Yamaha Tancap Gas

Berkat keberaniannya meluncurkan sejumlah varian baru, penjualan sepeda motor Yamaha melesat bak Valentino Rossi yang melaju kencang di sirkuit. Akankah berhasil menyalip Honda?

Yoshiteru Takahashi tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat menunjukkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) tentang penjualan sepeda motor sepanjang 2005 dan awal 2006. Yamaha memang masih di posisi kedua di bawah seteru abadinya, Honda. Namun, pencapaian tersebut tetap punya arti istimewa bagi Presiden Direktur PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing dan PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) itu. Pasalnya, selain berhasil meraih pertumbuhan penjualan hingga 40,1%, Yahama juga satu-satunya produsen sepeda motor yang pangsa pasarnya tetap tumbuh pada periode itu.

Berdasarkan data AISI, sepanjang 2005 Yahama berhasil meningkatkan pangsa pasarnya dari 22,5% menjadi 24,2%. Pada saat yang sama, Honda sang penguasa pasar malah mengalami penurunan pangsa pasar dari 52,4% menjadi 52,2%. Demikian juga Suzuki, melorot 0,2%, dari 21,7% menjadi 21,5%.

Sampai di situ, Honda tidak harus terlalu khawatir. Toh, pangsa pasar Yamaha belum separuh Honda. Namun, memasuki 2006 – di saat pasar tengah lesu, akselerasi Yamaha semakin cepat. Januari 2006, Yamaha berhasil mencetak penjualan 105.025 unit atau setara dengan 39,4% pasar. Pencapaian tersebut hanya terpaut 10 ribuan unit dari penjualan Honda sebanyak 116.873 unit (43,8%). Adapun penjualan Suzuki anjlok drastis, hanya 39.469 unit (14,8%).

Lebih istimewa lagi, Yamahalah satu-satunya produsen sepeda motor yang penjualannya mengalami pertumbuhan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, Pada bulan pertama 2005, penjualan Yamaha 83.114 unit, sementara Honda 208.204 unit dan Suzuki 83.845 unit.

Memasuki Februari, laju Yamaha semakin tidak tertahan. Kendati kembali ditinggal Honda, Yamaha kembali menjadi satu-satunya produsen yang berhasil meningkatkan penjualan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Februari 2006 Yamaha mencatat penjualan 123.809 unit atau meningkat 57,4% dari Februari 2005 yang hanya 78.640 unit, sedangkan penjualan Honda kembali menciut dari 192.320 unit menjadi 168.916 unit. Nasib Suzuki lebih buruk lagi. Pada Februari 2005 perusahaan yang menjadikan Basuki sebagai endorser-nya ini meraih penjualan 82.381 unit, dan pada Februari 2006 hanya 32.600 unit.

Menurut Dyonisius Beti, Vice President Director YMKI, seperti slogan yang dikedepankan Yamaha, “Selalu Terdepan”, dalam tiga tahun terakhir akselerasi penjualan sepeda motor Yamaha meningkat sangat pesat. “Bukan asal menjadi slogan, tiga tahun lalu sebelum Takahashi San datang, Yamaha masih nomor tiga, sekarang kami berhasil naik jadi nomor 2,” tuturnya memuji bosnya yang berkebangsaan Jepang itu. Pangsa pasar Yamaha tumbuh dari 15% menjadi 37% hanya dalam dua tahun.

“Salah satu kunci sukses kami adalah meluncurkan banyak model,” ujar Takahashi menjelaskan. Dengan strategi itu, Yamaha dapat terus tumbuh, dalam keadaan pasar lesu sekalipun. “Saya berharap yang lainnya juga lebih agresif, bukan cuma Yamaha. Kami semua mitra yang sama-sama menginginkan pertumbuhan di industri ini.”

Dyon – sapaan akrab Dyonisius – menambahkan, tumbuh sendiri bukanlah yang diharapkan Yamaha. Menurutnya, kompetisi memang merupakan suatu keharusan, tapi bukan untuk mematikan pesaing. Kompetisi seharusnya dalam hal menawarkan yang terbaik bagi pelanggan. Sayangnya, yang terjadi belakangan ini adalah perang diskon di antara merek-merek yang sudah kuat. “Kami tidak mau terjebak di situ.”

Dyon mengatakan, Yamaha hanya ingin berkompetisi dalam hal kualitas dan produk yang bagus demi memuaskan pelanggan. “Kalau Yamaha ikut, konsumen akhirnya pasti bakal meragukan kualitas kami,” ujarnya tegas. Menurutnya, memberi murah dengan dalih diskon pasti akan mengorbankan kualitas. Dan itu jelas tidak baik bagi konsumen. Yamaha malah melawan arus dengan rajin berpromosi agar konsumen tidak tergoda diskon gede-gedean yang ditawarkan pemain lain. “Dengan menjaga harga, terbukti resale value Yamaha lebih tinggi ketimbang merek lainnya. Dan itu juga kami iklankan.”

Lebih jauh lagi Takahashi menggambarkan, di dealer bukan tidak sedikit pelanggan kecewa akibat perang harga yang dilakukan pesaing. Terutama karena tahu, meski motornya sama, lantaran beli belakangan bisa mendapat diskon. “Kami tidak mau pemilik Yamaha kecewa seperti itu.”

Daripada terjebak dalam perang diskon, Yamaha lebih memilih melengkapi portofolio produknya. Harus diakui, ketimbang produsen lain, jumlah varian yang ditawarkan Yamaha jauh lebih lengkap. Saat ini Yamaha menawarkan 9 model sepeda motor yang ditujukan untuk segmen konsumen yang berbeda. Di segmen sepeda motor bebek, Yamaha menawarkan beberapa varian dengan harga Rp 10-14 juta. Di segmen ekonomis, hadir Vega R dengan slogan “Menjawab Semua Impian” yang berkarakter irit, bandel dan berkualitas, serta motor 2 tak F1ZR dengan harga Rp 10-12 juta. Naik lebih tinggi, ada Jupiter Z dengan harga Rp 12-an juta. Di kelas premium, Yamaha menawarkan sepeda motor yang di iklannya dapat meruntuhkan jembatan, Jupiter MX, dengan kapasitas mesin 135 cc – tertinggi di antara motor bebek merek lainnya – dengan harga sekitar Rp 14 juta.

Di kelas sepeda motor sport, Yamaha mengandalkan produk legendarisnya, motor 2 tak RX King yang hadir sejak pertengahan 1970-an dan Scorpio Z (4 tak). Terakhir, Yamaha memiliki varian yang tidak dimiliki pesaing utamanya (Honda dan Suzuki), yaitu motor otomatis Nouvo dan Mio. Yang disebut terakhir malah dikhususkan untuk segmen wanita. “Varian kami paling luas,” ucap Dyon.

Kendati banyak meluncurkan varian baru, Yamaha konsisten mempertahankan citranya sebagai motor kencang – maklum, cukup lama pabrikan motor ini mengandalkan motor 2 tak. Apalagi, pabrikan berlambang garpu tala ini tergolong cukup getol menggelar berbagai event balap, dari tingkat lokal, regional hingga dunia. Hebatnya, sepanjang tahun lalu pembalap yang disponsori Yamaha berhasil mencapai prestasi tertinggi di sirkuit. Di tingkat nasional, Hokky Krisdiyanto, Donni Tata dan Harlan Fadhillah meraih juara di kelas masing-masing. Di tingkat ASEAN, Donni Tata juga juara. Dan di level dunia, semua orang tahu, Valentino Rossi setelah hijrah dari Honda ke Yamaha pun tetap mempertahankan dominasinya di MotoGP. “Ini pengakuan Yamaha menjadi produk yang performanya bagus. Bukan cuma image,” ujar Takahashi bangga. Dengan keunggulan itu, ia menambahkan, Yamaha merasa tidak perlu ikut perang diskon seperti merek lain. “Ini yang membuat konsumen confident dengan Yamaha,” ucap Takahashi yang mengendalikan Yamaha di Indonesia sejak tiga tahun lalu.

Takahashi mengatakan, sejak tiga tahun lalu, konsentrasi Yamaha tidak hanya pada pemasaran. Yamaha percaya, unggul dalam hal pemasaran belaka tidak bakal berhasil memberikan nilai tambah buat konsumennya. Itu sebabnya, teknologi juga menjadi perhatian. Ini dibuktikan dengan memperkenalkan bebek 135 cc yang memakai sistem pendingin radiator, teknologi piston aluminium termaju, juga DiASil Cylinder berupa silinder mesin motor yang 30% lebih ringan dan 60% lebih efesien dalam hal pendinginan dibandingkan dengan blok silinder biasa.

Dyon menambahkan, operasi Yamaha di Indonesia merupakan kombinasi keunggulan riset & pengembangan teknologi Jepang dengan kemampuan pemasaran orang lokal. Karenanya, sejak dua tahun lalu corporate brand yang ditonjolkan Yamaha di Indonesia adalah “Selalu Terdepan”. Dengan strategi merek ini, Yamaha memiliki dua misi yang ingin disampaikan: untuk eksternal dan internal. “Untuk eksternal, faktanya semua tahu motor Yamaha performanya lebih baik. ‘Selalu Terdepan’ juga menjadi spirit internal mulai pegawai sampai dealer untuk memacu semangat lebih maju,” tuturnya bangga.

Yamaha berani pula memperkenalkan jenis motor baru yang sebelumnya diyakini bakal kurang bisa diterima konsumen Indonesia. Ambil contoh ketika Yamaha masuk ke segmen motor otomatis. Yamaha memang bukan yang pertama masuk ke segmen itu, sebelumnya sudah ada Kymco (Taiwan) yang bekerja sama dengan Grup Lippo lewat produknya Jet Matic. Namun, Kymco kurang berhasil penjualannya.

Itu tidak menghambat niat Yamaha. Yamaha sudah memperkenalkan model motor otomatis di Jepang sejak 1977. Saat itu permintaan baru 1,2 juta, dan sebagian besar adalah motor transmisi manual. Kala itu, Yamaha menggunakan nenek-nenek, Kaoru Yashigusa, sebagai bintang iklan model motor otomatis pertama kalinya, Passol. Tiga tahun kemudian, yang terjadi: 70% motor adalah otomatis, sisanya transmisi manual. Sekarang di Jepang malah hampir 90% motor otomatis, Taiwan 100%. Itu yang bakal terjadi di Indonesia. “Di sini Yamaha tidak mau ketinggalan,” Dyon menegaskan.

Dengan lihai Yamaha melakukan penyesuaian untuk model motor otomatisnya, Nouvo. Tidak seperti Kymco – produknya yang dijual di sini persis sama dengan di negara asalnya – lingkar ban Nouvo dibuat lebih besar layaknya motor bebek, sesuai dengan karakter jalan di Indonesia yang tidak semua beraspal mulus. Terbukti, penjualan Nouvo jauh lebih baik ketimbang Kymco.

Langkah nekat berikutnya, meluncurkan Mio yang menyasar segmen wanita. Tak sedikit kalangan yang meragukan Mio akan sukses. Toh, itu semua dianggap angin lalu. Yamaha tetap yakin Mio bakal sukses. “Populasi wanita Indonesia mencapai 50,3%, dan 13% yang naik sepeda motor. Ini kesempatan yang sebelunya diabaikan pabrikan lain,” ucap Dyon. “Kami punya strategi menawarkan desain, teknologi dan konsep baru untuk konsumen di seluruh dunia. Itu mengapa Yamaha juga mempelopori model atraktif untuk segmen wanita di Indonesia,” Takahashi menimpali.

Keyakinan Yamaha ternyata terbukti. Segmen motor otomatis menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar bagi Yamaha. Dyon memaparkan, di segmen motor otomatis penjualan Yamaha tumbuh beberapa kali lipat. Dari hanya sekitar 16 ribu unit pada 2003, menjadi 67 ribu unit pada 2004, berlanjut ke 180-an ribu unit pada 2005. “90% di antaranya disumbang Mio. Kami harus membayar harga yang mahal sekali untuk edukasi pasar. Tapi setelah konsumen tahu, kami juga menikmatinya.”

Naik tiga kali lipat dalam tiga tahun di Indonesai bisa dibilang pertanda awal fenomena beralihnya teknologi dari manual ke otomatis. Tak mengherankan, keberhasilan Yamaha di segmen motor otomatis membuat dua pabrikan motor Jepang lainnya tergoda. Tahun ini, baik Honda maupun Suzuki berencana masuk ke segmen ini. “Tahun ini, kami akan meluncurkan beberapa model baru, salah satunya model otomatis. Pastilah modelnya akan lebih bagus dari yang ada di pasaran saat ini,” ungkap Yohanes Hermawan, Direktur Pemasaran PT Astra-Honda Motor.

Februari lalu, Yohanes menuturkan, Honda meluncurkan motor otomatis di Thailand dan terbukti mendapat respons pasar yang bagus. Yang pasti, ia menyebutkan, Honda Click – skutik bermesin 110 cc – bakal tampil dengan beberapa kelebihan. Ia menampik jika disebutkan bahwa masuknya Honda ke segmen ini terinspirasi suksesnya Yamaha. “Itu tak lepas dari pengaruh pertumbuhan pasar yang baru tercipta. Di Jepang dan Taiwan sudah lama hadir, akan ada waktunya juga sampai ke sini.”

Senada dengan Honda, Suzuki pun berencana meluncurkan varian motor otomatisnya tahun ini juga. Menurut Subronto Laras, Presdir PT Indomobil Suzuki International, tahun ini Suzuki akan meluncurkan beberapa varian baru, termasuk skuter otomatis. “Produk baru itu untuk mengatasi pasar yang lesu dan penjualan Suzuki yang mengalami penurunan sekitar 30% awal tahun ini. Kehadiran skuter ini masih akan disusul beberapa produk terbaru lainnya.”

“Kalau semua kompetitor memperkenalkan model otomatis, bakal terjadi berkembangan besar-besaran. Kami lebih happy jika kompetitor juga masuk ke segmen ini. Jika hanya Yamaha sendiri, jelas tidak mudah membawa mass market untuk lompat parit,” ujar Takahashi mengomentari rencana turun tandingnya Honda dan Suzuki. “Itu artinya akselerasi pasar makin berpeluang tumbuh menjadi makin besar,” ucapnya bersemangat. Yamaha tentu tidak bakal menyia-nyiakan predikat sebagai pionir dan pemimpin pasar yang sejauh ini berhasil dirintis. “Orang bakal ingat terus, otomatis adalah Yamaha, kami akan lebih enjoy lagi.”

Selain inovasi baru dan rentang produk yang terluas, Yamaha juga agresif mengembangkan jaringan dealer. “Tahun lalu kami menambah 140 dealer baru, total menjadi 1.100 dealer yang sudah dimiliki,” kata Dyon. Sejak tiga tahun lalu, Yamaha menyederhanakan sistem distribusinya, yaitu dari pabrik langsung ke dealer. Sebelumnya, antara pabrik dan dealer ada perantara yang disebut main dealer. “Itu cara kami untuk semakin dekat dengan konsumen.”

Yamaha pun giat mempromosikan hampir seluruh varian yang dimilikinya. Iklan-iklan kocak Yamaha yang dibintangi Komeng, Dedi Mizwar, Didi Petet, dkk., rajin muncul di berbagai media (terutama televisi). Berdasarkan pantauan Nielsen Media Research, tahun 2005 belanja iklan Yamaha Rp 285 miliar, jauh lebih besar dari Suzuki yang menghabiskan Rp 263 miliar, tapi masih kalah dari Honda yang membelanjakan Rp 295 miliar.

Memasuki 2006, Yamaha lebih berani lagi menggeber aktivitas komunikasi above the line-nya. Hingga Februari 2006, Yamaha mengeluarkan Rp 49,4 miliar, meninggalkan Honda (Rp 44,39 miliar) dan Suzuki (Rp 37,97 miliar).

Pengamat pemasaran yang juga pendiri OctoBrand, Sumardi, menyebutkan bahwa keberhasilan Yamaha tak lepas dari keberaniannya meluncurkan varian-varian baru. Sehingga, konsumen memiliki lebih banyak pilihan yang dapat disesuaikan dengan selera dan kemampuan daya belinya. “Inovasi Yamaha cukup lumayan dari sisi produk, tidak salah kalau mengklaim paling terdepan,” ujarnya. Dan tak lupa, Yamaha pun terus berupaya mengembangkan jaringannya.

Menurut Sumardi, Yamaha juga konsisten mengangkat citranya dengan berbagai kegiatan yang digelar, baik di sirkuit maupun pada event lain. “Terakhir, malah menggelar touring keliling ASEAN untuk produk terbaru guna menonjolkan performanya ke publik.”

Meski terlihat sangat agresif mengembangkan pasar di Indonesia, Yamaha seolah-olah tidak terlalu berambisi menggeser posisi Honda. “Slogan ‘Selalu Terdepan’ tidak dimaksudkan ambisi mengambil alih pasar dari sisi kuantitas belaka, tapi ambisi terdepan dalam memberikan layanan terbaik, terdepan dalam memberikan kepuasan pada pelanggan dan memberikan kontribusi terbesar untuk komunitas dan masyarakat Indonesia. Menjadi nomor satu bagi kami menjadi perusahaan yang sehat dan kepuasan pelanggan,” ujar Dyon diplomatis.

“Jika kami hanya berpikir mengejar market share, nanti malah pelanggan kami lupakan,” Takahashi menimpali. Menjadi merek yang jauh merasuk ke hati pelanggan adalah filosofi Yamaha di seluruh dunia, “Kami menyebutnya Kando, — Touching your heart — sebagaimana slogan dunia kami.”

Baik Takahashi dan Dyon sepakat, tahun ini adalah tahun yang paling berat menyusul kenaikan harga BBM Oktober tahun lalu. “Buying power turun tajam, pasar diperkirakan turun 10% dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” kata Takahashi. Namun, Yamaha tetap optimistis. Walau pertumbuhannya tidak seagresif tahun lalu, mereka yakin, tahun ini mampu mencapai angka penjualan 2 juta unit.

Tulisan ini dimuat di Majalah SWA edisi 08, 20 April 2006

20 pemikiran pada “Yamaha Tancap Gas

  1. mio gue pandang punya aplikasi teknologi yang bisa dijejalkan sehingga mampu ditingkatkan kapasitas cc dan akselerasinya. beda dengan suzuki and honda.
    selalu yang teririt geto

  2. Honda rebut lagi posisi puncak

    JAKARTA: Persaingan antarprodusen kendaraan roda dua semakin memanas. Berdasarkan penjualan pada April, Honda berhasil merebut kembali posisi puncak pasar sepeda motor nasional setelah sempat diambil alih Yamaha pada Maret.

    Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang diperoleh Bisnis, Honda yang diproduksi dan dipasarkan oleh PT Astra Honda Motor (AHM) pada April berhasil membukukan penjualan sebanyak 138.434 unit.

    Sementara itu, Yamaha yang diageni oleh PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) hanya berhasil melego 129.270 unit. Dengan demikian, antara kedua merek yang berseteru ini terdapat selisih angka penjualan sebanyak 10.164 unit.

    Pada bulan sebelumnya (Maret), Yamaha untuk pertama kali sepanjang sejarah industri otomotif nasional, berhasil merebut posisi pemimpin pasar sepeda motor Indonesia yang selama puluhan tahun dipegang oleh Honda.

    ?Meski terjadi pergeseran posisi, kedua merek motor ini ternyata mencatat penurunan penjualan pada April dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Maret, penjualan Honda tercatat 151.127 unit? sedangkan Yamaha 160.235 unit.

    Angka penjualan ini disusun sesuai laporan dari setiap produsen kepada AISI berdasarkan jumlah kendaraan yang dikirim dari pabrik ke diler atau biasa disebut penjualan whole sales.

    Pelaku bisnis di industri sepeda motor juga mengenal versi lain di bidang penjualan yaitu ritel sales, atau jumlah kendaraan yang dikirim dari diler ke konsumen. Sayangnya, sampai kini belum diperoleh laporan penjualan merek lain.

    Menanggapi keberhasilan Honda kembali merebut mahkotanya di pasar motor nasional, Direktur Pemasaran PT AHM Johannes Loman mengatakan akan terus mempertahankan kepemimpinan Honda ini.

    Ke depan, lanjutnya, Honda akan terus mengurangi jumlah stok sepeda motor yang ada di diler.

    Loman optimistis keunggulan Honda atas Yamaha akan berlanjut di bulan berikutnya menyusul kehadiran model terbaru sepeda motor bebek 100 cc yaitu Revo yang baru dirilis bulan lalu.

    Secara terpisah Herry Setianto, Manager Promosi PT YMKI mengakui penurunan penjualan Yamaha pada April ini disebabkan adanya gangguan produksi di pabrik. Kondisi ini membuat pasokan sepeda motor ke diler berkurang.

    http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/otomotif/1id4893.html

  3. Sebenarnya produk yamaha itu biasa2 aja… sama seperti dulu, kita bandingkan aja Honda Astrea Grand dan Yamaha F1ZR, semua tahu bahwa F1ZR lebih cepat dan lebih bagus modelnya. Tapi kenapa kalah laris dari Honda Astrea Grand yang note bene modelnya lebih kuno?

    Menurut saya, naiknya penjualan Yamaha sekarang ini lebih karena “Faktor Valentino Rossi”. Karena setelah Rossi gabung ke Yamaha pada tahun 2004 maka “image Yamaha” itu terbentuk di masyarakat. Apa lagi hal ini ditambah lagi dengan komentar2 pembawa acara siaran langsung motoGP yang kalau boleh dibilang menjadi semacam “black campaigne” bagi merk2 lain terutama Honda.
    Setelah era Wayne Rainey pada tahun 1990, Yamaha belum sekalipun juara sampai masuknya Valentino Rossi, itu aja Rossi sempat “kecurian gelar sekali tahun lalu oleh Nicky Hayden. Jadi bayangkan Yamaha yang sudah ada Rossi di dalamnya masih bisa kalah oleh Honda yang hanya ditunggangi pembalap sekelas Nicky Hayden..?

    Ya, orang boleh bilang Yamaha adalah motor cepat, tapi saya rasa cepatnya Yamaha adalah karena “borosnya”. Yamaha Mio yang mungil itu ternyata rakus banget 1 liter untuk 25 s.d 30 km aja… Kalau memang bener Yamaha adalah motor cepat dan jago ngebut sejati, seharusnya di motoGP kelas 125 CC dan 250 CC mereka juga merajai. Tapi mana? Gak ada motor2 Yamaha di sana. Yamaha hanya jago nasional dan bapalapan jalanan. Memangnya ngapain balapan di jalanan, mau balapan sama angkot…?

  4. Selama ini Honda terkenal dengan “irit” dan ketika menyebut kata “irit” asosiasi kita adalah tidak bisa lari kenceng dan kemudian relate dengan motor “orang tua” yang dekat dengan “konservatif”. Berbeda dengan Yamaha yang mengedepankan “kecepatan”, “stylish” dan “kedinamisan” tapi juga tetap “irit” krn sama-sama memakai teknologi 4-tak. Dan Image ini lah yang selalu dikampanyekan di iklan Yamaha.

    Dan kemudian Honda berusaha untuk menghilangkan image “konservatif”-nya dengan mengeluarkan REVO, tapi sayang-nya REVO hanya ganti bajua doank… dan lagi-lagi Komeng sanggung menyalip Vino Sebastian ditikungan cember.

    Keberhasilan Yamaha tidak lepas dari gencarnya penayangan iklan di televisi dengan konsep humor, pemilihan endorser yg relative merakyat (lebih dikenal kalangan luas), yg menjadikan iklan2 Yamaha lebih “ok” dan effektif dr pada si Butet yang jadi Guru itu.

    sumber: http://www.bincangpemasaran.net

  5. Kalahnya Rossi dari Hayden karena apes karena Rossi jatuh padahal poin masih memimpin. Yamaha tidak di kelas 125 Cc dan 250 CC karena konsentrasi di motogp. Terakhir prestasi Yamah di kelas 250 CC adalah juara 1 dan 2 melalui pemabalapnya Oliver Jacque dan Sinya Nakano.

  6. pertama saya punya motor yamaha thn 1990 yaitu RXZ , trus ganti RX king , skr Jupiter Z & Mio..
    dari dulu saya yakin yamaha bisa menjadi yang terdepan.. ternyata keyakinan saya terbukti.. Step by step bro..
    Sukses buat YAMAHA…

  7. Honda dari dulu memang berpembawaan kalem..biarpun diserang habis2an black campaigne oleh Yamaha, tapi dengan kalem Honda tetap menjadi no satu. Yang namanya juara itu di lihat dari hasil akhirnya. Seorang juara dunia MotoGP dilihat dari hasil nilai akhir serinya bukan per seri. Jadi kalau Yamaha hanya berkoar pernah unggul di 3 bulan selama tahun 2007 (bulan Maret, Juni, Juli), itu namanya bukan jadi yang terbaik atau juara. Karena kalaupun Yamaha bisa unggul di 2 sisa bulan di tahun 2007 ini, Yamaha tetap gak bisa mengungguli Honda, karena Honda sudah unggul di 7 bulan sepanjang tahun 2007. so? yang juara tetap HONDA kan?

  8. Sudah saatnnya YAMAHA menang, sebab merk ini benar-benar meningkatkan mutu kendaraannya dari tahun ketahun. Wkt mengeluarkan 4 Tak pertama (Crypton), YAMAHA Crypton banyak keluhan. Namun skrng naik kendaraan 4T YAMAHA tdk diragukan lagi, selain stabil, irit, spare part mudah dan banyak tersedia, juga mesin bandel, harga jualnya paling tinggi di kelasnya. Sedangkan HONDA lengah, merasa penjualannya tinggi terus, mutu dan teknologi tidak diperhatikan. Teknologi nya ya itu itu saja sejak pertama kali dikeluarkan. Konsumen sekarang sdh banyak yg pinter, tahu teknologi dan tdk mau dibodohi lagi. Selamat YAMAHA.

  9. saya memiliki yamaha F1ZR 2000 biarpun sudah lama tapi masih tetap kenceng tuh… coba kalo mtor lain mungkin digeber abis2an udah keok he..he…

  10. aku punya dealer yamaha, alhamdulillah penjualan dari bulan ke bulan selalu meningkat. Ini menunjukkan bahwa konsumen sudah lebih banyak mengerti tentang keunggulan yamaha, bagaimanapun juga yamaha selalu lebih unggul,

  11. YAMAHA emang slalu terdepan!!!
    terdepan buat masuk ke bengkel,terdepan buat beli sparepart,terdepan buat nipisin dompet!!!
    Ini terbukti dari jupiter MX yg gua punya,masa ganti kampas kopling tiap 3 bulan,padahal di bengkel resmi dan sparepart orisinil!!!
    Terus kampanyein teknologi,kesampingin kualitas!!!
    Tapi kok kampas kopling paling lama cuma 3 bulan,udahannya gosong! Banyak teman saya yg jg pake MX alami nasib srupa!
    mending astrea grand juga!

  12. stuju bro,mending astrea grand!
    kalo mx ente cuma 3 bulan usia kampas koplingnya, astrea grand ane tembus 7 tahun baru minta ganti! grand ane taun 96,tangan pertama,ganti kampas baru di taun 2003,sampe skarang blom ganti lagi,pdhl mtr dpake tiap hari…
    2006 kmaren ane ambil mx,cuma make staun,sama keluhan sama ente,jd ane jual aje,duitnye ane tambahin buat beli nova sonic 2nd,ini lebih cihuy,maen standaran ma satria FU, masih menang sonic ane..!

  13. kasian bagi para motoris yang menjelakkan sepeda motor YAMAHA malah lebih senang dengan sepeda motor butut honda grand..
    dengan kata lain Hanya tidak mampu saja membeli Merk YAMAHA terpaksa membeli merk honda yang sudah tidak layak lagi di pakai di jalanan dan apabila di bawa lari kencang sepeda motor honda nya terbatuk dan akhirnya selalu turun mesin agar bisa di pakai lagi

  14. Maju terus YAMAHA karena produk nya sudah terbukti sejak dulu
    tahun depan di 2009 YAHAMA akan gencar dengan produk yang siap di luncurkan di pasaran dan akan merajai pasar sepeda motor….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s