Saatnya Employer Branding

Laiknya produk, perusahaan pun perlu melakukan aktivitas branding untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik. Sayang, belum banyak perusahaan lokal yang menerapkannya.

not predictable
not stereotyped
not conventional
not like everybody else
an experienced professional
but not just any experienced professional

The way the world does business has changed forever. To survive and flourish in this are, every business must differentiate itself from the competition. Every company must innovate and become special. We have always delivered technology innovation to our customers. Now we partner with them in their business and help them become a special company, and to stay special. To make our customers special, we need people who are above the ordinary. Who have the confidence, the enthusiasm and the insights to partner with customers and deliver solutions that have a significant positive impact on their business. And who build strong, lasting relationship with them.

We are looking for : ……

Demikian tertulis dalam sebuah pariwara di harian nasional terkemuka. Adalah IBM yang memasang pariwara sepertiga halaman tersebut. Perusahaan yang cukup terpandang di bidang teknologi informasi ini tengah mencari beberapa orang untuk mengisi beberapa posisi yang tengah lowong.

Pariwara yang ditampilkan sangat berbeda dibandingkan dengan iklan lowongan kerja lainnya. Dalam pariwara tersebut, cukup detail disebutkan value perusahaan, juga value yang diinginkan dari calon pelamar. Ini secara tidak langsung sudah menjadi saringan awal. Singkatnya, ingin disampaikan bahwa jika seseorang tidak cocok atau tidak memiliki value seperti yang diinginkan, tidak perlu repot-repot mengirimkan lamaran. “Dalam setiap rekrutmen karyawan, kami berupaya selalu meng-hire the best people yang potensial menjadi future leaders,” ujar Audrey Wardana, Country Manager Human Resources PT IBM Indonesia, sambil menjelaskan bahwa ada tiga value yang ditanamkan perusahaannya, yakni Customer Satisfaction, Innovation that matter, Trust & Responsibility.

Kini, bandingkan dengan kebanyakan pariwara lowongan kerja. Sebagian besar hanya menyebut nama perusahaan berikut posisi yang tersedia serta kualifikasi yang diinginkan. Bahkan, tidak sedikit yang “alpa” mencantumkan nama perusahaannya. Alamat pengirimannya pun hanya PO Box. “Mind set kebanyakan perusahaan di Indonesia masih ingin mengumpulkan database calon karyawan sebanyak-banyaknya,” ungkap Christian Siboro, Konsultan Hay Group.

Timpangnya pasokan dan permintaan di pasar tenaga kerja membuat banyak perusahaan di Indonesia merasa tidak perlu memaparkan nilai-nilai perusahaannya untuk menarik minat calon tenaga kerja. Dengan pasokan yang masih relatif tinggi (secara kuantitas), mereka merasa mudah memperoleh tenaga kerja yang diperlukan.

Selain itu, paradigma manajemen SDM kebanyakan masih bersifat short term, sehingga keperluan mendapat SDM terbaik dan sesuai dengan kebutuhan hanya dilihat sebagai kebutuhan sekunder dibandingkan dengan peningkatan penjualan, pelayanan pelanggan dan kondisi finansial perusahaan. “Seakan-akan kompetisi hanya berkaitan dengan kompetisi produk di pasar dalam merebut konsumen. Padahal, kompetisi yang lain juga terus meningkat, yaitu kompetisi talenta (talent war) di pasar tenaga kerja dalam merebut potensi SDM terbaik,” ujar Christian yang akrab disapa Chris.

Kenyataan tersebut, menurut Chris, menjadi penyebab minimnya perusahaan di Indonesia yang menerapkan konsep employer branding seperti yang dijalankan IBM. Employer branding singkatnya adalah “building an image in the minds of current employee and the potential labour market that the company, above all others is a great place to work” seperti dikutip Wikipedia.

Umumnya, perusahaan yang sadar arti penting branding ini adalah perusahaan multinasional yang sudah well-established,” ujar Chris. Entah mengapa perusahaan lokal belum terlalu memperhatikan dengan baik aspek ini. Padahal, di tengah kondisi perang memperebutkan talenta, employer branding bisa menjadi alat menarik orang-orang terbaik.

Memang, untuk menerapkan konsep tersebut, perusahaan harus melakukan investasi branding, seperti halnya branding produk. Namun, tentunya ada banyak jalan melakukan employer branding yang cerdas tanpa perlu menggelontorkan uang banyak. Tampaknya, “Perusahaan (banyak yang) belum melihat link antara employer branding dan peningkatan kinerja perusahaan,” kata Chris. “Padahal, dengan memperoleh talenta yang tepat sesuai dengan kebutuhan, dan kemudian talenta tersebut memberikan kinerja yang unggul, produk/jasa yang ditawarkan perusahaan dapat meningkat kualitasnya dan laku di pasaran,” lanjut lelaki berkacamata ini.

Agus W. Soehadi, Direktur Program S-1 Bisnis Prasetiya Mulya Business School, sependapat dengan Christian. Menurutnya, employer branding sangat diperlukan untuk menyaring orang-orang yang masuk ke perusahaan. “Jadi, orang-orang yang masuk adalah yang sesuai dengan budaya perusahaan, atau paling tidak budayanya tidak jauh dari yang diinginkan perusahaan,” ujarnya.

Sandra Sahupala, Direktur SDM & Admin PT Coca-Cola Indonesia (CCI), memperkuat pendapat Chris dan Agus. Ia mengatakan, employer branding adalah bagaimana suatu perusahaan memosisikan dirinya untuk membawa citra dirinya ke arah perusahaan (employer) idaman. Ini diwujudkan melalui sejumlah aksi atau inisiatif dalam rangka memperoleh atau menjaga citra sebagai perusahaan idaman. Lantas, bagaimana melakukannya?

Chris menjelaskan, pada dasarnya prinsip kerja employer branding tak ubahnya membangun merek untuk suatu produk atau jasa. Employer branding adalah proses untuk menemukan, menganalisis, mendefinisikan dan mengomunikasikan aset unik dari perusahaan. Aset unik ini adalah citra perusahaan yang dilihat dari mata karyawan dan calon karyawan potensial. Seperti halnya consumer atau product branding, ini adalah mengenai hubungan emosional, tetapi antara perusahaan dan karyawan/masyarakat luas, bukan antara produk dan konsumen. “Yang ditekankan adalah menancapkan image yang kuat di benak para pencari kerja, karyawan yang sudah lebih dahulu ada, mitra dan juga lingkungan sekitar,” ujarnya.

Sandra mengatakan, employer branding terdiri atas berbagai inisiatif, baik yang terprogram ataupun tidak. Contoh inisiatif yang terprogram adalah berpartisipasi dalam job fair. Pada saat job fair, CCI membuat presentasi tentang value perusahaan, dan program pengembangan karyawan yang dijalankan. Namun karena CCI adalah marketing company, pada saat job fair Sandra tidak hanya mengajak bagian SDM, tapi juga bagian pemasaran, untuk menjelaskan apa yang dibutuhkan pemasar yang baik ala Coca-Cola. “Biasanya audiensnya adalah mahasiswa yang sebentar lagi lulus,” katanya. Adapun inisiatif yang tidak terprogram, ia menambahkan, lebih ditujukan kepada karyawan yang sudah bekerja di CCI, seperti perlakuan adil bagi seluruh karyawan, open door policy, atau memberi bantuan kepada karyawan yang terkena musibah.

Sebetulnya, kepada karyawan yang sudah bergabung, inisiatifnya pun terprogram. Pasalnya, kesuksesan employer branding terletak pada kemampuan perusahaan atau organisasi mewujudkan apa yang selama ini menjadi janjinya (deliver its promise), baik ke pasar kerja maupun karyawan internal. Harapannya, bila karyawan puas, mereka akan berkomitmen dan bisa menjadi duta yang baik ke pihak luar dengan menceritakan betapa baiknya tempat ia bekerja.

Itulah sebabnya, IBM menunaikan janjinya tentang pengembangan talenta terbaik yang telah bergabung. Perusahaan ini punya banyak program pelatihan dan pengembangan. “Kami juga memiliki program yang bisa dibilang jarang ditemukan di perusahaan sejenis, yakni program Career and Life Balance,” ujar Audrey. Ia menjelaskan, inti program tersebut adalah menyeimbangkan kehidupan pribadi dan kehidupan profesional karyawan dengan menawarkan pilihan kerja yang fleksibel, seperti flexible workweek schedules, working from home, part time employment, dependant child care, family counselling, leave of absence programs dan educational scholarships.

Tawaran tersebut tentunya tak akan diberikan ke sembarang orang. Karena itulah, IBM hanya ingin mendapatkan talenta terbaik. Dan, employer branding menjadi salah satu caranya. Orang melakukan personal branding, maka perusahaan sudah saatnya serius melakukan employer branding.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s