Tanpa Liga Inggris, Astro Bisa Apa?

Para penggemar Liga Inggris (Barclays Premier League/BPL) di Indonesia dibuat bingung. Hingga detik terakhir sebelum kick off musim 08/09 tak ada kepastian stasiun TV mana yang bakal menayangkan pertandingan-pertandingan di liga yang disebut-sebut sebagai yang terbaik di dunia itu. Astro yang musim lalu menyiarkan sebagian besar pertandingan BPL secra langsung belum bisa memastikan apakah mereka akan kembali menyiarkan kompetisi BPL musim ini. Pecahnya kongsi antara Astro All Asia Network (Malaysia) dan grup Lippo di PT Direct Vision (DV) menjadi pemicu utamanya.

Astro (Malaysia) memilih untuk hengkang dari DV. Dan, bersamaan dengan hengkangnya Astro, hak siar BPL yang sudah dikantongi Astro untuk 3 musim (terhitung dari musim lalu) pun ikut hengkang dari TV Astro yang tayang di Indonesia. Kabar terakhirnya menyebutkan bahwa Astro (Malaysia) telah menjual hak siar BPL ke pemain baru di bisnis TV berbayar, Aora TV (PT Karyamegah Adijaya) yang ditukangi oleh Rini Soemarno, mantan Dirut Astra yang juga pernah menjadi Menteri Perdagangan RI. Konon, harga jual hak siar BPL tersebut mencapai US$ 20 juta untuk satu musim.
Kini, tanpa BPL, apakah Astro masih bisa bersaing di industri TV berbayar? Berat!. “Dagangan” utama Astro adalah BPL. Tahun lalu, ketika induknya berhasil meraih hak siar BPL untuk 3 musim, jumlah pelanggan Astro langsung melonjak drastis. Bahkan, DV sempat mencatat jumlah pelanggan tertinggi, yaitu 150 ribu pelanggan. Padahal, sebelum memperoleh hak siar BPL, jumlah pelanggan Astro tak lebih dari 30 ribu pelanggan. Jelas bahwa salah satu alasan utama orang berlanggan Astro adalah untuk bisa menyaksikan tayangan BPL. Termasuk saya juga ikut dalam rombongan yang “membeli” Astro dengan alasan utama untuk menyaksikan BPL.

Selain BPL, content Astro tergolong sangat biasa. Sebagian besar programnya adalah program ulangan. Channel-channel seperti Astro Ceria, Astro TVIQ, Astro Aruna, dll programnya diulang-ulang terus. Udah gitu TV lokal di Astro juga jumlahnya sangat terbatas, hanya ada TVRI, Indosiar, SCTV, TransTV, Trans7 dan Metro TV. Diluar itu, “dagangan” TV berbayar relatif sama, seperti AXN, StarTV, Bloomberg, CNN, National Geographic, dll.

Dengan kondisi seperti itu, apa Astro masih punya selling point? Rasanya hampir tidak ada. Dan, sangat mungkin terjadi rush di Astro. Tanpa BPL, apa lagi yang diharapkan dari Astro. Lebih baik pindah ke TV berbayar lain (tapi saat ini Aora TV belum dilirik), karena tayangannya lebih menarik dan lebih variatif. Sinetron, mungkin TV teristerial lebih baik. Astro Ceria, seperti kata Halim Mahfudz, Vice President Corporate Affair DV sebagai program yang paling diminati? Basi. Jasmine saja sampe bosen karena diulang-ulang terus.

Sekarang, saya sedang berpikir, mau pindah ke TV berbayar apa, karena Jasmine dan kadung suka nonton tayangan Play House Disney. Walau keinginan untuk tetap bisa menyaksikan BPL masih sangat tinggi, tapi saat ini Aora TV belum masuk daftar TV berbayar yang dilirik. Programnya masih sangat terbatas. Baru 12 channel bro, itu juga include 4 channel Olimpiade yang sebentar lagi berakhir. Ah, Ibu Rini, sepertinya Anda bakal buang uang banyak, karena dengan kondisi seperti saat ini, orang akan berpikir dua (atau lebih) kali untuk berlangganan Aora TV. Jangan-jangan tahun depan BPLnya pindah lagi? Nanti kalau channel TV Anda sudah sebanyak TV berbayar lain dan Anda berani buat kontrak dengan pelanggan untuk terus menyiarkan BPL minimal selama 3 musim, baru deh saya langganan Aora TV.

Sebellllll.

Satu pemikiran pada “Tanpa Liga Inggris, Astro Bisa Apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s