Ancaman Komiditisasi

Rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM pada akhir Mei 2008 ini mungkin akan juga berdampak pada perkembangan brand di Indonesia. Naiknya harga BBM sudah dipastikan akan mengerek naik harga-harga kebutuhan lainnya. Bahkan, sebelum BBM benar-benar naik, harga beberapa barang sudah lebih dulu naik. Nanti, ketika BBM benar-benar naik, harga barang tersebut akan kembali naik.

Bagi masyarakat kebanyakan, beberapa bulan atau bahkan setahun terakhir ini merupakan masa yang sangat sulit. Harga beberapa kebutuhan pokok terus bergerak naik, sementara pertumbuhan income tidak bisa mengirinya. Ambil contoh produk minyak goreng. Harga salah satu kebutuhan pokok rumah tangga ini sudah meningkat 100%. Saat ini, di kategori ini brand sudah mulai menjadi tidak penting. Turunnya purchasing power konsumen membuat minyak goreng curah kembali menjadi pilihan. Atau, di pasar modern, minyak goreng private label — yang biasanya haraganya lebih murah — menjadi lebih diminati ketimbang merek-merek beken seperti Bimoli atau Filma.

Jika harga BBM benar-benar naik pada akhir Mei ini, fenomena yang terjadi pada kategori minyak goreng akan sangat mungkin terjadi pada kebutuhan pokok lainnya. Barang curah (un-branded) di pasar tradisional atau private label (di pasar modern) akan lebih diminati? Ini jelas tantangan yang tidak ringan bagi para pengelola merek.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh para pengelola merek? Tak banyak pilihan. “Jual rugi” adalah salah satunya. Setidaknya, strategi tersebut bisa digunakan untuk survival. Setidaknya mereknya tidak mati. Kalau harus berdarah-darah, itu memang resikonya. Tapi, jika harga harus dinaikkan mengikuti kenaikan harga BBM, rasanya strategi tersebut merupakan langkah bunuh diri.

Sebenarnya, para marketer (khususnya marketer senior) di Indonesia sudah terbiasa dengan strategi jual rugi. Paling tidak langkah ini pernah dilakukan pada saat awal krisis moneter tahun 1997 hingga tahun 2000. Saat itu, melonjaknya nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah menjadi pencetus utamanya. Tapi, dengan stratgei jual rugi, beberapa merek terbukti bisa bertahan. Paling tidak, mereka masih punya uang untuk membuat mereknya tetap hidup. “Teruslah menari walau lingkarannya semakin kecil,” ungkap seorang pebisnis senior tentang strateginya bertahan terhadap krisis lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s