Di Balik Keperkasaan Samsons

Sebagai band baru, penjualan albumnya terus melejit. Tarif manggungnya pun otomatis ikut terkerek. Apa kunci suksesnya?

Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau
Kenangan terindah dalam hidupku

coversamsons1.jpeg

Penggalan lirik lagu grup band Samsons itu belakangan kian akrab di telinga. Bagaimana tidak, hampir di setiap kesempatan, lagu berjudul Kenangan Terindah itu diperdengarkan, oleh toko kaset, stasiun radio, stasiun televisi, hingga pengamen jalanan. Media cetak pun tiada henti meliput berbagai aspek dari grup band yang personelnya terdiri dari Bams, Irfan, Erik, Aldri dan Konde ini.

Banyak orang yang mengatakan, kepopuleran Samsons lebih ditentukan faktor “X”: dari tampang personelnya yang tergolong good looking hingga faktor orang tua Bams yang seorang pengacara ternama (Hotma Sitompoel). Namun, apa pun anggapan orang, toh penjualan album grup band yang usianya memang baru seumur jagung ini telah berhasil menembus angka 500 ribu kopi, baik kaset maupun CD.

“Samsons memang fenomena yang menarik,” ungkap Daniel Tumiwa, Direktur Pemasaran PT Universal Music Indonesia (UMI), perusahaan rekaman Samsons. Menurut Daniel, terlepas dari berbagai anggapan yang akhirnya muncul, kesuksesan Samsons merupakan hasil upaya pemasaran yang dilakukan UMI dan manajemen Samsons.

Saat menangani album Samsons, UMI menggunakan sistem yang sama sekali berbeda dari yang digunakan perusahaan rekaman lain, khususnya terhadap artis lokal. “Kami menggunakan sistem master licensing,” ungkap Daniel. Selama ini hampir semua artis (khususnya lokal) menggunakan sistem kontrak atau titip jual. Dengan sistem kontrak, artis sepenuhnya menjadi milik perusahaan rekaman. Artinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan artis — dari rekaman, menentukan jadwal show, hingga hal-hal yang bersifat pribadi — menjadi tanggung jawab perusahaan rekaman. Dengan sistem itu, yang lebih banyak bekerja adalah perusahaan rekaman, sedangkan sang artis benar-benar menjadi bintang. Adapun sistem titip jual, perusahaan rekaman hanya mengutip biaya distribusi, sedangkan urusan lainnya dilakukan manajemen artis yang bersangkutan.

Dengan sistem master licensing, perusahaan rekaman tidak mengurusi artis, tapi hanya berhubungan dengan produknya, yaitu master album untuk jangka tertentu. Menurut Daniel, dengan sistem ini, baik perusahaan rekaman maupun (manajemen) artis sama-sama bekerja. Artis dituntut memiliki manajemen yang kuat dan juga mengerti berbagai aspek yang berhubungan dengan bisnis: dari mengelola keuangan, menghitung royalti, legal, mengatur jadwal show, hingga mengurusi kostum. “Dengan sistem ini, (manajemen) artis harus sedikit bermodal, karena separuh pekerjaan perusahaan rekaman mereka kerjakan. Perusahaan rekaman hanya mengurusi aspek marketing-nya,” ujar Daniel sambil menjelaskan, salah satu perbedaan sistem ini adalah minimnya intervensi perusahaan rekaman terhadap materi album.

Daniel menuturkan, sebelum memutuskan bekerja sama dengan UMI, Samsons juga menawarkan demo albumnya kepada beberapa perusahaan rekaman lain. Dan, di salah satu perusahaan rekaman, lagu Kenangan Terindah yang saat ini menjadi hit, diminta diubah menjadi versi rock. “Ketika bertemu kami, mereka merasa sangat cocok,” ujarnya.

Bagi UMI, menggarap album Samsons merupakan comeback-nya dalam mengarap artis lokal. Pasalnya, ini merupakan kali pertama UMI menggarap album artis lokal setelah tiga tahun lalu mereka memutuskan tak lagi menggarap artis lokal. Maka, UMI sangat hati-hati dalam memilih artis lokal. “Karena alasan itu pulalah, kami menggunakan sistem master licensing demi meminimalkan risiko.”

Saat menerima demo album Samsons, UMI langsung tertarik dan yakin bahwa band ini bisa diorbitkan. Selain materi albumnya cukup baik, tampang para personel Samsons juga dinilai cukup menjual. Menurut Daniel, industri musik itu unik. Kendati nilainya tergolong cukup besar dan risikonya juga tinggi, industri ini sangat banyak mengandalkan feeling. “Karena itu, industri musik tidak bankable.”

Mantan Manajer Pemasaran dan Komunikasi Indonesia MTV Asia ini juga menyebutkan, feeling yang kuat juga yang membuat UMI berani meluncurkan album Samsons pada akhir November 2005. Diakuinya, sebelum meluncurkan album berjudul Naluri Lelaki itu, UMI menghindari bentrok dengan album Dewa yang rencananya akan diluncurkan pada Desember 2005. Namun, setelah mendapat informasi bahwa peluncuran album Dewa ditunda hingga dua bulan, UMI langsung melempar album Samsons ke pasar. “Rasanya kurang wise, kalau Samsons yang notabene band baru harus kami adu dengan Dewa.”

Waktu untuk meluncurkan album, khususnya bagi artis baru, sebisa mungkin harus diatur sehingga tidak bersamaan atau berdekatan dengan artis besar – dengan positioning sama – yang sudah punya track record dan fans yang banyak. Maka, kendati tidak terlalu formal, fungsi competitor intelligence amat dibutuhkan di industri musik. “Untuk grup band, suka tidak suka, kalau Dewa meluncurkan album, semua harus menunggu.”

Untuk urusan ini, pengamat industri musik Bens Leo kurang sependapat dengan Daniel. Diakuinya, timing memang menjadi unsur yang sangat penting dalam peluncuran album. Kendati demikian, bukan berarti artis baru harus selalu memberi jalan terlebih dulu kepada artis besar saat hendak meluncurkan album. “Yang terpenting, baik artis maupun albumnya harus memiliki karakter. Kalau itu sudah bisa dipenuhi, rasa tidak perlu terlalu khawatir terhadap artis besar,” ujar Bens.

Samsons, menurutnya, merupakan contoh yang baik. Memang, lanjut Bens, Samsons sedikit menghindari Dewa. Namun, album Samsons diluncurkan ketika Peterpan dan Radja dalam posisi puncak. “Karena mereka punya karakter, toh tetap bisa diterima pasar,” katanya. “Kalau harus terus menunggu, kapan album bisa keluar,” katanya lagi sambil menambahkan, seminggu rata-rata 10 album baru diluncurkan di Indonesia.

Bagi Bens, selain materi album dan karakter artis, faktor yang juga sangat menentukan kesuksesan sebuah album adalah publikasi, baik di media cetak, radio maupun TV. Namun, untuk bisa mendapatkan publikasi yang besar, baik album maupun artisnya harus punya nilai jual. Publikasi akan memberi dampak yang jauh lebih besar ketimbang iklan. “Sebaik apa pun sebuah album, tanpa publikasi yang memadai akan sulit mendapat hasil yang maksimal.”

Daniel sependapat dengan Bens. Dalam kasus Samsons, pada tahap awal UMI bekerja ekstra keras. Maklumlah, Samsons merupakan grup yang sama sekali baru. Bekerja sama dengan manajemen Samsons, UMI tiada henti menawarkan single pertama, Naluri Lelaki, ke radio-radio. Tidak hanya itu, UMI pun mengupayakan berbagai cara agar Samsons bisa diliput media. “Awalnya, bukan media yang minta wawancara, tapi kami yang minta diwawancarai,” ungkapnya.

Pernyataan Daniel dibenarkan Andreas Wullur, manajer Samsons. Andreas mengatakan, mengorbitkan Bams dkk. merupakan tantangan tersendiri. Pasalnya, mereka merupakan band yang sama sekali baru. “Samsons bukan band panggung atau band kafe. Jadi, tidak ada orang yang tahu band ini sebelumnya.”

Andreas mengungkapkan, butuh waktu hingga sebulan sampai akhirnya Naluri Lelaki mulai banyak diputar di radio. Dalam tempo tersebut, band ini hanya sekali mendapat kesempatan tampil di televisi. Baru saat memasuki bulan kedua, lagu itu sering diputar di radio, dan secara bersamaan mulai masuk ke tangga lagu di beberapa radio.

Momen yang cukup baik itu dimanfaatkan UMI untuk menggelar acara peluncuran album yang sengaja dibuat cukup wah. Padahal, peluncuran bukanlah sesuatu yang wajib untuk sebuah album. Mengambil tempat di Hard Rock Cafe Jakarta, seremoni peluncuran album Naluri Lelaki dilakukan. Daniel mengatakan, saat itu banyak kalangan yang mempertanyakan keberanian UMI menggelar acara peluncuran album yang tergolong besar untuk sebuah band baru. “Ini juga bagian dari strategi untuk mendapatkan publikasi,” katanya.

Strategi ini rupanya jitu. Berkat acara peluncuran itu, popularitas Samsons pun mulai terangkat, dan penjualan albumnya mampu menembus angka psikologis untuk band baru: 10 ribu kopi. Sponsor pun berhasil digaet, sehingga tur promo album dapat terselenggara di 14 kota. Lewat dari angka psikologis itu, UMI pun merilis single kedua, Kenangan Terindah. Lagu yang sangat sesuai dengan selera pasar ini membuat penjualan album Samsons sampai saat ini bisa dikatakan tak bisa dihentikan. “Lima ratus ribu kopi sudah terlampaui,” tutur Daniel, “target berikutnya 700 ribu kopi. Untuk itu, kami mulai merilis single ketiga.”

Album lagu, menurut Daniel, tak ubahnya produk yang memiliki daur hidup. Agar daur hidupnya panjang, dibutuhkan strategi yang jitu untuk mengelola momentum yang ada. Sebenarnya saat ini lagu Kenangan Terindah masih berada pada posisi yang sangat bagus. Namun, UMI tidak mau menunggu sampai lagu itu turun baru kemudian meluncurkan single berikutnya. “Momentum yang ada harus dijaga, sedikit saja kami kehilangan momentum, akibatnya bisa fatal.”

Dalam rancangan UMI, album Naluri Lelaki akan terus didukung hingga awal 2007. Saat itu album ini berusia 1,5 tahun. Setelah itu, diharapkan Samsons sudah mengeluarkan album kedua. Namun, itu semua sangat tergantung pada penjualan albumnya. Sebuah album dikatakan habis masanya jika peluncuran single terbaru sudah tidak mampu mendongkrak penjualan. “Selama penjualannya tetap naik setiap ada single baru, dia akan terus dipertahankan, bahkan sampai semua lagu di album tersebut dikeluarkan,” ujar Daniel.

Peluncuran single baru juga harus dibarengi aktivitas pemasaran lainnya. Iklan akan kembali digenjot berbarengan dengan single terbaru itu. Juga, tampil di teve. Artinya, tim pemasaran mesti kembali bergerak layaknya saat awal peluncuran album.

Meledaknya penjualan album Samsons otomatis meningkatkan nilai jual band ini. Manajemen Samsons kini mematok harga Rp 45 juta sekali manggung. Memang, harga tersebut masih jauh di bawah grup papan atas seperti Dewa atau Slank. Namun, sebagai pendatang baru, pencapaian itu boleh dibilang cukup tinggi. Apalagi, saat ini permintaan manggung untuk Samsons boleh dibilang sangat banyak, baik di stasiun teve maupun di berbagai kota.

Tidak hanya itu, dengan popularitas yang sedang di atas angin, Samsons pun mulai merambah dunia lain, yaitu sebagai bintang iklan. Adalah Garudafood yang menjadikan mereka sebagai endorser salah satu produknya, Okky Jelly Drink.

Andreas mengatakan, setelah sukses melewati tur di 14 kota, manajemen Samsons tengah merancang tur ke 99 kota hingga akhir 2007. “Tur merupakan salah satu cara mendekatkan Samsons dengan penggemarnya. Ini merupakan salah satu cara agar band ini bisa sustain,” ungkapnya. Ini, menurutnya, amat penting, mengingat sudah banyak terjadi artis yang hanya sukses sesaat, lantas menghilang.

Menurut Bens, apa yang dilakukan manajemen Samsons sebenarnya cukup tepat. Apalagi, selama ini tur merupakan salah satu cara yang terbukti sangat efektif untuk mendongkrak penjualan album. Namun, ia mengingatkan agar manajemen Samsons tidak menerapkan strategi aji mumpung dalam mengurus Samsons. Sekarang frekuensi tayang Samsons, baik di media cetak maupun di media elektronik, sudah tergolong sangat tinggi. Ini, dikatakannya, bisa menjadi bumerang, karena dapat membuat publik muak. “Jangan terlalu diforsir, ritmenya harus diatur dengan baik.”

Akankah Samsons menjadi seperti Slank yang mampu bertahan di puncak hingga usia 22 tahun seperti yang dikatakan Andreas, atau dia akan menambah panjang deretan artis karbitan yang sekali sukses lantas menghilang? Kita tunggu saja. Selain pengelolaan manajemen keartisannya, Bams dkk. dituntut menghela naluri kreatifnya agar mampu menghasilkan musik yang diterima pasar. Tanpa itu, yakinlah, Samsons akan kehilangan tenaganya dan cuma jadi kenangan indah dalam semusim. ***

Artikel ini dimuat di Majalah SWA edisi 11/2006, 1 Juni 2006

5 pemikiran pada “Di Balik Keperkasaan Samsons

  1. aku, ingin ngundang samsons buat ngisi event yg aku buat bulan agustus nanti…., tolong donk aku minta contact person and alamat yang bisa aku hubungi…?

  2. aku ingin tahu lagi yang disebut sistem master licensing secara mendalam dong, jika ada suatu band ingin menggunakan cara ini dengan bekerjasama dengan label besar bagai mana sistem kerjasamanya ?
    saya butuh jawabannya dong karena band saya ingin sekali melakukan cara ini……..
    tolong kirimkan kealamat email saya….yah.
    irvan_airproduc@yahoo.co.id

  3. Ada ga penjelasan tentang videoklip samsonnya? tentang rumah produksinya, sutradaranya, perusahaan rekamannya juga. klo ada di pajang dong tolong kalo bisa. tq x)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s