RBT membuat Indra Thamrin, Pemimpin Redaksi Majalah Rolling Stone Indonesia, menyebutkan bahwa RBT-lah yang membuat industri musik Indonesia semakin bergairah. “Sekarang musisi sudah tidak peduli berapa banyak albumnya yang terjual,” kata Indra, “yang penting, RBT lagu mereka banyak yang membeli.”

Namun, dari sisi kreativitas, menurutnya, ini merupakan kemunduran. Pasalnya, saat ini musisi lebih mementingkan untuk menciptakan reffrain lagu yang bagus, karena itulah yang akan dijual lewat jalur RBT.

Akan tetapi, bukan perkara mudah untuk bisa sampai menjadi RBT yang laris manis. Selain kualitas lagu (khususnya reffrain-nya), awareness orang akan lagu tersebut juga harus tinggi. Karenanya, promo mesti terus digalakkan, baik dalam bentuk iklan, pemutaran lagu di radio, pentas di televisi, maupun menggelar pertunjukan, baik indoor maupun outdoor.

Khusus untuk pertunjukan, saat ini para musisi tidak harus terlalu pusing untuk mencari wadahnya. Pertama, saat ini stasiun TV berlomba meningkatkan rating-nya. Salah satu program yang rating-nya selalu bagus adalah program musik, baik itu berupa pertunjukan langsung (live) maupun tunda. Di luar stasiun TV, kini semakin banyak perusahaan yang memanfaatkan musik sebagai sarana promosi. Sebelumnya, hanya perusahaan rokok yang melirik pentas musik sebagai ajang propaganda merek. Kini, industri perbankan, seluler dan otomotif juga menjadikan musik sebagai salah satu channel promosinya.

Fenomena ini bisa dipahami. Pasalnya, dengan menggelar pertunjukan musik, mereka dengan mudah mengumpulkan orang dalam jumlah banyak. Menariknya, sebagian besar pertunjukan yang disponsori perusahaan tersebut bisa disaksikan secara cuma-cuma.

Bagi para musisi, ini jelas tambang emas. Pasalnya, mereka bisa memperoleh penghasilan tambahan dalam jumlah yang cukup besar. Saat ini, rata-rata tarif musisi lokal setiap kali manggung sebesar puluhan juta hingga ratusan juta. Padahal, dalam sebulan biasanya mereka manggung di banyak tempat.

Grup band Gigi misalnya. Menurut Dani Wijanarko, Manajer Gigi dari Pos Entertainment, jadwal manggung grup yang dimotori Dewa Budjana dan Armand Maulana itu tergolong cukup padat. “Pernah dalam satu hari show di tiga tempat,” ungkap Dani. Terlebih, grup yang termasuk senior di belantika musik Indonesia ini pun tergolong cukup cerdik menyiasati pasar. Menjelang bulan Ramadan, mereka meluncurkan album religi, sehingga tawaran manggung selama bulan suci itu pun tidak pernah sepi.

Banyaknya event musik yang digelar di hampir semua daerah juga melahirkan peluang bisnis baru. Khususnya di daerah, kini banyak bermunculan perusahaan di bidang event organizer. Memang tidak ada data pasti untuk yang satu ini, tapi nilai pasarnya diperkirakan juga cukup besar, dan yang penting adalah turut menggerakkan roda perekonomian di daerah tersebut.

Banyaknya konser musik berpengaruh pula terhadap penjualan album dari musisi yang akan pentas. Tatkala akan manggung di satu daerah tertentu, biasanya perusahaan rekaman yang menaungi musisi tersebut sudah terlebih dulu menyuplai album musisi yang bersangkutan ke toko kaset dan CD di wilayah tersebut. Kendati termasuk channel tradisional, peran toko kaset dan CD masih cukup penting dalam menopang industri musik nasional.

Selain RBT, ada beberapa channel distribusi baru yang juga muncul. Sejak tahun 2005, tiga pentolan musik Indonesia, Anang, Abdee Slank dan Indra Lesmana — sekarang tinggal Anang dan Abdee saja — mendirikan toko musik digital bernama Independent Music Portal (IM:Port). Anang mengatakan, IM:Port didirikan karena mereka punya feeling bahwa format penyimpanan lagu di masa depan akan berubah dari model kaset atau CD menjadi format digital seperti MP3 dan WAV.

Kini tiga tahun telah berlalu, ternyata perkiraan Anang agak meleset. Meski tidak menyebut angkanya, kemajuan IM:Port tidak seperti yang diperkirakan semula. “Soalnya, perkembangan infrastruktur musik digital di Indonesia masih kurang mendukung,” ujar suami penyanyi Krisdayanti ini.

Meski demikian, bukan berarti channel ini mandek sama sekali. Saat awal berdiri, hanya 10 ribu lagu yang tersedia di situsnya, sedangkan kini jumlahnya mencapai puluhan ribu lagu. Adapun jumlah musisi, baik individual maupun grup, yang tergabung terdapat sekitar 5 ribu. Dengan harga per lagu Rp 5 ribu untuk lagu penuh dan ring tone serta Rp 9 ribu untuk nada tunggu, kini IM:Port mampu mendistribusikan hingga 30.000 lagu per bulan.

Selain IM:Port, dalam waktu dekat juga akan hadir jalur distribusi musik baru. Yoris Sebastian, Creative Director OMG, menyebutkan bahwa ia tengah menyiapkan sebuah proyek yang disebut Dr. M (Digital Right Management), yaitu menjual lagu secara digital dengan memanfaatkan telepon seluler. Berbeda dari RBT yang sifatnya temporer, Dr. M memungkinkan konsumen memiliki lagu tersebut secara permanen pada ponselnya. “Industri seluler sangat potensial, karena Indonesia memiliki seratus juta pengguna ponsel,” kata Yoris.

Mantan GM Hard Rock Cafe Jakarta ini menyebutkan bahwa pola ini telah berkembang di Inggris, dan terbukti tidak bisa dibajak. “Saya bekerja sama dengan Telkomsel dan rencananya akan diluncurkan Juni ini,” ujarnya seraya menyebut proyek pertamanya adalah album Nugie berjudul Lentera Jiwa.

Perkembangan musik Indonesia yang terus membaik juga menggoda PT Fast Food Indonesia Tbk. (FFI), master franchise Kentucky Fried Chicken (KFC) di Indonesia, untuk mendirikan perusahaan rekaman, yang juga berfungsi sebagai manajemen artis dan event organizer bernama PT Music Factory Indonesia (MFI) pada Juli 2006.

“MFI adalah label rekaman pertama yang didirikan atas kepentingan suatu brand,” ujar Fabian Gelael, Direktur Operasional FFI. Menurutnya, dengan musik, merek-merek yang ada — termasuk KFC — bisa lebih mudah menyasar segmen anak muda. Karena itulah, setiap saat MFI mencari musisi, baik grup maupun individu, yang bisa menjadi the next star di pentas musik Indonesia sekaligus meng-endorse merek KFC di kalangan anak muda.

Dalam kerja sama ini, FFI membiayai semua proses yang terkait dengan peluncuran album, mulai dari iklan TV, radio, public relations, billboard, video klip, road show, hingga biaya produksi CD. Sementara MFI bertanggung jawab mengelola serta mencari musisi baru, lagu dan strategi pemasarannya. MFI juga mencari partner perusahaan untuk promo-promo musiknya.

Hingga saat ini, MFI sudah menelurkan empat album, yaitu dua album kompilasi bertajuk KFC Music Hit List volume 1 dan 2, satu album band Juliette dan satu album band Antique. Fabian mengatakan, dengan kekuatan 377 gerai KFC, 98% penjualan MFI diraih melalui KFC. Setiap bulan, tak kurang dari 40 ribu keping CD seharga Rp 30.000-35.000 per keping laku terjual.

Besarnya peluang yang dijanjikan industri musik juga turut mendorong lahirnya musisi-musisi baru, khususnya grup band. Bahkan, karena saking banyaknya, muncul istilah calon band baru. Pasalnya, banyak di ataranya hanya sekadar lewat, mengeluarkan satu album, kemudian menghilang.

Lahirnya grup band baru salah satunya juga ditunjang oleh para musisi senior yang kini juga mengambil peran sebagai produser. Ambil contoh Ahmad Dhani. Pentolan grup Dewa 19 ini berhasil melahirkan beberapa artis yang tergolong cukup sukses, sebut saja Ratu, Dewi-Dewi, Mulan Jameela, Andra and the Back Bone, serta The Rock. Demikian juga Piyu. Gitaris grup Padi ini juga sukses melambungkan grup band Drive.

Di samping itu, banyak juga lahir grup band yang menganut aliran antikemapanan atau yang biasa disebut indie. Kurang mendapat tempat di dunia musik Indonesia dulunya, kini indie kian menunjukkan tajinya. Beberapa grup indie bahkan bisa mencetak penjualan di atas grup yang dinaungi major label. Tak mengherankan, banyak grup indie yang akhirnya “ditangkap” oleh major label, seperti Pas Band, The Changcuters dan Mocca.

Kelahiran grup musik baru juga turut mendongkrak penjualan alat musik. Berdasarkan data Asosiasi Penjual Alat Musik Indonesia, dalam dua tahun terakhir, nilai pasar industri peralatan musik di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup besar, yaitu dari Rp 525 miliar (2006/07) menjadi Rp 570 miliar (2007/08), di mana alat yang paling laris adalah gitar dengan penjualan mencapai Rp 50 miliar (2006/07) dan Rp 55 miliar (2007/08). Yang cukup melegakan, 25% dari gitar yang terjual tersebut adalah buatan Indonesia.

Industri musik memiliki keterkaitan pula dengan industri kreatif lainnya. Kini semakin banyak musisi yang berperan sebagai bintang iklan atau malah duta sebuah merek.

Dari paparan di atas, tampak sangat jelas bahwa industri musik menjanjikan potensi yang sangat besar. Dan yang juga patut diperhitungkan adalah lahirnya bisnis-bisnis turunan yang turut berperan dalam menggerakkan perekonomian negara. Hanya saja, saat ini ada satu pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan bersama, yaitu memerangi pembajakan.

Yoris mengatakan, industri musik di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Dan uniknya, dibanding industri lain, industri musik merupakan industri yang paling sedikit meminta proteksi pemerintah. Namun, khusus untuk mengatasi masalah pembajakan yang dihadapi saat ini, para pelaku industri musik tetap butuh bantuan pemerintah, khususnya dalam hal penegakan hukum. “Jika dibiarkan terus seperti ini, industri ini bisa kembali terkulai,” ujarnya menandaskan.

Artikel ini dimuat di Majalah SWA

edisi 12/2008, 12 Juni 2008

2 responses to “Bait Baru Industri Musik Indonesia

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s