Skutik, Medan Perang Baru

Dulu dicibir, sekarang diburu. Ungkapan itu cukup pas untuk menggambarkan kondisi pasar sepeda motor skuter otomatik (skutik). Kala PT Kymco Lippo Motor Indonesia melansir model skutik untuk pertama kali di Indonesia dengan merek Kymco, produsen lain seolah-olah tak peduli. Wajar saja, selain model skutik masih tergolong asing untuk pasar Indonesia, merek Kymco pun belum banyak dikenal. Alhasil, pasar pun kurang bereaksi.

mio.jpeg



Namun, ceritanya jadi berbeda ketika PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) meluncurkan skutik. Pertamanya, Nouvo yang kemudian disusul dengan Mio yang ditujukan untuk segmen wanita. Dengan menyandang nama besar Yamaha, ditambah dengan edukasi yang terus-menerus dilakukan oleh YMKI, kedua jenis skutik ini mendapat sambutan pasar yang cukup baik. “Dalam empat tahun terakhir, pertumbuhan pasar skutik mencapai sekitar 680%,” ungkap Dyonisius Beti, Wapresdir YMKI.

Dyon — demikian ia biasa disapa — memaparkan, tahun pertama ketika YMKI melansir model skutik, penjualannya hanya 16 ribu unit. Akan tetapi, berkat edukasi yang terus-menerus dilakukan, penjualan di tahun berikutnya meningkat beberapa kali lipat, yaitu mencapai 67 ribu unit. Bahkan, tahun lalu YMKI berhasil menjual 180 ribu unit – 90% di antaranya disumbangkan oleh Mio. “Kami membayar harga yang mahal sekali untuk edukasi pasar,” ucap Dyon.

Bagi YMKI, keberadaan model skutik boleh jadi menjadi penyelamat. Di saat kondisi pasar sedang lesu akibat imbas kenaikan harga BBM tahun lalu, penjualan YMKI justru malah tumbuh. Dyon menjelaskan, pada semester pertama 2006, ketika permintaan sepeda motor di Indonesia turun 24%, penjualan Yamaha justru naik 28%, sehingga pangsa pasar Yamaha mencapai 36%. “Sampai akhir tahun ini setidaknya kami harapkan mampu mempertahankan di kisaran itu,” ujar Dyon sambil menyebut saat ini penjualan rata-rata Yahama Mio mencapai sekitar 20 ribu unit per bulan.

Tingginya permintaan skutik, menyeret dua pesaing abadi Yamaha untuk ikut menggarap pasar yang awalnya sama sekali tidak dilirik ini. Pemimpin pasar sepeda motor di Indonesia, PT Astra Honda Motor (AHM) melansir model skutiknya, Honda Vario. Langkah ini juga diikuti oleh PT Indomobil Niaga International (INI) – pemegang merek Suzuki – dengan meluncurkan Suzuki Spin.

Johannes Hermawan, Direktur Pemasaran AHM, mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pasar skutik mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Disebutkannya, jika tahun lalu skutik hanya meraih 3% dari total pasar sepeda motor di Indonesia, tahun ini diperkirakan skutik bakal memberikan kontribusi 6% terhadap total pasar sepeda motor nasional. Karena itu, AHM berani memasang target penjualan hingga 20 ribu unit per bulan untuk Honda Vario. “Model skutik semakin berkembang dan makin diminati pasar. Lantaran pengendara kini rata-rata ingin bisa mengendarai motor dengan mudah tanpa harus capek mengoperasionalkan gigi persneling,” tutur Johannes.

Johannes memaparkan, konsep utama Honda dalam pengembangan produk ini adalah menggabungkan unsur kenyamanan dan kesenangan berkendara. Selain itu, untuk motor yang menyandang mesin empat langkah 110 CC ini dihadirkan sebagai kendaraan irit bahan bakar tapi tetap bertenaga.

Honda Vario, dilansir dalam dua mode: dengan velg racing seharga Rp 13,5 juta; dan pelek jari-jari yang dibanderol Rp 12,5 juta. Harga yang ditawarkan Honda ini tidak selisih jauh dari Yamaha Nouvo, tapi masih lebih mahal sekitar Rp 1 juta dibanding Yamaha Mio.

Berbeda dari Honda yang berani menawarkan harga lebih tinggi, Suzuki justru mengeluarkan jurus value for money. Suzuki Spin hanya dibanderol Rp 10,7 juta untuk tipe feminin; dan Rp 10,8 juta untuk tipe Spin 125R dengan tampilan sporty. “Target kami 10 ribu unit per bulan,” ungkap Suandi Widiarto, Manajer Pemasaran Roda Dua INI.

Suandi menambahkan, keunggulan Suzuki Spin terletak pada akselerasi dan kecepatan yang diklaimnya paling tinggi di segmen ini. Maklum saja, kapasitas mesin yang digunakan skutik ini merupakan yang terbesar di segmennya, yaitu mesin empat langkah 125 CC. “Kami harapkan Suzuki Spin 125R bisa mengejar ketertinggalan, dan bisa mengangkat pangsa pasar Suzuki menjadi 25%,” ucapnya.

Dyon mengatakan, Yamaha menyambut baik masuknya pemain lain ke segmen ini. Menurutnya, kompetisi akan mendorong industri sepeda motor bakal lebih sehat dan efisien. Baginya juga wajar kalau bisa sama-sama tumbuh seiring. “Mari kita sama-sama membesarkan segmen ini,” ujar Dyon diplomatis.

Artikel ini dimuat di Majalah SWA edisi 19/2006, 7 September 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s