Cara Acer Merajai Pasar Laptop

Berusaha terus mengerti kebutuhan dan keinginan konsumen, ditunjang dengan kecepatan dalam meluncurkan produk baru, membuat Acer berhasil merajai pasar laptop tiga tahun berturut-turut.

Sebuah papan reklame raksasa berdiri kokoh di mulut Jl. Sudirman, Jakarta. Tampak gambar seorang gadis cantik yang memangku notebook duduk di atas angka 1 yang berjajar tiga. Di bawah angka 1 yang berukuran cukup besar, tersurat 2005, 2006 dan Q-3 2007 dengan ukuran huruf lebih kecil.

Papan reklame tersebut ingin menggambarkan bahwa dalam tiga tahun terakhir Acer merajai pasar komputer jinjing. “Sejak 2005 hingga kuartal III/2007, kami selalu menjadi nomor satu di Indonesia untuk produk notebook,” kata Helmy Anam, Manajer Komunikasi Pemasaran PT Acer Indonesia. “Bahkan berdasarkan laporan IDC, pada Q-3 (kuartal III) 2007 kami sudah menjadi nomor satu untuk pasar personal computer (PC) secara keseluruhan (desktop, notebook dan server) di Indonesia,” Helmy menambahkan.

Husen Halim, Manajer Produk Senior Consumer Acer, mengakui bahwa keberhasilan Acer menjadi pemuncak pasar PC di Indonesia lebih ditunjang oleh produk notebook yang sejak 2005 memimpin pasar di kategorinya. “Kontribusi terbesar masih dari produk notebook, tapi penjualan desktop kami juga mengalami pertumbuhan sangat signifikan,” ungkapnya.

Prestasi yang dibukukan Acer tergolong fenomenal. Maklum, sebelumnya vendor TI asal Taiwan ini bukanlah pemain yang terlalu diperhitungkan dalam persaingan bisnis notebook di Tanah Air. Sebelumnya, merek Acer berada di bawah merek-merek beken lainnya, seperti Toshiba, HP/Compaq dan IBM/Lenovo.

Namun, prestasi tersebut tidak diraih dengan mudah. Upaya pemasaran perusahaan yang secara resmi masuk ke Indonesia tahun 1998 ini dijalankan dengan lebih intensif. Acer agresif menggelar program promo, termasuk beriklan di media cetak. Berbagai program promosi digelar, seperti “Tabrak Rejeki” dan “Gila-Gilaan” (2006). Tidak tanggung-tanggung, setiap hari Acer memberikan hadiah tunai Rp 10 juta dan grand prize berupa New Toyota Camry untuk setiap pembelian produk Acer. Bukan hanya itu, perusahaan yang dikembangkan oleh Stan Shih pada 1976 ini menawarkan asuransi bagi penggunanya, yakni All Risk Protection Program, bekerja sama dengan perusahaan asuransi Allianz.

Helmy menyebutkan, Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial dan tengah mengalami pertumbuhan amat pesat. Tahun 2007 saja, pasar notebook di negeri ini mencapai lebih dari 400 ribu unit dengan pertumbuhan di atas 20%, sedangkan pasar PC secara keseluruhan mencapai 1,7 juta unit. Karena itu, Acer tak ragu berinvestasi di Indonesia, baik dalam hal merek maupun pengembangan jaringan.

Dalam mengembangkan merek, dikatakan Helmy, Acer tidak ragu menggelontorkan dana cukup besar untuk mengomunikasikan mereknya di berbagai media. Sejauh ini, media cetak dan media luar ruang masih menjadi pilihan utama. “Jenis produk yang dikomunikasikan pun disesuaikan dengan karakter pembaca media tersebut. TVC (TV commercial – iklan TV) kurang cocok bagi produk ini,” ujarnya tanpa bersedia menyebutkan besar anggaran untuk mengomunikasikan mereknya.

Meski demikian, berbeda dari kebanyakan pemain multinasional lainnya, materi promosi seluruhnya dikerjakan di Indonesia, mulai dari pemilihan agensi, model iklan hingga desain. “Kami memang memiliki guide lines dari head quarter, tapi eksekusinya tetap dengan local touch,” kata Helmy. “Tidak hanya di Indonesia, tapi di mana pun Acer berada, eksekusi komunikasinya selalu menggunakan pendekatan setempat,” katanya lagi. Tak mengherankan, komunikasi yang dilakukan Acer berbeda di setiap negara di mana mereka beroperasi. Pendekatan lokal ini dilakukan karena Acer percaya bahwa orang-orang lokal jauh lebih mengerti karakteristik pasar di negaranya.

Langkah Acer ini ternyata berbuah manis. Pesan yang ingin disampaikan kepada konsumen dapat diterima dengan baik. “Sekarang Acer diterima sebagai multinational brand,” ujar Helmy.

Selain strategi branding, faktor lain yang membuat Acer melejit adalah konsep bisnis yang dianutnya, yakni Channel Business Model. Dengan konsep ini, Acer sangat mendukung kerja sama dengan mitra dan pemasok, dengan fokus pada supply chain management serta riset dan pengembangan. Hal ini disadari karena PC merupakan produk teknologi yang pergerakannya sangat cepat. “Teknologi berkembang dengan sangat cepat. Kalau kami bicara prosesor saja, hampir setiap bulan Intel mengeluarkan prosesor baru,” ungkap Husen.

Setiap kali Intel meluncurkan produk terbarunya, Husen menuturkan, Acer langsung merespons dengan meluncurkan produk baru juga. “Karena itu, Acer sering disebut sebagai refresh technology,” katanya. Dia meyakinkan, Acer hampir selalu menjadi vendor pertama yang mengadopsi teknologi terkini yang dikeluarkan Intel, khususnya untuk seri Aspire yang ditujukan untuk konsumen perorangan. “Karena itu, life cycle produk menjadi sangat pendek,” ujarnya. Adapun seri Travel Mate yang ditujukan buat konsumen bisnis daur hidupnya jauh lebih panjang, mengingat untuk masuk ke pasar korporat dibutuhkan waktu lebih lama.

Menurut Husen, dengan pengalaman yang dimiliki, Acer bisa membuat forecast produksi barang yang akan dilempar ke pasar. Bermain di bisnis teknologi yang perkembangannya sangat cepat menjadikan ramalan produksi sangat penting. Pasalnya, jika produk baru diluncurkan, produk lama yang di-refresh secara otomatis akan terdegradasi. “Sejauh ini, setiap kali kami meluncurkan produk baru, produk lama sudah habis diserap pasar,” katanya. “Tapi terkadang kami missed juga, produk baru belum keluar, tapi produk lama sudah habis. Makanya, sempat ada konsumen yang inden.”

Masih terkait dengan produk, selain teknologi, Acer pun sangat memperhatikan desain. Hampir semua produknya dibuat sangat fungsional dan user friendly dengan desain khusus yang disebut Folio Design. “Desain produk Acer juga memadukan unsur seni dan juga disesuaikan dengan perkembangan terkini,” tutur Helmy.

Kecepatan Acer dalam meluncurkan produk dan desain baru, Helmy menambahkan, tidak didasarkan pada kepentingan Acer semata. Semua produk dan desain yang diluncurkan sudah melewati riset yang mendalam yang tidak hanya melibatkan para punggawa Acer di berbagai negara, tapi juga konsumen di negera-negara tersebut. “Karena itu, daya serap pasar terhadap produk Acer sangat tinggi, karena sesuai dengan kebutuhan mereka. Jadi, istilahnya produk kami itu meet to market,” ujarnya.

Helmy menyebutkan, riset yang dilakukan Acer untuk menggali kebutuhan dan keinginan konsumen tidak pernah berhenti dilakukan. Karena itu pula, merek yang ketika awal masuk ke Indonesia dipasarkan oleh Metrodata ini berani memasang slogan citra “Acer Understands”. Maksudnya, Acer mengerti kebutuhan dan keinginan konsumen.

Kecepatan Acer dalam mengadopsi teknologi terkini, menurut Darmadi Durianto, merupakan salah satu kunci sukses merek ini di pasar Indonesia. Direktur Pengelola Vadriv Consulting itu menambahkan, “Jualan laptop itu jualan teknologi, jadi perkembangan teknologi harus terus diikuti.” Selain itu, ada unsur gengsi di dalam produk laptop. “Dengan cara begitu,” kata Darmadi, “mereka juga bisa menancapkan image bahwa Acer merupakan pionir dalam hal teknologi.”

Darmadi mengatakan, selain mengandalkan kekuatan produk, Acer juga sangat gencar melakukan program komunikasi. “Acer menjadi salah satu merek laptop yang sangat gencar beriklan di Kompas,” ungkapnya. Tidak hanya itu, Acer pun gencar menggelar pameran di berbagai tempat. “Jadi, baik ATL (above the line) maupun BTL (below the line) dijalankan dengan sangat gencar, tentunya dengan bujet yang sangat besar.”

Bujet yang dikeluarkan Acer, Helmy menjelaskan, bukanlah yang terbesar di antara pemain produk PC lainnya. Hanya saja, Acer punya program yang lebih terarah dalam membelanjakan uangnya. “Kami sangat selektif dalam beriklan,” katanya tandas.

Dari sisi harga, Husen menyebutkan, Acer menawarkan harga yang affordable bagi konsumen. “Kami bukan yang paling murah, tapi value yang didapat konsumen sangat tinggi jika mengacu pada spesifikasi produk yang kami tawarkan,” katanya. Dalam menjalankan bisnis ini, Acer sangat fleksibel menentukan margin. “Dalam bisnis, untung besar dan kecil itu tergantung pada cara kita memainkannya,” Husen menandaskan.

Acer membidik seluruh segmen. Sehingga, rentang harga yang ditawarkannya sangat luas: mulai dari Rp 5 jutaan hingga Rp 20 jutaan untuk seri Ferrari. “Mau yang murah kami ada dengan Celeron, mau yang mahal dan layak dikoleksi kami juga punya Ferrari,” kata Husen.

Strategi harga yang affordable dan berlapis-lapis, menurut Darmadi, sangat tepat diterapkan di pasar Indonesia. “Jadi, ada yang jual image, ada yang jual value,” ujarnya. Dalam penilaiannya, harga yang terlalu murah juga tidak cocok untuk produk laptop, karena citranya cenderung rendah. Produsen-produsen laptop lokal yang menawarkan harga yang jauh lebih murah pun tidak terlalu bagus penjualannya.

Kunci keberhasilan Acer lainnya adalah kemampuannya mengembangkan jaringan. Helmy mengatakan, dari waktu ke waktu pihaknya terus menambah jumlah channel pemasarannya. Namun, untuk urusan ini, Acer tidak mau terlibat lebih dalam. “Distribusi dan penjualan produk sepenuhnya dilakukan oleh para mitra kami. Kami tidak mau ada conflict of interest jika kami juga terlibat dalam penjualan,” katanya. Semua gerai penjualan, termasuk Acer Center yang hanya menjual produk Acer, dimiliki mitra bisnisnya. “Hanya satu yang kami kelola sendiri, yaitu service center di Mangga Dua Square,” ujar Helmy.

Husen menambahkan, yang perlu dilakukan Acer adalah menjaga hubungan baik dengan channel-channel pemasarannya. Tak hanya di produk konsumen, di produk teknologi, menurutnya, trade memegang peran yang sangat penting. Maka, Acer berusaha menjaga hubungan yang harmonis dengan channel-channel-nya. “Terkadang channel juga memberi masukan yang sangat berharga dalam hal pengembangan produk,” katanya.

Darmadi yang cukup mengetahui kondisi pasar laptop menilai Acer sangat pintar memotivasi channel-channel-nya. Tak mengherankan, channel-channel tersebut dapat berfungsi dengan baik. “Channel dididik sangat radikal dalam menjual Acer, tentunya dengan imbalan yang cukup lumayan.”

Menurut Darmadi, dominasi Acer di pasar laptop masih sangat mungkin digoyang pemain lain. Hanya saja, pemain lain harus lebih fokus dalam melakukan komunikasi pemasaran, khususnya dalam membangun merek. Sejauh ini, dikatakannya, belum ada pemain lain yang program komunikasinya setajam Acer. “Acer berani melakukannya dan terbukti mereka berhasil. Pemain lain pun seharusnya bisa.”

Mariana Kasim, Direktur Pemasaran Imaging Printing Group and Personal Systems Group PT Hewlett-Packard Indonesia, menyebutkan bahwa HP tetap berambisi menjadi pemain nomor satu di pasar laptop di Indonesia. Berbagai strategi telah disiapkan sebagai amunisi untuk merebut singgasana pasar laptop. “Kami akan terus meluncurkan produk-produk baru untuk memperkaya pilihan bagi konsumen,” ujarnya.

Selain itu, HP juga mengubah tema kampanyenya, dari “Personal Again” menjadi “What Do You Have to Say?” Mariana menjelaskan, tema kampanye baru ini menegaskan bahwa HP semakin mengedepankan pengalaman konsumen dengan produk-produk HP.

Menurut Helmy, persaingan di kategori produk laptop akan semakin ketat. Maka, Acer bakal melanjutkan strategi yang dijalankan selama ini, yang sudah terbukti membawa hasil yang baik.

Artikel ini dimuat di Majalah SWA edisi 02/2008, 24 Januari 2008

2 pemikiran pada “Cara Acer Merajai Pasar Laptop

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s