Cara Baru Membisniskan Lagu

Digitalisasi akhirnya merasuki pula industri musik. “Tren penggunaan CD dan kaset akan memudar. Pastinya akan ada format yang menggantikannya, yakni digital,” ungkap musisi kawakan Anang Hermansyah. Kenyataan itu mengilhami suami penyanyi Krisdayanti ini untuk melakukan terobosan baru pendistribusian lagu (musik), yaitu melalui format digital. Apalagi di beberapa negara maju, cara seperti itu sudah sejak beberapa tahun lalu diterapkan.

Namun, Anang tidak mau terjun seorang diri. Ia menggandeng Indra Lesmana dan Abdee (gitaris Slank) — yang dianggap punya visi yang sama — serta Triawan Munaf sebagai mitranya, untuk kemudian mendirikan perusahaan distributor musik digital, Independen Musik Portal (Im:port) di bawah bendera PT Hijau Multi Kreatif Indonesia (HMKI). Selanjutnya, karena Im:port berkaitan erat dengan teknologi, HMKI pun menggandeng JatisMobile guna menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan untuk menyalurkan aset-aset digital para artis.

Menurut Gagan Gandara, Kepala Departemen Consumer Mobile Business, Divisi Manajemen Bisnis JatisMobile, ide awal Im:port muncul sejak tiga tahun lalu. “Baru tahun lalu kami melakukan riset cara orang mendengarkan musik,” ungkapnya. Dari riset selama setahun itu, serta pembicaraan bolak-balik dengan ketiga musisi tersebut, akhirnya dibuatkan sebuah aplikasi Im:port Player yang dibutuhkan untuk bisa mendengarkan musik-musik di handphone yang di-download dari situs Im:port secara gratis. “Memang sengaja digratiskan agar aplikasi ini cepat menyebar seperti sistem sel yang terus membelah,” ujar Gagan.

Aplikasi tersebut berlandaskan pemikiran bahwa di Indonesia ada satu cara lain untuk mendengarkan lagu secara digital, yakni melalui handset atau ponsel. Selain via Internet, aplikasi Im:port Player juga bisa diperoleh dari Mobile Print Station (MPS) milik PT Modern Putera Indonesia (MPI) — yang menjadi mitra Im:port — dan juga dari handset yang telah terinstal aplikasi itu atau peer-to-peer. Saat ini, hanya handset tipe tertentu yang bisa ditempeli aplikasi ini, seperti Nokia 6600, Nokia 6620, Nokia 6630, Nokia 6670, Nokia 6680, Nokia 6260, Nokia N91, Nokia 3230, 7610 Siemens SX1 Panasonic X700, dan Panasonic X800.

Anang mengakui, Im:port bukanlah yang pertama di Indonesia. Sebelumnya sempat ada perusahaan yang menjalankan bisnis sejenis. Hanya saja, kala itu pendistribusiannnya hanya melalui Internet, yaitu lewat situs http://www.soundbuzz.com. “Konsep Im:port berbeda,” ungkapnya. Layanan yang ditawarkan Im:port tidak hanya bisa diakses via Internet (www.importmusik.com), tapi juga lewat handphone dan gerai MPS.

Dijelaskannya, kerja sama antara HMKI dengan JatisMobile dan MPI menggunakan pola bagi hasil. Artinya, pendapatan yang diperoleh akan dibagi sesuai dengan kesepakatan yang dibuat oleh ketiga perusahaan tersebut — setelah dikurangi biaya royalti untuk artis, tentunya. “Semua ada hitungan dan jangka waktunya,” kata Anang.

Kemudahan dan proses yang tidak berbelit-belit merupakan daya tarik bagi artis untuk bekerja sama dengan Im:port. Pasalnya, artis tidak harus menunggu sampai albumnya selesai seluruhnya untuk bisa dijual. Hanya dengan satu lagu, artis sudah bisa menjualnya di Im:port. Selain itu, nama besar Anang, Indra dan Abdee juga menjadi jaminan bagi mereka. “Pas Mas Anang menawarkan bergabung, dan saya lihat bagus, yah saya bergabung,” ujar Dewi Sandra yang baru menyuplai satu lagu ke Im:port.

Hingga saat ini, sudah ratusan musisi, baik grup maupun solo yang bekerja sama dengan Im:port. Untuk Bandung saja ada puluhan band yang telah bergabung. Selain Dewi Sandra, artis kondang lain yang telah bergabung dengan Im:port adalah Siti Nurhaliza, di samping Indra Lesmana dan Anang sendiri tentunya. “Mereka sudah tidak terikat kontrak dengan major label,” ujarnya. Namun demikian, ke depan tidak menutup kemungkinan Im:port akan bekerja sama pula dengan major label untuk mendistribusikan lagu atau album.

Anang menyebut bahwa menjual lagu dengan cara digital lebih menguntungkan ketimbang cara konvensional. Pasalnya, dengan cara ini banyak birokrasi yang bisa dipangkas, sehingga biaya produksi dapat ditekan. “Untuk pengusaha dan seniman cara ini akan lebih hemat hingga 30%. Nantinya hasil pemangkasan itu bisa dibagi ke pelaku industri musik dan senimannya,” tukasnya.

Dari sisi konsumen, membeli lagu dari Im:port boleh jadi lebih mahal. Pasalnya, untuk men-download sebuah lagu dikenakan biaya Rp 5-10 ribu, bagaimana jika men-download satu album? Padahal, saat ini harga kaset sekitar Rp 20 ribu, yang berisi satu album lengkap. “Komparasinya jangan dengan kaset, tapi dengan CD dan iPod. iPod saja harga per lagunya mencapai US$ 1 (sekitar Rp 10 ribu – Red.),” kilah Anang.

Hingga saat ini, layanan yang ditawarkan Im:port memang belum banyak dikenal. Selain karena kurangnya promosi, jumlah gerai MPI yang bisa melayaninya juga belum banyak. Dari 250 kios MPI, yang terdiri dari Modern Photo Studio, Fuji Image Plaza dan mesin MPS, baru beberapa saja yang terinstal software Im:port. “Diharapkan sampai akhir Februari sudah 200 kios yang diinstal software Im:port,” ungkap Daniel Liman, Direktur Pengelola MPI.

MPI sendiri harus menginvestasikan Rp 1-1,5 juta agar siap menampung Im:port. Biaya itu digunakan untuk menambah dekorasi, pemasangan software, sampai upah teknisi yang berkeliling untuk menginstal software Im:port. “Investasi yang kami tanamkan bisa mencapai Rp 300 juta untuk menyiapkan kios-kios Modern Photo, Fuji Image Plaza dan MPS. Itu di luar biaya promosi,” ungkap Daniel.

Namun demikian, Daniel optimistis layanan ini akan mendapat respons yang baik dari masyarakat. Terlebih bagi MPI, layanan ini hanya menjadi layanan tambahan di luar layanan utamanya. Sehingga penambahan layanan Im:port hanya ditujukan untuk optimalisasi mesin yang mereka miliki. “Ya lumayan jika ada tambahan pemasukan Rp 1-2 juta dari menjual lagu ketimbang hanya mengandalkan dari cetak foto,” tukasnya.

Pengamat industri musik Bens Leo, menyebutkan bahwa pendistribusian musik secara digital merupakan hal yang baru di Indonesia. “Im:port harus tetap memperhatikan soal hak cipta,” ujar Bens mewanti-wanti.

Artikel ini dimuat di Majalah SWA edisi 06/2006, 23 Maret 2006

4 pemikiran pada “Cara Baru Membisniskan Lagu

  1. band saya udah mempunyai beberapa lagu yg udah di rekam,
    sya mohon infonya gmana caranya memasarkan lagu band sya,
    di jamin gak bakalan kcewa dngn lagu band sya
    Hub aja ke no 083187555404
    TRIMAKASIH.😀

  2. jika anda penyanyi wanita.aku pnya lagu bagus khusus buat wanita.di jamin bakalan mnyentuh lah.087823004499.ni no aku.terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s