Kendaraan Baru Bentoel

Country dan Sejati menjadi kendaraan baru Bentoel untuk berpacu di industri rokok nasional. Image building, strategi gerilya dari daerah, dan kekuatan distribusi menjadi kunci suksesnya.

Senyum bangga terpancar di wajah Nicolaas B. Tirtadinata, Presiden Direktur PT Bentoel Prima Tbk. (BP), kala menemui SWA di kantornya di Mega Kuningan, Jakarta. Nico pantas berbangga. Pasalnya, di bawah kepemimpinannya, BP bisa kembali unjuk gigi di kancah pertarungan industri rokok di Indonesia: menduduki posisi keempat.

Ya, dalam beberapa tahun terakhir, BP sempat melewati masa-masa suram. Posisinya di industri rokok terus menurun dari tahun ke tahun. Bahkan, hingga tutup tahun 2005, BP harus puas hanya duduk di posisi ke-6 perusahaan rokok di Tanah Air. BP kalah dari Philip Morris yang hanya mengandalkan satu merek rokok, Marlboro. Padahal, BP-lah yang sebelumnya mendistribusikan merek tersebut.

Sepanjang hidupnya BP memang tidak pernah menjadi raja di industri rokok nasional. Akan tetapi, dulu posisi perusahaan asal Malang ini bisa disejajarkan dengan tiga raksasa di industri rokok: Gudang Garam, Sampoerna dan Djarum. BP termasuk perusahaan rokok papan atas karena selain rokok Bentoelnya diterima pasar, ia juga mendominasi penjualan rokok putih lewat Marlboro.

Sekarang, seperti kita tahu, kompetisi makin berat. Selain munculnya banyak merek rokok baru, BP juga kedodoran di pemasaran dan program branding. Akibatnya, beberapa produk BP kurang mampu bersaing. Bentoel Biru, umpamanya, yang dulu sempat menjadi salah satu pemain utama di segmen sigaret keretek mesin (SKM), tenggelam oleh kebesaran Gudang Garam International dan Djarum Super. Di segmen lainnya, sigaret keretek tangan (SKT), perusahaan yang sebagian besar sahamnya dikuasai Grup Rajawali ini hampir tidak mempunyai merek andalan. Kemalangan BP semakin bertambah kala Philip Morris pun memutus kontrak kerja sama distribusi dengannya pada 2004.

Nasib Bentoel sedikit tertolong oleh segmen SKM mild. Beberapa mereknya, terutama StarMild (diluncurkan 1997) dan X Mild (2004), cukup mampu bersaing di kategorinya. Bahkan, StarMild cukup lama bertengger di posisi runner-up sebelum akhirnya digeser ClasMild, merek keluaran Nojorono.

Selain SKM mild, BP pun cukup bisa berbicara di segmen sigaret putih mesin (SPM) lewat merek Country. Rokok yang diluncurkan pada 1998 ini berhasil memanfaatkan kompetensi dan kapasitas BP yang sebelumnya pernah memproduksi Marlboro. Hasilnya, Country bisa merangsek ke posisi ketiga di bawah Marlboro dan Ardath.

Memasuki 2006, BP kembali menemukan kepercayaan dirinya. Selain tetap fokus di segmen yang tengah berkembang pesat, SKM mild, perusahaan yang didirikan Ong Hok Liong pada 1930 ini juga melirik segmen lain, yaitu SKT dan SPM. “Visi Bentoel adalah menjadi perusahaan yang terpandang dan besar di industri rokok dan tidak terbatas pada satu segmen saja,” ungkap Ginawati Wibowo, Chief Marketing Officer BP. “Semua peluang itu kami coba optimalkan sesuai dengan kemampuan, baik dari strategi maupun finansial.”

Gina mengatakan, BP punya cukup amunisi untuk berperang. Portofolio produknya menyasar semua segmen rokok yang berkembang di Tanah Air. Satu per satu merek yang dimilikinya dipoles kembali. “Konsentrasi kami adalah untuk meningkatkan brand value produk yang ada,” ujarnya.

Nico menambahkan, ada banyak pilihan merek yang dapat diangkat BP. Hanya saja, mereka memang harus menghitung kemampuan sumber daya, khususnya dari aspek finansial untuk mengangkat merek-merek yang mereka miliki. “Kami bukanlah perusahaan yang punya dana tidak terbatas seperti ‘teman-teman’ kami itu,” ujarnya. Maka, pilihan akhirnya jatuh pada Sejati dan Country yang dinilai punya potensi besar untuk dikembangkan.

Gina membenarkan ungkapan bosnya itu. Dikatakannya, di segmen SKT, terlihat ada gap yang cukup besar antara pemain lapis atas dan pemain di bawahnya. Pemain-pemain yang cukup memperhatikan aspek citra, seperti Sampoerna Hijau, Djarum (Coklat dan 76) serta Gudang Garam Merah telanjur berada di posisi harga yang relatif tinggi. Adapun pemain lapis bawah, hampir semuanya hanya mengandalkan harga sebagai alat bersaing. “Kami mencoba masuk dengan menawarkan value yang pas, yaitu harga yang affordable dan image yang terus dibangun.”

Untuk segmen SPM, BP melihat persaingan di segmen ini relatif masih terbuka. Marlboro sebagai pemimpin pasar tidak bisa berbuat banyak karena terbentur regulasi. Adapun Ardath, sebagai pemain lapis kedua, posisinya tidaklah terlalu kuat, dan masih sangat mungkin digoyang. “Kami punya pengalaman yang tidak kalah di segmen ini. Karena itu, Country pun dipilih untuk lebih di-push,” ujar Gina.

Upaya BP memoles kedua merek tersebut berbuah manis. Tutup tahun 2006, BP kembali ke posisi awalnya di kancah persaingan industri rokok, yaitu posisi ke-4 dengan menyalip Nojorono dan Philip Morris. Angka penjualan BP bahkan mencatat rekor: menembus 10 miliar batang, prestasi yang belum pernah mereka raih sebelumnya.

Momentum pertumbuhan BP terus berlanjut hingga kuartal I/2007. Penjualannya naik 44% dari periode yang sama tahun lalu, yaitu mencapai 3,3 miliar batang. Padahal, pada 2004 penjualannya baru sekitar 300 juta batang, 2005 sebesar 670 juta batang, dan 2006 sebesar 1,67 miliar batang.

Pengamat pemasaran yang juga Direktur Pengelola MarkTrend, Andi Utomo, menyebutkan bahwa BP sangat jeli melihat peluang. SKT merupakan segmen yang kembali tumbuh setelah Sampoerna Hijau, diikuti Djarum (Coklat dan 76), sukses mengembangkan pasar ke segmen anak muda. “Sebelumnya, segmen ini identik dengan orang tua. Nah, BP tinggal mengikuti tren itu saja,” kata Andi.

Sama halnya dengan Sejati, menurut Andi, Country juga tumbuh karena BP bisa memanfaatkan peluang. Dengan strategi mengikuti arus tersebut, BP meraih wind fall (pertumbuhan yang tidak terduga). “Strateginya sebenarnya tidak terlalu istimewa. Hanya saja, BP memang pintar memanfaatkan momentum.”

Country: Terobos Dominasi Merek Internasional

Secara tradisional, segmen sigaret putih mesin (SPM) atau yang lebih dikenal dengan sebutan rokok putih memang kurang cocok dengan karakteristik konsumen Indonesia. Tak mengherankan, di sini pasar rokok putih terus menurun dari tahun ke tahun. Berdasarkan data yang diterbitkan AC Nielsen, hingga akhir 2006, pangsa pasar rokok putih hanya 7,36% dari total industri rokok di Indonesia. Padahal, di akhir 2005 pangsa pasarnya 7,91%.

Namun, bukan berarti segmen SPM tidak menarik lagi. Diakui Ginawati Wibowo, Chief Marketing Officer BP, segmen pasar rokok putih tergolong kecil jika dibanding segmen rokok lainnya. Akan tetapi, total pasar rokok di Indonesia amatlah besar, yaitu mencapai 225 miliar batang. “Kami melihat masih ada peluang yang bisa digarap di segmen ini,” ungkap Gina. “Sebesar 8% dari 225, kira-kira 20 miliar batang, suatu yang ukuran yang cukup sizeable.”

Nicolaas B. Tirtadinata, Presiden Direktur PT Bentoel Prima Tbk., menambahkan, pengalaman BP yang sebelumnya pernah membuat dan juga mendistribusikan rokok Marlboro juga menjadi salah satu pertimbangan, sehingga akhirnya pada tahun 1998 BP berani masuk ke segmen SPM dengan merek Country. “Kami belajar lewat Marlboro. Kami jadi tahu market-nya ada di mana, sebenarnya dari situ kami lihat bahwa rokok putih punya kesempatan yang cukup baik,” ujar mantan bankir ini. “Kalau kami bisa membuat Marlboro in the past, why can’t we make our own brand.”

Sebelum mempersiapkan peluncuran produk, prototipe produk BP akan dicoba dulu di expert panel secara internal untuk menyaring kandidat-kandidat blend yang paling potensial. Walaupun sudah mendapat citarasa yang cocok, BP juga mengambil eksternal panel dengan melibatkan target pasar di mana produk akan disasarkan. “Persiapannya mungkin sekitar satu tahun,” kata Nico.

Wilayah Sumatera, khususnya Sumatera Utara, menjadi area pertama yang dijajaki Country. Dijelaskan Nico, ada empat hal yang menjadi pertimbangan BP untuk masuk ke suatu area: besar suatu segmen di area tersebut, kompetisi, merek yang ditawarkan, dan seberapa lebar atau dalamnya akan masuk ke suatu area. “Wilayah Sumatera Utara merupakan pasar rokok putih terbesar di Indonesia.”

Lebih dari tiga tahun menjadi rokok lokal di Sum-Ut, Country belum juga menunjukkan perkembangan yang berarti. Produksinya masih berkutat pada angka 3-4 juta batang/minggu. “Sempat muncul keraguan, apakah merek ini mau diteruskan atau tidak,” ungkap Nico. Namun, manajemen BP tidak mengambil jalan pintas untuk membunuh Country. “Kami malah mulai memberikan dukungan yang lebih kepada merek Country.”

Gina menjelaskan, setiap merek yang mereka lempar ke pasar harus memiliki sesuatu yang lebih di mata konsumen, terlebih pasar SPM didominasi pemain-pemain asing dengan merek-merek internasionalnya. “Kita bicara tentang brand value. Ketika konsumen memutuskan membeli suatu produk atau brand, ada hal yang jadi pertimbangan, yaitu harga, kualitas dan image. Maka, we should be able to deliver high quality product dan we build the image dengan price yang offerable,” ujarnya. “Buah dari pemikiran itu, adalah less price, more quality, more image sehingga much better value.”

Menurut Gina, BP punya peluang yang sangat besar untuk mengerek brand value-nya. Pasalnya, penguasa pasar rokok putih, Marlboro, tidak bisa beriklan di televisi. “Ini merupakan keuntungan bagi kami,” ungkapnya. Maka, BP pun langsung menggeber kampanye Country di berbagai media. Namun, BP memahami benar bahwa biaya yang diperlukan untuk menyokong kampanye tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk itu, sebagai pancingan digunakan pesan pendek dengan menggunakan media radio dan juga memajang media komunikasi below the line, mulai dari sticker, poster, sun screen, hanging mobile, flag sign, spanduk, banner, umbul-umbul, sampai displai produk. “Seluruh materi promosi menggunakan tema adventure,” kata Gina, “karena jenis rokok ini sangat sesuai dengan tema tersebut.”

Agar citra Country dapat lebih terdongkrak, pengambilan gambar untuk iklan Country dilakukan di Australia yang memiliki gunung batu yang terjal. “Semua agar image Country tidak kalah dibanding rokok-rokok internasional lainnya,” ungkap Gina.

“Country sangat memanfaatkan keterbatasan Marlboro. Mereka buat iklan yang mirip-mirip Marlboro dengan mengusung tema adventure,” ujar Andi menambahkan. Menurutnya, tema petualangan memang sangat sesuai dengan industri rokok, khususnya rokok yang membidik segmen anak muda. “Mereka sepertinya juga belajar dari kesuksesan Djarum Super yang ‘mencuri’ tema adventure dari Marlboro.”

Langkah BP ternyata sangat tepat. Memasuki 2002, penjualan Country mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Pada akhir 2002, penjualannya menembus 28 juta batang/bulan. BP pun mulai menggerakkan Country ke wilayah lain, seperti Jawa Timur dan Bali yang pasar rokok putihnya relatif besar. “Kami tidak langsung go national,” ungkap Nico.

Menurut Andi, selain tema komunikasi yang tepat, perkembangan Country pun didukung strategi BP yang membidik pasar yang gemuk terlebih dulu. “Follower memang harus seperti itu, harus masuk di pasar yang gemuk. Kalau sudah relatif besar, baru mengembangkan pasar ke wilayah lain. Tapi yang pasti, image sudah mulai terbentuk.”

Peningkatan penjualan yang sangat signifikan tidak lantas membuat manajemen BP berpuas diri. Malah, BP semakin gencar memacu akselerasi Country, khususnya untuk terus mengangkat citranya. Pasalnya, rokok ini akan segera naik kelas dan dipaksa menaikkan harga. “Belakangan ini, investasi lebih banyak digulirkan untuk membentuk image yang high quality dan international reputation,” ungkap Gina. Jangan heran, angka belanja iklan Country terus meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan pantauan Nielsen Media Research, pada 2006 BP harus merogoh kocek hingga Rp 46,63 miliar untuk mengomunikasikan Country di berbagai media. Tahun ini, angkanya diperkirakan lebih besar lagi. Pasalnya, hingga April 2007, belanja iklan Country sudah menembus angka Rp 16,5 miliar.

Namun, upaya tersebut cukup berbuah manis. Menurut Nico, saat ini produksi Country 50 juta batang/minggu. “Kami sekarang sudah berada di posisi kedua untuk segmen SPM,” ungkapnya bangga.

Andi mengatakan, keberhasilan Country menembus posisi kedua di kategori rokok putih merupakan prestasi yang sangat luar biasa. Pasalnya, BP merupakan produsen rokok lokal, sedangkan segmen ini sangat identik dengan merek-merek internasional. “Kalau tidak hati-hati, Marlboro juga bisa disalip,” ujarnya.

Sejati: Manfaatkan Momentum Pertumbuhan

Segmen sigaret keretek tangan (SKT) selalu saja menarik. Walau sempat tergusur oleh sigaret keretek mesin (SKM), segmen ini kembali mengalami pertumbuhan pada 2006. Bahkan, berdasarkan data dari AC Nielsen, hingga akhir 2006 pangsa pasar segmen ini kembali menjadi yang terbesar dengan pangsa pasar 38,93%, sedangkan SKM hanya 35,18%.

Jelas, segmen ini merupakan segmen yang sangat menarik. Jadi, harap maklum jika hampir semua pemain di bisnis rokok berusaha membidik segmen ini. Terlebih segmen ini hampir selalu menjanjikan gross profit yang lebih besar ketimbang segmen lain. “Banyak pemain yang mencoba, tapi lebih banyak yang gagal,” ungkap Ginawati Wibowo, Chief Marketing Officer BP.

BP pun tidak mau ketinggalan. “Kami yakin, kami punya konsep, blend dan desain yang bagus,” kata Gina. Karena itu, BP pun berani meluncurkan Sejati pada 2002.

Pertama kali di lempar ke pasar, Sejati hanya menjangkau Jawa Barat. ”Saat itu kami masuk ke beberapa daerah, dengan harga yang agak sedikit didiskon. Tapi, itu hanya proses untuk mengetes pasar itu sendiri,” ujar Nicolaas B. Tirtadinata, Presiden Direktur PT Bentoel Prima Tbk. Ja-Bar dianggap sebagai pasar yang paling kuat di segmen SKT.

Cukup lama Sejati hanya bercokol di Ja-Bar, yaitu hingga 2005. “Kami melihat kecamatan per kecamatan dan juga melakukan penetrasi yang terstruktur. Jawa Barat market-nya besar, praktis pada 2005 sebagian besar di Jawa Barat, barulah 2006 mulai ke pinggiran Jawa Barat, ke perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.” ungkap Nico. “Bahkan, sampai sekarang pun Jawa Barat tetap memberikan kontribusi paling besar untuk penjualan Sejati.”

Dijelaskan Gina, khusus SKT, produk dan harga merupakan hal yang harus paling diperhatikan. Pasalnya, target pasar rokok segmen ini lebih ke segmen menengah- bawah, karena jenis rokok ini dianggap “mengenyangkan” (karena bisa lebih lama dinikmati). “Pertama kami terbang dengan kombinasi antara harga dan produk, image-nya belum begitu di-build,” ujarnya.

Namun, strategi tersebut ternyata belum mampu mengangkat Sejati. Maka, BP pun mulai mencoba membangun citra Sejati. Walau frekuensinya masih rendah, iklan Sejati mulai muncul di layar kaca. Gina menjelaskan, dalam pembuatan iklan, sebisa mungkin mereka menggunakan orang lokal. Selain karena faktor harga, hal yang lebih penting adalah orang Indonesia mengerti pasar Indonesia. “Seluruh kru advertising agency kami juga orang Indonesia, dan kami merasa sangat terbantu dengan mereka, karena mereka mengerti konsumen dan brand kami. Mereka tahu bagaimana berbicara dengan konsumen Indonesia.”

Gina mengatakan, BP memahami, umumnya perokok SKT adalah pekerja keras, biasa hidup dalam komunitas yang akrab satu sama lain, berjawab terhadap keluarga dan pekerjaannya, dan membutuhkan apresiasi. Sebab, sering bapak-bapak itu sudah bekerja keras, tapi mungkin istri atau lingkungannya kurang mengapresiasi. “Mereka juga butuh pengakuan, butuh dihargai. Nah, Sejati datang untuk menepuk pundaknya, ‘Anda memang sungguh membanggakan’,” kata Gina.

Dia menjelaskan, citra yang ingin dibentuk dari kampanye tersebut: Sejati adalah merek yang dekat, mengerti dan menghargai konsumen. Angle tersebut sengaja diambil agar Sejati terasa menjadi bagian komunitas target pasar. Untuk itulah, pemilihan talent adalah orang-orang biasa yang ditampilkan kebersahajaannya, seperti apa adanya.

“Bentoel pintar memanfaatkan tren,” Andi menilai. Tema komunikasi yang diusung Sejati, dikatakannya, tidak berbeda dari yang dilakukan Sampoerna ketika mengerek kembali Sampoena Hijau. Dengan tema komunikasi itu, citra Sejati dapat cepat terangkat. “Di industri rokok, yang terpenting adalah harga dan image.”

Andi menuturkan, citra merupakan faktor yang harus diperhatikan BP. Pasalnya, suatu saat nanti BP akan dipaksa menaikkan harga jual produknya jika jumlah produksinya sudah mencapai batas yang ditentukan. “Nah, akan sangat berbahaya jika mereka tidak bisa mengerek image produknya dari sekarang.”

Pencitraan yang dilakukan BP ternyata berbuah manis. Penjualan Sejati terus meningkat. Nico mengungkapkan, saat ini total produksi Sejati sudah menembus angka 60 juta batang/minggu. “Ini merupakan buah dari kerja keras kami selama ini.”

Namun, hasil tersebut tidak didapat dengan mudah. Dan, tak sedikit rupiah yang dibenamkan BP untuk mengerek citra Sejati lewat kampanye above the line. Berdasarkan pantauan Nielsen Media Research, hingga April 2007, sedikitnya Rp 24,02 miliar sudah dihabiskan BP untuk Sejati. Dan, hingga akhir tahun ini, hampir bisa dipastikan jumlah yang akan dikeluarkan BP akan lebih tinggi dibanding tahun lalu — hingga akhir 2006, total dana BP untuk kampanye lini atas ini hanyalah Rp 29,25 miliar.

Nico mengatakan, selain faktor produk, keberhasilan BP kembali menduduki posisinya juga ditunjang infrastruktur yang mereka miliki, seperti sumber daya manusia dan distribusi yang ditunjang sistem teknologi informasi yang terintegrasi. “Saya bisa klaim bahwa di industri rokok distribusi, kami adalah yang terbaik,” ujar Nico pasti. Menurutnya, BP memiliki sistem SAP yang terintegrasi. “Philip Morris belum bisa bikin yang seperti ini, salesman pakai PDA yang terintegrasi dengan SAP.”

Dengan memakai PDA, kerja para tenaga penjualan akan lebih efektif dan efisien. Nico menjelaskan, sebelum menggunakan sistem tersebut, sebagian waktu kerja para tenaga penjualan dihabiskan di kantor untuk mencatat atau membuat laporan. Dengan sistem ini, pada saat pagi hari, dengan mengunduh data di PDA, mereka akan tahu stok yang mesti dibawa (berdasarkan coverage empat minggu terakhir), jumlah yang mesti ditagih ke toko, dan rute yang harus dikunjungi. Kecepatan dalam hal administratif tersebut akan mempercepat kerja tenaga penjualan di lapangan. “Semakin lama mereka berada di lapangan akan semakin baik bagi kami,” ungkapnya.

Setiap kali ke luar kantor, sudah tercatat kilometernya berapa, jamnya berapa, dari satu toko ke toko yang lain waktu tempuhnya berapa. “Kami bisa memonitor dari satu toko ke toko lain, sehingga secara tidak langsung, sistem itu men-drive dan mengontrol si salesman,” ujar Nico. Pulang ke kantor, tenaga penjualan sudah tahu sisa rokok yang mesti dikembalikan ke gudang, uang yang mesti dia pulangkan, berapa yang tidak bisa ditagih, sehingga dia tidak perlu merekap lagi.

Keberadaan sistem TI itu tidak hanya memudahkan kerja tenaga penjualan. Bagi manajemen BP pun sistem tersebut sangat membantu, khususnya dalam proses pengambilan keputusan. “Saya dengan mudah bisa melihat top ten wholesaler atau top ten salesman pada sore harinya. Ini sangat menolong sekali,” katanya. “Proses pengambilan keputusan juga dapat dilakukan dengan lebih cepat.”

Menurut Nico, dengan sistem seperti itu, tenaga penjualan BP senang karena bisa menjual lebih banyak, bisa mencapai target, dan mendapat bonus. Satu lagi, mereka lebih profesional di mata gerai yang dikunjungi. “Ini juga akan turut mendongkrak image BP secara korporat.”

Menurut Andi, kecanggihan sistem TI BP merupakan faktor yang sangat mendukung perkembangannya saat ini. “Industri tokok itu butuh kecepatan, khususnya dalam pengambilan keputusan,” tuturnya. Dengan sistem yang dimilikinya, BP sangat mungkin memodifikasi strateginya sesuai dengan perkembangan yang terjadi di lapangan saat itu juga. “Selain cepat, dengan sistem ini, datanya lebih akurat.”

Saat ini, dikatakan Andi, BP sudah berjalan on the right track. “Ke depan, rasanya sangat mungkin BP bisa tumbuh lebih besar lagi,” ungkap Andi.

5 pemikiran pada “Kendaraan Baru Bentoel

  1. Bentoel Prima (BP), memang fenomenal. Pernah mengalami kondisi terpuruk, namun mampu bangkit lagi masuk ke jajaran 5 besar pabrikan rokok di Indonesia (HM Sampoerna, Djarum, Gudang Garam, Nojorono, Bentoel). Namun rupanya kebangkitan BP “disambut” dengan peraturan cukai No. 134/PMK.04/2007, 1 Nopember 2007, yang diberlakukan mulai tgl. 1 Januari 2008, membuat posisi BP menjadi “serba sulit”. Hal ini disebabkan karena salah satu pilar produk mereka, SKT Sejati, terpaksa harus “naik kelas” dari kelas menengah ke kelas besar, karena produksi tahun 2007 lebih dari 2 milyar batang, sementara batas maksimum kelas menengah adalah 2 milyar batang. Hal ini berarti beban cukai yang harus dibayarkan lebih tinggi. Konsekuensinya terdapat kenaikan harga jual yang signifikan kepada konsumen.
    Konsumen SKT umumnya adalah golongan menengah ke bawah, yang lebih sensitif terhadap harga. Karenanya kenaikan harga SKT Sejati yang signifikan akan berpengaruh pula terhadap penjualan (dalam volume batang rokok). Terdapat fenomena menarik pada konsumen SKT, dimana terdapat kelas-kelas harga jual rokok, kelas 2000-2500 per bungkus, 2500-3000 per bungkus dst. Kenaikan harga 500 rupiah per bungkus akan sangat berpengaruh pada konsumen.
    Sisi lain, dengan “kenaikan kelas” ini menyebabkan SKT Sejati harus “head to head” dengan pesaing di kelas atasnya, seperti GG Merah, Sampoerna Hijau, Djarum 76 ataupun Djarum Coklat yang sudah terlebih dahulu bercokol di kelas ini, dengan brand image yang lebih baik daripada SKT Sejati.
    Beruntung, manajemen BP “menyadari” pentingnya menjaga brand image, sehingga walaupun awalnya dari produk dengan harga jual lebih murah dengan promosi yang konsisten dan mengena konsumen, diharapkan brand SKT Sejati dapat mengimbangi kenaikan harga yang setara dengan harga jual SKT kelas atas.

    Memang tidak mudah untuk “bermain” dalam industri rokok, berbeda dengan industri lain yang pelakunya selalu berupaya untuk menggenjot penjualan (baik volume maupun rupiah), pelaku industri rokok harus berhati2 dalam menggenjot volume penjualan, karena adanya batasan produksi terkait dengan cukai yang dibayarkan. Sebagai gambaran, untuk kategori SKT, produksi 0-500 juta batang/tahun Harga Jual Eceran (HJE) Minimum adalah Rp. 234,-/btg, tarif cukai 0%, cukai spesifik RP. 30,-/btg. Produksi 500 juta – 2 milyar batang/tahun, HJE Minimum Rp. 383,-/btg, tarif cukai 10 %, cukai spesifik Rp. 35,-/btg. Produksi lebih dari 2 milyar batang/tahun, HJE Minimum Rp. 520,-/btg, tarif cukai 18 %, cukai spesifik Rp. 35,-/btg (134/PMK.04/2007).
    Melihat aturan cukai di atas, sungguh tidak mudah untuk “bermain” dalam industri rokok kretek, karena banyaknya peraturan yang membatasi industri ini. Disamping juga adanya gerakan anti rokok yang semakin menguat.

    Kontribusi BP dalam perekonomian Indonesia berarti, karenanya dengan situasi sulit seperti ini, kita tunggu bagaimana goyang sejati dapat bertahan dan tetap memberikan kebanggaan bagi BP.

  2. Kepad Yth,
    Pimpinan PT. Bentoel Int’l
    Di tempat

    Dengan hormat,
    Saya adalah ketua umum Pembinaan Olah raga ” Putra Sejati ” khususnya Sepak Bola dan Bulutangkis, yang beralamat di Kp. Kedep Kel. Tlajung Udik Gn. Putri Bogor 16962. Telp. 021-86861634 – 08159488749.
    sehubungan dengan rencana Kami pada awal bulan Juni 2008 akan melaksanakan Turnamen ” Putra Sejati Cup” Sepak Bola & Bulutangkis tingkat kecamatan, guna memasyarakatkan olah raga dan mengolah ragakan masyarakat, serta mencari bibit baru dalam kancah sepak bola dan Bulutangkis, kami sangat berharap kepada Pimpinan Perusahaan PT. Bentoel Int’l untuk dapat membantu mensponsori acara tersebut sesuai dengan salah satu nama product rokok kretek Pt. Bentoel Int’l saat ini yaitu Kretek Sejati.
    Adapun Kebutuhan sponsor yang kami perlukan antara lain :
    Spanduk, Kaos, Tropy & piala, serta hadiah hiburan lainya.
    Untuk keterangan lebih lanjut silahkan menghubungi Sekretariat kami
    di alamat tersebut diatas.
    Demikian kami sampaikan untuk keperluan Sponsor tersebut, atas perhatian serta kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

    Hormat Kami,
    ” Putra Sejati Club ”

    Ttd

    Abdul Wahab Zarko

  3. Dear : Purchasing Dept.

    Bersama ini, kami PT. Surya Cakra Mandiri, bermaksud memperkenalkan diri kepada perusahaan Bapak /Ibu dengan harapan dapat menjalin kerja sama yang baik di kemudian Hari.

    Kami adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang supplier electrical, tools, pneumatic Dan cable.

    Electrical : MITSUBISHI ; OMRON ; FUJI ELECTRIC ; MERLIN GERIN ; ABB DLL
    Power Cable : SUPREME ; TRANKA ; METAL ; LINDO ; JEMBO

    Tools : ELORA ; STANLEY ; LIPPRO

    Hand Tools : HITACHI ; MAKITA ; BOSCH ; TOKU TOOLS

    Pneumatic : SMC ; CKD
    Hydraulic : LEGRIS ; SWAGELOK ; HAMLET ; PARKER

    Handing : HAND PALLET OPK, SWAN (SPART PART OPK ORIGINAL ),DLL

    Perusahaan kami memiliki tenaga staff Dan marketing yang berpengalaman, dimana kami akan berusaha memberi kepuasan atas permintaan produk – produk yang dibutuhkan di perusahaan Bapak / Ibu sekalian.

    Perusahaan kami berusaha mengadakan produk – produk yang memiliki kualitas harga yang sangat kompetitif dengan harga pasaran, dimana pengiriman adalah modal Dan jaminan dari PT. Surya Cakra Mandiri.

    Kami juga dapat menyertakan referensi perusahaan yang telah menjalin kerjasama dengan perusahaan kami, dimana kami yakin bahwa informasi tersebut akan sangat berguna sekali bagi perusahaan Bapak / Ibu sekalian.

    Demikian sekilas latar belakang perusahaan kami, besar harapan kami untuk dapat menjalin kerja sama yang lebih lanjut dengan perusahaan Bapak / Ibu.

    Apabila Ada informasi yang kurang jelas, Bapak / Ibu dapat menghubungi tenaga staff Dan marketing kami, dengan senang hati kami akan berusaha memberikan segala informasi yang Bapak / Ibu perlukan .

    Terima kasih atas perhatian Dan kepercayaan yang di berikan.

    Hormat kami,
    Nur
    PT. Surya Cakra Mandiri
    021 – 691. 8957
    021 – 691. 8958

  4. kami adalah sebuah Festifal Organizer yang bernama JAGARIKSA yang khusus menangani kegiatan seni dan budaya kota Bandung yang ada di kota bandung yang mana pada tanggal 21 desember 2008 akan mengadakan suatu kegiatan pagelaran akbar tentang seni dan budaya kota bandung, yang mana acara tersebyut kami beri tema “PAGELARAN JAWARA BENJANG 2008” benjang adalah salah satu seni tradisional Kota Bandung yang tersebar di seluruh kota madya dan kabupaten bandung, yang mana pada setiap tahunnya diadakan suatu pemilihan JAWARA SEJATI yang diikuti oleh seluruh operguruan Benjang, yang mana sumarry event nya sebagai berikut :

    TEMA EVENT : JAWARA 2008
    WAKTU : MINGGU/21 DES 2008
    VENNUE : ALUN0-ALUN UJUNGBERUNG BDG
    PESERTA : =/- 25 PERGURUAN BENJANG
    AUDIENS : 4000 ORANG ( LAST YEAR )
    GENDER : UMUM
    UMUR : 18+
    BIAYA YANG DIBUTUH KAN : 54.000.000

    dengan kegiatan pagelaran diatas kami yakin dapat digunakan sebagai sarana promosi yang akuran dan mengenai pangsa pasar yang dibidik.
    kami mengharapkan perusahaan yang bapak/ibu pimpin dapat menseponsori kegiatan kami baik sponsor utama maupun co-sponsor. kami dapat di hubungi melakui emai : citrasalaksa@yahoo.com atau phone : 08584 60 55678 / office : belakang smun 24 ujungberung Bandung, telp 022-76710936.
    sebelumnya kami mengucapkan terimakasih.

    Hormat saya
    YOGI PERMANA
    Ketua Umum JAGARIKSA

  5. ,Salam buisnies , , aku punya nama merk yg pas buat perusahaan Bentoel int’l , bila tdk berminat dgn nama merk dr kami abaikan sa,,,,,,,,,,,,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s