Anak Bawang yang Siap Menyergap

AMD berupaya mempertahankan momentum pertumbuhan pasar dengan mendirikan kantor perwakilan di Indonesia. Dana yang terbatas menjadikan pola pemasaran gerilya sebagai pilihan.

We challenge Intel to a dual-core duel 6 December 2005. Demikian bunyi pariwara satu halaman penuh yang dimuat di Harian The Straits Time, Singapura, 29 November dan 6 Desember 2005. Dengan visual ring tinju, Advanced Micro Devices (AMD) yang memasang pariwara itu, bahkan menentukan lokasi “ring”-nya, yaitu di Chihuly Room, Hotel The Ritz Carlton Millenia, Singapura.

Wow, sungguh tantangan yang tidak main-main. Tampaknya AMD gerah selalu dianggap sebagai anak bawang di industri mikroprosesor. Padahal, AMD yang menemukan produk dual-core yang belum dimiliki Intel. Makanya, tantangan tak hanya ditampilkan dalam iklan, AMD juga menempatkan banner serupa di setiap meja di food court yang lokasinya berdekatan dengan kantor Intel di Cuppage Road. Benar-benar upaya provokasi yang berani dan kreatif. Sayang, Intel tidak menanggapi. Intel pun tidak hadir di tempat dan waktu yang ditentukan.

Ketidakhadiran Intel semakin membuat AMD pede bahwa prosesor dual-core AMD Opteron yang mereka hasilkan memang yang terbaik di industrinya. Prosesor yang diluncurkan pada April 2005 itu diyakini bisa menantang Intel yang sejak lama menguasai pasar mikroprosesor di dunia.

Terbukti memang benar. Pangsa pasar AMD di dunia terus mengalami peningkatan. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Data IDC menunjukkan bahwa dalam dua tahun terakhir, pangsa pasar AMD meningkat sangat pesat. Dari hanya di bawah 1% di awal tahun 2000-an, di tahun 2005 pangsa pasarnya sudah mencapai 5%. Dan yang lebih mengejutkan, di tahun 2006, AMD telah menguasai 12% pangsa pasar.

Momentum sangat bagus itu terus bertahan sampai sekarang. Bahkan untuk mempertahankan performanya, per Maret 2007, setelah lebih dari 10 tahun meramaikan pasar mikroprosesor di Indonesia, AMD secara resmi membuka kantor perwakilannya dengan mendirikan PT AMD Indonesia. “Sebelumnya AMD hanya fokus di Singapura, sedangkan negara lain seperti Indonesia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara lainnya hanya dikendalikan dari Singapura,” ungkap Dommy Arnanta, Country Manager AMD Indonesia.

Gelombang pembukaan kantor cabang di beberapa negara di Asia Tenggara sudah berlangsung sejak dua tahun lalu, ketika AMD membuka kantor perwakilannya di Thailand, yang kemudian disusul oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya. “Dengan punya kantor di sini kami bisa lebih fokus,” ungkap Dommy sambil menyebutkan bahwa sebelumnya kendali pemasaran AMD di Indonesia dipegang oleh empat channel partner di Indonesia, yaitu: PT Berca Cakra Teknologi; PT Data Benua Persada; PT E Media Devices; dan PT Rajawali Cipta Komputindo.

Dommy menjelaskan, potensi pasar mikroprosesor di Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Tahun ini, IDC memperkirakan pasar mikroprosesor mencapai 1,2 juta unit. Untuk itu, AMD harus fokus dalam menggarap pasar Indonesia. Apalagi awareness dan permintaan konsumen terhadap produk AMD juga terus meningkat. Jika sebelumnya AMD selalu push produknya ke pasar, sekarang sudah banyak konsumen yang meminta produk AMD. “Karena itu kami harus fokus di Indonesia. Dan untuk itu, mesti ada orang yang ‘ditanam’,” ujarnya.

Keberadaan kantor perwakilan di Indonesia diharapkan dapat memperlancar arus komunikasi antara AMD dengan para mitranya, baik distributor, channel, vendor teknologi informasi (TI) lainnya, dan juga end user. Dommy mengatakan, sebelumnya, sering kali terjadi gap antara produk AMD dengan vendor TI lain, khususnya produsen motherboard. AMD berbeda dari Intel. Jika Intel memproduksi satu jenis prosesor tertentu, maka semua produsen motherboard akan membuat produk yang mendukung jenis prosesor itu. “Yang terjadi pada kami sebelum ini prosesornya ada, tapi motherboard-nya susah ditemukan,” ujar Dommy. “Sekarang, kami sudah ngobrol dengan vendor-vendor motherboard, dan mereka mau support,” tambahnya.

Selain dengan vendor motherboard (dan vendor TI lainnya), AMD Indonesia juga menjalin kerja sama yang lebih intens dengan para channel provider-nya. Kegiatan pemasaran yang tadinya dilakukan sendiri-sendiri oleh channel provider, kini dibuat lebih terprogram dan terencana. AMD Indonesia pun memberikan dukungan, baik berupa dana maupun kebutuhan lainnya terhadap kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh para channel provider-nya itu.

Dengan adanya kantor perwakilan di Indonesia, yang pasti komunikasi menjadi lebih mudah. Dan yang kami harapkan adalah adanya support terhadap program pemasaran dan juga promo-promo yang lebih bervariasi,” ujar Djoenaidi Handojo, Direktur PT Berca Cakra Teknologi (BCT). Selama ini, lanjutnya, aspek komunikasi menjadi salah satu penghambat perkembangan AMD di Indonesia. Pasalnya, sebagai distributor AMD di sini, BCT harus berkoordinasi dengan kantor AMD di Singapura. Djoenaidi optimistis, kehadiran AMD Indonesia akan menjadi titik tolak keberhasilan AMD di Indonesia.

Kendati demikian, tetap tidak mudah bagi AMD menggoyang pasar Intel di Tanah Air. Mind set sebagian besar konsumen telanjur mengarah pada Intel. Apalagi selama ini AMD memiliki citra yang kurang baik, karena sebelumnya produknya lebih cepat panas ketimbang Intel. “Walaupun problem itu sudah teratasi, citranya masih melekat pada sebagian konsumen. Itu yang mesti kami ubah,” kata Djoenaidi mengakui.

Toh, bukan berarti AMD tidak berpeluang sama sekali untuk terus mengembangkan pasarnya di Indonesia. “Peluang bagi AMD pastinya cukup besar,” ungkap Sumardi, pengamat pemasaran yang juga konsultan OctoBrand. Pertama, perkembangan PC dan pasar laptop di Indonesia semakin tinggi khususnya laptop, sehingga AMD sebagai salah satu ingredient product tentunya akan berkembang seiring dengan perkembangan demand di hilir yaitu PC atau notebook.

Kedua, AMD memiliki peluang karena secara global terlihat bagaimana AMD sudah mulai berhasil mencuri dominasi Intel yang akhirnya merembet ke negara-negara di mana sebelumnya AMD masih terlihat lemah. “Perubahan pendekatan yang dilakukan AMD baik dalam hal teknologi dan khususnya pemasaran tentunya membuka peluang pasar bagi AMD untuk dapat head-on dengan intel,” ujar Sumardi.

Ketiga, di Indonesia terjadi sebuah era di mana munculnya credible low-cost brand di hampir sebagian besar industri mulai dari elektronik sampai otomotif. Hal ini secara tidak langsung mendidik pelanggan untuk lebih mengapresiasi merek-merek yang belum seterkenal merek nomor satu, sehingga memberi AMD peluang besar untuk melakukan penetrasi di Indonesia.

Selain itu, lanjut Sumardi, belakangan muncul tren baru di mana banyak sekali merek legendaris yang dulunya jadi pemain utama mulai kehilangan kemampuannya untuk memahami pelanggan. Mereka berhasil sukses pada dekade sebelumnya, tetapi manakala muncul pelanggan baru yang datang dari generasi yang berbeda, timbullah gap generasi alias ketidakmampuan memahami perbedaan selera generasi baru. “Peluang ini sepertinya yang harus diambil oleh AMD, di mana banyak pelanggan baru yang berani mencoba sesuatu yang baru,” ujarnya.

Dommy membenarkan analisis Sumardi. Dia mengatakan, salah satu segmen yang menjadi fokus AMD adalah kalangan mahasiswa, sebab merupakan kelompok yang paling kritis. “Kelompok ini akan kami support, dan biarkan mereka membuktikan sendiri,” katanya. Dommy yakin, performa AMD tidak kalah dibanding kompetitornya. Oleh karena itu, AMD memberikan kebebasan kepada kelompok-kelompok yang ingin membandingkan performa produknya dengan kompetitor.

Menurut Dommy, performa kini menjadi selling point utama AMD. Pasalnya, saat ini harga produk yang dipasarkan AMD sudah kompetitif dibanding kompetitornya. “Dulu harga kami memang selalu lebih rendah dari kompetitor, tapi sekarang, beberapa produk kami bahkan ada yang lebih mahal,” paparnya. Artinya, harga sudah tidak lagi menjadi selling point utama AMD untuk menarik minat konsumen.

Walau punya ambisi yang cukup besar di Indonesia, AMD tidak akan terlalu banyak bermain pada komunikasi above the line. Padahal, salah satu kelemahan AMD hingga saat ini adalah branding. “Problemnya AMD adalah branding. Awareness konsumen masih jauh dibandingkan dengan kompetitor,” ungkap Djoenaidi.

Walau begitu, Dommy tidak menjadikan program branding (baca: advertising) sebagai fokus utamanya. Alasannya? “Kami tidak mungkin melakukan pengiklanan gede-gedean. Duit kami tidak sebanyak kompetitor,” tutur Dommy. Untuk itu, strategi pemasaran gerilya menjadi pilihan.

Dalam hal komunikasi, AMD pun tetap akan konservatif. Dommy akan membentuk komunitas AMD di Tanah Air. Saat ini sebenarnya sudah banyak AMD freak di berbagai daerah di Indonesia. Hanya saja, baik kegiatan maupun personnya tidak terkoordinasi antara satu dengan lainnya. “Nanti akan kami satukan dalam satu wadah,” ujarnya. Dengan demikian, diharapkan nantinya bakal muncul word of mouth hingga ke konsumen.

Karakteristik pasar di Indonesia, lanjut Dommy, berbeda dengan di negara lain. Di Indonesia, pasar white box (komputer jangkrik – Red.) masih jauh lebih besar ketimbang pasar komputer branded. Artinya, channel memegang peranan yang sangat penting. “Karena itu, selain end user, channel menjadi perhatian utama kami,” kata Dommy.

Saat ini, AMD Indonesia tengah merancang berbagai bentuk program promosi yang ditujukan untuk channel dan end user. Selain itu, ada pula program loyalitas yang sifatnya lebih untuk jangka panjang. Sayang, Dommy enggan menyebut bentuk program yang hendak ditetaskannya itu. “Intinya kami akan banyak bermain di area itu. Kami berusaha untuk tidak head-to-head dengan kompetitor, karena kami akan mati kalau head-to-head,” ucapnya.

AMD Indonesia juga akan membagi “wilayah kekuasaan” dengan para channel provider-nya. AMD Indonesia akan fokus di Pulau Jawa, sedangkan luar Jawa akan digarap oleh para channel provider-nya. Dommy menyebutkan, hingga saat ini tidak ada keberatan dari para channel provider AMD. Pasalnya, secara riil, tingkat pertumbuhan pasar di luar Pulau Jawa jauh lebih besar dibanding Pulau Jawa. “Saat ini mengapa Jawa lebih besar, karena orang-orang di luar pulau masih berbelanja di Jawa. Kalau nanti kami sudah berada di sana, kejadian yang sesungguhnya pertumbuhan tertinggi justru di luar Pulau Jawa,” Dommy menerangkan.

Selain menggarap end user, kehadiran AMD Indonesia juga bertujuan untuk mengembangkan pasar original equipment manufacturer (OEM), khususnya OEM lokal. “Kalau multinasional deal-nya tingkat regional, bahkan ada yang dari headquarter,” ujarnya. Saat ini baru ada dua pabrikan komputer lokal yang telah menggunakan prosesor AMD, yaitu BCT yang mengusung merek Relion, dan PT Metrindo Supra Sinatria dengan merek BoldLine. “Bakal ada satu pemain lagi yang menggunakan AMD,” ujarnya. Ke depan, Dommy menyebutkan bahwa AMD Indonesia hendak menggandeng OEM lokal lainnya.

Upaya AMD menggandeng OEM lokal, menurut Sumardi, merupakan upaya yang tepat. Pasalnya, bisnis ini harus menggabungkan antara pull strategy dan push strategy yang bagus. Tidak hanya dengan pull alias membangun citra yang bagus di benak pelanggan tetapi juga push – mulai dari kerja sama dengan manufaktur, peritel dan toko-toko penjual komputer. “Co-branding tentunya menjadi sebuah pilihan yang tepat,” katanya. Terlebih merek-merek lokal memiliki agresivitas yang tinggi untuk penetrasi di pasar lokal, ini sejalan dengan keinginan AMD membangun pasar secara agresif pula. Dari segi penjualan, tentunya akan sangat mendukung.

Dommy yakin, keberadaan AMD Indonesia akan menjadi akselerator pertumbuhan pasar AMD di Indonesia. Terlebih kondisi pasar saat ini cukup mendukung. “IDC memperkirakan pasar tahun 2007 ini akan tumbuh sebesar 30%. Kami pun berusaha untuk bertumbuh pada angka itu,” ungkapnya yakin.

Artikel ini dimuat di Majalah SWA edisi 09/2007

5 pemikiran pada “Anak Bawang yang Siap Menyergap

  1. hebat
    semua artikel kere abis…..!
    terutama yang ini…..

    Pak taufik kalo boleh request saya mau minta artiel tentang perusahaan yang mengalami penurunan berasarkan experintal marketing

  2. bisa ditampilkan hasil benchmark antara intel core 2 duo dengan AMD Turion Dual Core untuk Notebook. Trus mengapa harganya bisa beda jauh yach?
    tx

  3. tuh!!! pak Domi keren tho responnya. Intel prosessor? HAJAR BLEHHHH!!!!, Yuk bikin komunitas, kita tidak sekedar ngiri ndak beralasan [cemburu buta] tapi minimal penyeimbang lah!!! [ujung2nya rada cemburu rabun] slogan intel “komputer hebat berawal dengan intel di dalamnya!!!” slogan AMD “komputer hemat dan hebat berawal dengan AMD prosesor di dalamnya!!” piye keren ndak booo!!! mumpung di pasar value intel gek kesulitan cari mobo yang bisa tempur setangguh chipset nvdia [maaf belum dukung chipset AMD hue… hue…] , kalo perlu nih bikin BALIHO Gede di setiap jalan utama di tiap kota pertempuran tentang brand AMD Prosessor, Mirip iklan roko marlboro gicu. daripada roadshow yang udah ndak begitu jelas lagi arahnya. lha udah pada ngerti cuman “takut kecewa” kalo pasang AMD buat system extreem [Duitnya gede]

  4. HASIL BENCHMARK tidak bisa menjadi suatu patokan pada AMD PROCESSOR, sistem AMD yg di sebut sebagai TRUE DUAL CORE + TRUE QUAD CORE adalah sistem jika terdapat data ke dua chipset pada dual core bekerja bersamaan baik itu data bit maupunm data bit, lain dengan teknologi INTEL yg memakai sistem switch jadi bbrp saat data di arah kan ke chip yg satu, bbrp saat akan berpindah ke chip yg lain,

    dOLO NAMANYA INTEL MMX APAKAH intel yg berhasil itu produk gagalnya intel amd mengeluarkan mmx dengan nama 3D NOW, merajai pasaran

    harga tinggi karena tuh intel biaya promo nya brp duit mass .. ???

    HIDUP AMD GANYANG TERUS INTEL

    AMD MANIA SINCE 1998

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s