Miliaran Rupiah dari Ring Back Tone

Satu lagi penghargaan baru di dunia musik yang sekaligus memberikan pendapatan tambahan: ring back tone (RBT). Panasonic — institusi yang tiap tahun memberikan penghargaan bagi insan musik di Tanah Air lewat ajang Panasonic Award — pada 2006 pertama kali memberikan penghargaan bagi RBT terlaris kepada lagu Kenangan Terindah yang dinyanyikan Samsons. Lagu yang berbulan-bulan menduduki posisi tangga lagu terbaik ini berhasil diunduh (download) lebih dari 2,1 juta kali. Grup band yang dikomandani Bams itu sekaligus terpilih sebagai grup musik terbaik karena berhasil menyabet lima gelar, termasuk album Pop Terbaik.

Andreas Wullur, manajer Samsons, menyebutkan bahwa RBT memang tidak bisa dianggap enteng. Sejak awal diluncurkan, album yang bertajuk Naluri Lelaki sudah menyediakan fasilitas download RBT bagi penggemarnya. Di setiap kemasan kaset dan CD disertakan semacam buklet kecil yang berisi daftar RBT dari para artis Universal Music (perusahaan rekaman Samsons), berikut cara mengunduhnya. “Ini sudah menjadi bagian kontrak Samsons dengan Universal Music,” ungkap Andreas.

Hasilnya, hingga Desember 2006 lagu-lagu di album Naluri Lelaki telah diunduh lebih dari 3 juta kali, dengan Kenangan Terindah sebagai best seller. Bila untuk mengunduh dikenakan tarif Rp 7-9 ribu, total pendapatan RBT dari album tersebut mencapai Rp 21 miliar lebih. “Soal pembagian keuntungan dan besarnya royalti, itu rahasia perusahaan,” ujar Andreas berkilah.

Ia mengungkapkan, pendapatan terbesar Samsons diperoleh dari penjualan CD/kaset, pentas (baik on air maupun off air) dan RBT. “RBT menyumbang 30% dari total income band,” ungkapnya. Namun, bila dibandingkan dengan pentas, sebenarnya tingkat pemasukan RBT jauh lebih besar. “Karena ketika show kan di samping kami keluar tenaga dan waktu, pengeluaran-pengeluaran untuk operasional juga besar. Jadi, lebih kecil jatuhnya kalau dibanding RBT yang istilahnya kami tinggal duduk sudah dapat uang, tidak ada biaya,” Andres memaparkan.

Direktur Pemasaran & Penjualan Universal Music Indonesia (UMI) Daniel Tumiwa mengatakan, baik Samsons maupun Kenangan Terindah menempati peringkat pertama di jajaran 10 besar artis dan lagu yang terbanyak diunduh sepanjang 2006. Bahkan, Samsons menempatkan empat lagu dari album tersebut dalam 10 besar lagu paling banyak diunduh di antara lagu-lagu dari jajaran artis UMI.

Selain Kenangan Terindah, lagu Tombo Ati yang dilantunkan Opick juga termasuk yang terlaris di bisnis RBT. Pada Ramadhan tahun lalu saja, lagu berbahasa Jawa itu diunduh lebih dari 200 ribu kali. Ini jelas menjadi salah satu pemasukan ekstra bagi artis ataupun Aquarius Musikindo, perusahaan rekaman tempat Opick bernaung.

Musica Studio’s pun meraih berkah dari bisnis baru ini lewat salah satu artis andalannya, Peterpan. Bahkan, lagu Tak Bisakah milik grup band itu pernah dibeli lebih dari 30 ribu pelanggan sehari. Sementara lagu Ada Apa Denganmu mencapai penjualan 15-20 ribu sehari.

Tingginya minat pelanggan seluler menggunakan fasilitas RBT menjadi berkah pula bagi operator telekomunikasi. Seperti diungkapkan Anyia Rumonda, GM Mobile Data Services Telkomsel, fitur ini menyumbang 2% terhadap total pendapatan Telkomsel. Total pelanggan aktif RBT Telkomsel rata-rata 3,3 juta, atau sekitar 10% dari total pelanggan Telkomsel yang mencapai 35 juta.

Anyia mengatakan, setiap hari traffic RBT rata-rata mencapai 100 ribu. Malah, pada Ramadhan 2006, traffic-nya meningkat menjadi 120 ribu/hari. Dengan angkat tersebut, bisa diperkirakan, revenue yang diperoleh Telkomsel dari RBT mencapai Rp 900 juta/hari. “Revenue yang didapat dari RBT akan dibagi dengan content provider,” ungkapnya.

Daniel menambahkan, keuntungan dari bisnis RBT dibagi secara proporsional dengan pihak-pihak yang terlibat: operator, perusahaan rekaman dan artis. Kerja sama ketiga pihak ini, menurutnya, didasari kepercayaan (trust) yang tinggi. Sebelum teken kontrak dengan operator, UMI mempelajari sistem yang digunakan tiap operator. “RBT relatif aman dan operator pun cukup terbuka kalau kami mau cek jumlah lagu yang di-download,” ungkapnya.

Kerja sama UMI dengan pihak operator seluler pun sampai ke pemasaran. Namun, dikatakan Daniel, ini sifatnya per proyek, seperti operator mensponsori kegiatan tertentu. Kalau berbicara tentang distribusi, jalan sendiri-sendiri. “Operator kan fokusnya bagaimana lagunya banyak yang pakai. Tentang promosi per artis atau per lagu, itu balik lagi ke record company.”

Karena sumbangan RBT ini cukup signifikan, Anyia menargetkan pelanggan RBT tahun 2007 akan bertambah menjadi 4 juta. Langkah yang dilakukan, antara lain, mensponsori artis-artis laris.

Artikel ini dimuat di Majalah SWA Edisi 03/2007, 1 Februari 2007

9 pemikiran pada “Miliaran Rupiah dari Ring Back Tone

  1. He he he…
    Selamat! Industri musik Indonesia
    dapat tetap menjadi tuan rumah
    di dalam rumah sendiri.

    Tapi soal Telkomsel yang kemudian akan
    menjadi bangga dengan fasilitas RBT,
    saya pikir perlu bercermin dengan jernih.
    Idenya meniru: NTT di Jepang.
    (Lihat buku: “Innovators Solution.” Christensen&Raynor, 2003)

    Kalau sebatas meniru/ menjipak, apa lebihnya?
    Mungkin kita akan lebih memilih :
    Sampurna “A” yang berani dengan ide kreatif di
    dalam mengiklankan produknya yang membuat
    kesegaran baru dalam tata cara beriklan.
    Sehingga pantaslah bila Phillip Morris membelinya
    dengan harga US 49 Billion.

  2. sesuatu yang baik itu kenapa tidak untuk di adaptasi..

    toh memindahkan RBT ke Indonesia pun sudah menjadi kemajuan yang berarti..

    seperti halnya banyak produk mobil, klo memang idenya harus dari Indonesia.. yakinlah sampai kapanpun di Indonesia tidak akan pernah ada mobil, internet, microsoft, dan seterusnya..

    jadi kenapa tidak sesuatu yang baik diterapkan di negeri kita..

    Thanks..🙂

  3. Masalahnya bukan baik atau tidak. Bukankah saya mengatakan bahwa dari dampak tersebut, maka turut berperan dalam mempertahankan musik Indonesia (Hore….!) untuk dapat tetap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

    Selain itu, di sisi lain tentunya adalah meningkatkan jumlah raihan keuntungan terhadap pengada fasilitas layanan tersebut, misalnya dalam hal ini adalah Telkomsel.

    Sebagai sebuah bisnis, maka pengelolalan bisnis secara mudahnya adalah selalu dikerangkakan dalam pemahaman: PROFIT. Sedangkan profit tersebut salah satu pilarnya adalah inovasi, di mana inovasi adalah merupakan cerminan dari kreatifitas sebagai asset terhadap keuntungan persaingan.

    Telkomsel, adalah suatu bisnis layanan telekomunikasi bergerak/selluler yang ditelurkan dari Telkom, di mana Telkom adalah sebelumnya merupakan BUMN sebagai asset kekayaan negara. Setelah masa- masa ‘perkeliruan’ penentu kebijakan negara, bukankah kemudian Telkomsel hingga harus ‘menjualkan sebagian tubuhnya’ kepada investor penyedia layanan telekomunikasi asing pada saat laporan binisnya menunjukkan keuntungan? Sekalipun tentunya dalam masalah bisnis, tindakan tersebut bukanlah tindakan yang salah.

    Masalah terbesarnya adalah ‘kelembamam’ kreatifitas dan ‘keengganan’ motivasi yang membuat pengelolaan bisnis ini ‘tuturut begog’ saja. Sekalipun untung, masalahnya adalah seberapa pantas seharusnya keuntungan tersebut boleh diraih secara terhitung di masa pendek melalui ‘perlakuan keistimewaan’ yang diberikan negara dan seberapa besar peluang untuk terus mampu ‘survive’ terhadap propek keuntungan jangka panjang, apalagi ketika perlakuan keistimewaan tersebut dihilangkan?

    Perlu diingat, bahwa Telkomsel bukanlah perusahan milik ‘kami’, tapi miliki ‘kita’ bangsa Indonesia. Maka artinya, tanggungjawab secara bisnis bukan hanya terhadap shareholder, tetapi juga stakeholder. Jadi, sangat pantas bukan, bila kita bangsa Indonesia menuntut keperansertaan dan kontribusi terhadap pemasukan/ kekayaan negara dari Telkomsel dipandang dari segi investasi terhadap bisnis, sehingga tuntutan terhadap pertumbuhan bisnis tersebut adalah ‘pemicu’ kreatifitas pekerja2nya untuk dapat mampu memberikan hasil yang optimal. Bukankah jika saja Telkomsel melakukan seperti perusahaan- perusahaan lainnya yang menjadi kepemilikan publik melalui saham- saham yang ditawarkan kepada masyarakat, maka konsentrasi dan keseriusan dalam pengelolaannya menjadi optimal dikarenakan masing- masing para pemilik saham memiliki kekuatan dalam tuntutan terhadap pertumbuhan bisnis melalui raihan profit yang terus didesak untuk terus meningkat ?

    Namun apa yang terjadi, seperti anda tahu, keuntungan yang diraih adalah keuntungan konvensional yang menstabilkan jelas- jelas keuntungan karyawan melalui ‘complacency climate’ yang secara sadar menstagnasi motivasi dan kepedulian untuk keuntungan jangka panjang (Ulangtahun pribadi..dapat hadiah 1 bulan gaji, Hari Raya Lebaran dapat 1 bulan Gaji, Hari Raya Natal dapat 1 bulan Gaji, belum lagi Bonus tahunan dan bahkan dari QSel =koperasi Telkomsel yang meraih keuntungan besar dari monopoli penjualan kartu berikut pulsa di mana paling sedikit mendapatkan 16bulan gaji plus jasa koperasi) dan juga terhadap raihan keuntungan jangka pendek pemodal asing selain terhadap Telkom sebagai induk perusahaan, yang pada giliran ‘nanti- nanti dan mudah- mudahan’ kita sebagai masyarakat merasakan hasilnya.

    Adalah suatu kenaifan ketika suatu bisnis yang dimiliki negara melalui ‘previledge’ (keistimewaan) yang diberikan adalah memberikan keuntungan secara buku (laporan tahunan) tanpa mempertimbangkan aspek keuntungan jangka panjang dan kemampuannya untuk terus berkembang (ability to growth sustainibility) sebagai sumber dari kekayaan negara yang pada gilirannya menjadi salah satu sumber peningkatan kesejahteraan masyarakat. Mending Telkomsel menjadi perusahaan terbuka dan semua saham- sahamnya diperdagangkan bebas untuk dibeli masyarakat, sehingga terbukti apakah Telkomsel sememangnya adalah sebuah bisnis yang sehat atau tidak. Kita lihatlah contohnya INDOSAT yang dahulu begitu ‘monumental’ bonafitasnya namun kemudian setelah sebagian sahamnya dimiliki pemodal asing dan juga sahamnya diperdagangkan bebas, dan demikian juga ‘priviledge’-nya dihapus maka tampak ‘adem- adem aja’, bukan? Inilah jadinya kalau suatu perusahaan sebagai asset negara yang sekalipun meraih keuntungan tersebut adalah karena terlanjur dengan mentalitas ‘ini milik kami’.

  4. yang ingin aku tanya ke pihak yang mengerti lingkup RBT …. apakah yang harus dilakukan band atau penyanyi atau pencipta yang punya lagu gacoan dan ingin di populerkan lewat RBT.

    Apakah masih harus menawarkan ke Major Label dulu seperti dulu … lalu Major Label nya yg kerjasama dg content providernya ?

    Tolong jika ada yg paham aku di email ya ?

    Thank You

  5. Saya gak ingin komentatar, saya cuma ingin tanya, gimana caranya ngedaftari lagu bisa jadi RBT/NSP, ap aja syaratnya dan kemana harus mendaftarkan?

    Trim’s
    M.Kholis Habni
    0818581321

  6. Band kami nama Nubanara, punya lagu salah judulnya; Apa Kabar Indonesia.. mau kerjasama dengan Telkomsel dll agar lagu kami jadi RBT/NSp carany gimana ya?? Lius Surabaya. Trims. no telp. 0812 3109 5049

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s