Visit Indonesia Year 2008: Berjalan Setengah Hati?

Maksudnya mengambil momentum peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, pemerintah melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) menetapkan 2008 sebagai Tahun Kunjungan Indonesia (Visit Indonesia Year/VIY). Lewat program yang sebelumnya pernah digelar pada 1991 ini, 7 juta wisatawan mancanegara (wisman) diharapkan berkunjung ke berbagai daerah di Tanah Air.

Gong sudah dipukul. Dana US$ 20 juta pun telah disiapkan – sebagian bahkan sudah dibelanjakan. Kurang-lebih 100 event di berbagai daerah telah pula disiapkan untuk menarik minat wisman agar mengunjungi Indonesia.

viy2008.jpeg

Masalahnya, sampai kini banyak kalangan yang pesimistis program tersebut akan menuai hasil bagus. Persiapan yang minim serta kurangnya dukungan dari pemimpin tertinggi negara ini menjadi salah satu penyebabnya. “Ini seperti hanya program Depbudpar atau Jero Wacik,” demikian komentar Yuswohady, konsultan MarkPlus. “Mau secanggih apa pun plus 100 event, kalau tidak ada sponsorship dari pemimpin tertinggi, sulit bisa jalan,” Yuswo melanjutkan sembari menunjuk Trully Asia atau Uniquely Singapore yang semuanya didukung penuh sebagai program presiden atau perdana menteri.

Pernyataan Yuswo boleh jadi benar. Dalam acara peluncuran VIY 2008 pada akhir Desember 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan tidak hadir. Ini sangat berbeda dari VIY 1991 yang mendapat dukungan penuh dari Presiden Soeharto, sehingga komitmennya nasional. Kala itu Joop Ave, yang menjabat sebagai Menteri Pariwisata, menggunakan pendekatan holistis dan Soeharto yang punya tangan besi ikut mendorong program tersebut. “Kalau VIY 1991 sukses, karena Pak Harto yang meng-handle program tersebut,” ungkap Yuswo.

Di luar soal komitmen pemimpin, berbagai permasalahan yang tengah dihadapi bangsa ini boleh jadi menjadi batu sandungan bagi program VIY 2008. Citra Indonesia di dunia internasional belum pulih. Bahkan, hingga saat ini, Uni Eropa belum mencabut larangan terbang bagi pesawat Indonesia ke Eropa. Pesawat Indonesia dirasa masih belum cukup aman.

Selain itu, situasi politik di Tanah Air juga masih jauh dari kata kondusif. Patut dicatat, pada 2008, sejumlah daerah di Indonesia akan menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada), entah itu pemilihan gubernur, bupati atau walikota. Berkaca dari pengalaman, beberapa pilkada berakhir dengan kerusuhan yang sedikit-banyak memengaruhi citra bangsa Indonesia di mata dunia internasional.

Padahal, seperti diungkap Thamrin B. Bachri, Dirjen Pemasaran Depbudpar, pariwisata merupakan industri yang menuntut totalitas. “Bicara pariwisata itu harus total, apakah bersih WC-nya, taksinya bagus layanannya, banyak sekali.” ungkapnya. Depbudpar sendiri, menurutnya, hanya bertindak sebagai fasilitator. “Kami berusaha memfasilitasi dalam arti yang luas, bukan berarti memberikan uang atau lainnya, tapi dalam bentuk informasi.”

Thamrin mengatakan, dengan kondisi yang ada saat ini, target 7 juta wisman tergolong cukup berat. Pasalnya, travel related services di Indonesia, seperti taksi dan telepon umum, masih banyak masalah. Apalagi, negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand pun tengah gencar mempromosikan pariwisatanya. “Jika dibandingkan kenyamanannya, pasti kita yang paling tidak nyaman,” katanya. Keunggulan komparatif Indonesia, seperti sungai dan laut, di beberapa tempat sudah terdegradasi. Contohnya, Teluk Jakarta atau Sungai Ciliwung yang kotor. “Itu membuat kita tidak sellable,” ujarnya.

Walhasil, lebih banyak wisman yang hanya mengunjungi Bali. Tahun lalu, pertumbuhan wisman ke Bali mencapai 33% lebih, sedangkan pertumbuhan wisman nasional hanya 13,4%. “Kalau Indonesia dibandingkan dengan Malaysia, pasti kalah. Tapi kalau yang dibandingkan Bali dengan Langkawi, kita yang menang,” ujar Thamrin.

Sebenarnya pemerintah sudah sejak lama menyiapkan program untuk mendukung industri pariwisata nasional, yaitu melalui Program Sapta Pesona. “Ini merupakan program Dogma,” kata Thamrin. Jika daerah ingin mengembangkan pariwisatanya, daerah tersebut akan memberi perhatian untuk membenahi Sapta Pesona atau elemen-elemen dasar pariwisatanya. Kenyataannya, masih banyak daerah yang tidak berjalan ke arah tersebut. “Saya akui memang sulit didogmakan,” ujarnya.

Namun, ada juga beberapa daerah yang lama berbenah diri untuk menyambut VIY 2008, seperti Sumatera Selatan. Dengan mengusung slogan Visit Musi 2008, Provinsi Wong Kito ini berbenah dengan membersihkan Sungai Musi dan kolong Jembatan Ampera. Menurut Thamrin, itu upaya yang sangat positif. Walau sekarang jumlah wisman yang datang belum membludak, ini merupakan proses yang positif bagi pengembangan pariwisata nasional. “Seperti orang mau menerima tamu ke rumah, ya beres-bereslah, kami tinggal fasilitasi.”

Depbudpar sendiri tidak tinggal diam. Berbagai kegiatan promosi dan kerja sama dijalankan. Salah satunya dengan American Express (Amex), yaitu menawarkan berbagai kemudahan bagi 80 juta pemegang kartu kredit Amex di seluruh dunia. Depbudpar juga bekerja sama dengan Air Asia, Garuda Indonesia, Pos dan Telekomunikasi, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Asita, Lion Air, dan lain-lain.

Gelaran 100 event diambil untuk mengolaborasi semangat 100 tahun Kebangkitan Nasional. Akan tetapi, dari 100 event yang akan digelar, sebagian besar adalah produk lama, seperti Festival Danau Toba, Festival Danau Sentani dan Festival Senggigi. Sayangnya, tak satu pun dari event-event tersebut yang dijadikan sebagai flagship oleh Depbudpar. Semua diperlakukan sama, baik promosi maupun fasilitas yang diberikan, sehingga tidak fokus.

Anggaran yang disediakan pemerintah pun tergolong sangat minim. Dengan event yang lebih sedikit, kabarnya Trully Asia-nya Malaysia diberi bujet hingga lima kali lipat VIY 2008. Thamrin mengatakan, anggaran US$ 20 juta digunakan untuk kegiatan pemasaran, seperti membuat brosur, mengikuti event pariwisata internasional, atau beriklan di televisi internasional, seperti CNN, CNBC, Star World, serta Travel & Living. “Pariwisata ini bisnis pencitraan,” ujarnya, “kami ingin sampaikan Indonesia itu beragam produk dan destinasinya.”

Yuswo melihat, walau sudah berjalan sebulan, awareness VIY 2008 belum terbentuk. Padahal, seharusnya pembangunan awareness ini dilakukan jauh sebelum program diluncurkan. SBY sebagai presiden, menurutnya, juga harus jadi pemasar dan brand builder. “Indonesia kan sudah terpuruk, jadi brand-nya harus dikembalikan lagi. Awareness itu paling utama ketika berjualan. Belum bicara produknya,” katanya.

Menurut Yuswo, sebelum membangun awareness ke luar negeri, seharusnya pemerintah membangun di dalam negeri. “Kita bangun internal marketing dan branding dulu di dalam. Harus ada pemanasan setengah sampai setahun di dalam negeri,” ujarnya. Ia menambahkan, dalam diri masyarakat harus ditanamkan bahwa ini adalah momentum untuk menarik wisman. Gereget itu harus ada. Sehingga, ketika wisman datang, hawa VIY itu ada. “Saya lihat hawa itu belum terjadi sekarang.”

Seorang pengamat yang enggan disebut namanya menyebutkan bahwa target jumlah wisman yang dicanangkan Depbudpar sebenarnya bukanlah target yang terlalu sulit dicapai. “Tanpa VIY pun, target tersebut bisa tercapai. Paling, meleset sedikitlah,” ungkapnya. Ia mengatakan, tahun lalu, tak kurang dari 5,5 juta wisman berhasil didatangkan. Angka tersebut memang masih di bawah target 6 juta wisman, tapi itu lebih dikarenakan faktor eksternal, yaitu alam yang kurang bersahabat, mulai dari tsunami di akhir 2004 yang disusul oleh bencana-bencana lain. “Kalau keadaan normal, biasanya peningkatannya sekitar 500 ribu pengunjung,” ujarnya lagi.

Ungkapan senada dilontarkan Dharma Tirtawisata, Chief Operating Officer Panorama Tours. “Ada atau tidak ada program VIY, industri pariwisata kita bisa naik, sebab wisman sedang ingin datang ke Indonesia,” ungkapnya. Menurutnya, para wisman sudah memendam rindu untuk mendatangi negeri ini, karena sebelumnya takut datang karena banyak teror bom.

Toh, Dharma menyambut positif program VIY 2008 yang digelar pemerintah. Pemulihan industri pariwisata nasional, menurutnya, harus dilakukan setapak demi setapak. Akan tetapi, menurutnya, target 7 juta wisman yang dicanangkan Depbudpar tergolong cukup ambisius. “Moderatnya bisa tercapai 6,5 juta wisman.”

VIY 2008, dikatakan Thamrin, bukanlah sekadar program jangka pendek. Lewat program ini, daerah-daerah yang punya potensi pariwisata menyiapkan dan membenahi destinasinya masing-masing, agar makin lama makin menarik dikunjungi. “Melalui VIY 2008 inilah diharapkan kita menjadi siap, atau paling tidak belajar mempersiapkan diri,” katanya.

Artikel ini dimuat di Majalah SWA edisi 03/2008, 8 Februari 2008

6 pemikiran pada “Visit Indonesia Year 2008: Berjalan Setengah Hati?

  1. Kesiapan bukan hanya dari infrastruktur fisik belaka. Namun juga dari infrastruktur mentalitas masyarakat dan pemerintahnya. Kesiapan ini tentunya bukan hanya terjadi karena sesaat, namun terbentuk menjadi suatu kebiasaan.

    Belajar dari Provinsi Bali atau Yogjakarta, seharusnya dapat menjadi cerminan bagaimana masyarakat dan pemerintah daerah tersebut ‘terbiasa’ dan melazimi sebagai ‘tuan rumah’ yang hangat dan ramah bahwa kedatangan turis sebagai ‘pelancong’ merupakan kesempatan jangka pendek dan panjang terhadap masa depan kehidupan mereka. Sehingga di mulai dari sekedar menyediakan fasilitas yang ‘menyamankan’ emosional dan psikologis mereka dalam ‘belibur’, juga kemudian membuka peluang komunikasi dalam potensi hubungan bisnis di masa selanjutnya. Maka tidaklah mengherankan, bahwa banyak industri- industri lokal dan dalam cakupan skala rumahtangga menjadi terbantu menjadi besar sebab mereka terdorong untuk kemudian berhubungan dengan turis tadi sebagai konsumen dan ‘pedagangan perantara’ terhadap produk- produk mereka di negara asal mereka.

    Atau dengan kata lain, saya mengatakan:
    “Untuk menilai dan melihat suatu daerah apakah masyarakatnya terbuka, ramah, dan hangat, serta aman… maka secara kasar..dapat dilihat dari seberapa banyak turis hadir di tempat itu untuk ‘berjalan- jalan’…”

  2. wah oranhg indonesia terlalu pesimis, kita boleh berbangga walaupun dalam keterpurukan negeri tercinta ini, mana rasa nasionlis mu?dukung VIY 2008.

  3. Ya jelas pesimis, lha wong manusia Indonesia banyak yg diam aja, cuma nonton dari pinggir. Kalo gagal tinggal ngumpat kasar. Kapan ya kita jadi bangsa yang kompak? Apa mesti dijajah lagi biar semangatnya keluar?

  4. @ iqranegara : mungkin memang harus dijajah lagi bro.. tapi kali ini minta di jajah ma inggris ajah.. paling gak orang indo bisa blajar bahasa inggris gratis, hehehehehe

  5. yah payah, ini semua gara-gara proses kacungisasi kepada masyarakat strata bawah nggak ada berhenti-hentinya. Dari jaman raja-raja, jaman penjajahan sampai sekarang masyarakat dan budayanya cuma jadi komoditas. Masyarakat nggak pernah dilibatkan secara penuh, akhirnya cuma jadi para kacung yang sedikit-sedikit cari aman saja. Ngurusin perut saja dah mumet, ngapain ikut terlibat di VIY 2008 yang nggak tulus melibatkan masyarakat sampai ke tulang sum-sumnya. Itu mah proyek mereka.

  6. Kacungnisasi? (Supaya keren: Kacungnization atau Jongosnization he he).

    Pandangan pesimis bukanlah berarti semangat nasionalisme seseorang menjadi sesuatu yang didakwakan sebagai lebih rendah daripada seseorang yang memiliki pandangan yang optimis.

    Negara tentu berbangga memiliki mentalitas yang ‘membara’ seperti yang dimiliki Bung Fadli melalui pandangan optimisnya. Namun keberhasilan bukan karena hanya pandangan optimisme saja, bukan?

    Dengan sembelit pemikiran bahwa mungkin saja bila dijajah Inggris akan lebih baik adanya, tentu kita tidak menafikkan melalui empirisme pemikiran melalui fakta- fakta yang ada. Apalagi kalau setidaknya adalah semata- mata untuk bisa bahasa Inggris. Bukankah kita sudah masuk dalam arena yang demikian, ketika kita harus dihadapkan dalam keseharian kita terhadap sumber- sumber informasi dengan Make Bahasa Inggris, ei…

    Pelibatan dan keperansertaan masyarakat tidak pernah dijadikan landasan berpijak secara penuh tentu makzimnya adalah sumber dari ketidaksiapan pembentukan masyarakat yang merupakan ‘pembiaran’ dari kuasa pemerintah untuk membentuknya pada maayarakat yang patrianilistik.

    Namun ngomong- ngomong, dikarenakan budaya juga boleh jadi komoditas, maka sekalipun itu feodalisme budaya yang mengkristalkan mentalitas Kacungnization/Jongosnization, masyarakat, siapa tahu ei…VIY 2008 success. Sekalipun tentu imejnya adalah: Jongosnization! (means: we always available, hand carry -hit & run, and drive thru or 24 hours open) he he he….
    Hand Carry = komisi/uang untuk urusan agar cepet selesai, Hit &Run= tipu- tipu terus kabur bawa ke luar negeri bawa uang korup, Drive Thru= terobos aja ngga usah takut sekalipun ada undang- undang atau hukum, yang penting cepet/instant dan 24 hours= mikirin gimana caranya supaya cepet kaya.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s