Dan, momen itu pun terulang

Fantastis. Man Utd akhirnya bisa keluar dari tekanan untuk kemudian memukul Milan dengan skor 3-2. Dengan skuad apa adanya, khususnya di lini belakang, setan merah menjamu satu-satunya kontentas non premier league, AC Milan di babak semi final champions league musim 2006/2007.

Walau sempat unggul lebih dulu lewat gol bunuh diri Dida pada menit ke-5, MU terus tertekan hampir sepanjang babak pertama. Ketidak hadiran hampir semua pilar lini belakang MU berhasil dimanfaatkan Milan. Lini belakang MU yang ditempati oleh kuartet O’Shea, Brown, Heinze, dan Evra, tampil tanpa koordinasi yang jelas. Hal ini berhasil dimanfaatkan pemain-pemain Milan, terutama Seedorf dan Kaka.

picsrvmanutdcom.jpeg

Harus diakui, Kaka bermain gemilang. Dua gol yang berhasil disarangkannya ke gawang Van de Sar membuktikan kualitasnya sebagai salah satu penyerang lubang terbaik di dunia. Kaka tahu kalau kualitas duet center back MU, Brown dan Heinze, tidak lah sebaik duet palang pintu utama MU yang sesungguhnya, Ferdinand dan Vidic. Bahkan, gol kedua Kaka seolah mengingatkan Sir Alex untuk mencari solusi yang lebih baik dilini belakangnya. Kaka yang berjuang sendirian begitu mudahnya menaklukkan tiga pemain MU yang berada di dekatnya, Flatcher, Heinze, dan Evra. Bahkan, Evra melakukan antisipasi yang sangat tidak perlu, sehingga ia harus menabrak dan menjatuhkan Heinze, dan membuat Kaka begitu leluasa untuk menaklukkan Van de Sar.

Hingga turun minum, MU harus puas dengan hasil tertinggal 1-2. Padahal, pertandingan di gelar di kandang mereka, Old Trafford yang dikenal angker bagi lawan-lawannya.

Di babak kedua, MU mendominasi jalannya pertandingan. Milan yang harus kehilangan Maldini yang diganti Bonera saat jeda, tetap bisa menjaga bentengnya. Apalagi Dida juga bermain cemerlang.

Milan juga harus kehilangan Gattuso yang mengalami cidera, dan digantikan oleh Brocchi. Disinilah petaka Milan dimulai. Brocchi tak sebaik Gattuso. Lini tengah MU menjadi sangat dominan. Akhirnya, sontekan brilian Scholes yang diarahkan kepada Rooney tidak disia-siakan oleh the wonder kid.

Fergie sepertinya sudah cukup puas dengan hasil imbang 2-2. Namun, memasuki masa injury time, Rooney kembali menunjukkan kelasnya sebagai striker yang punya naluri mencetak gol yang tinggi. Unpan terobosan Giggs langsung teruskannya dengan tendangan first time dari luar kotak penalti. Dida pun tak mampu berbuat banyak untuk itu. MU balim memimpin 3-2 dengan sisa waktu kurang dari 1 menit.

Gol kedua Rooney kembali mengingatkan pada momen indah kala Solksjaer menciptakan gol di final champions league tahun 1999. Man Utd mengubur ambisi Bayern Munich di menit terakhir masa injury time.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s