Cara Kidzania Ciptakan Juru Bicara

Berkat konsep yang berbeda, Kidzania sukses menyedot pengunjung. Kualitas layanan yang terus terjaga membuat pengunjung puas dan mau mempromosikan ke orang lain.

“Moms , mau sharing nih. Kemarin, kami pergi ke Kidzania. Aku, tiga anak dan satu asisten. Seru bangeeetttttt. Anak-anak sampai masuk dua kali, jadi bayar dua kali, sampai jam 8 malem.” Demikian Rita, seorang ibu rumah tangga, membuka ceritanya di sebuah forum virtual (mailing list) yang khusus membahas hal-hal yang berkaitan dengan anak dan balita.

Melalui e-mail tersebut, Rita secara gamblang menceritakan berbagai kegiatan yang dilakukan putra-putrinya di Kidzania. Dari ceritanya, tampak ibu tiga anak ini sangat puas telah mengunjungi pusat edutainment yang berlokasi di Pasific Place Lt. 6, Jakarta ini. Meski untuk itu Rita harus merogoh lebih dari Rp 1 juta dari koceknya untuk tiket masuk dan konsumsi, ia tidak merasa menyesal. Malahan, di akhir suratnya, Rita menulis, “Buat ibu-ibu yang punya anak berusia empat tahun ke atas, bawa deh ke Kidzania. Mereka akan mendapatkan pengalaman yang sangat menarik.”

Rita hanya satu dari ratusan ibu yang terkesan setelah mengunjungi Kidzania. Tak percaya? Coba Anda googling dengan kata kunci ”Kidzania”, Anda akan menemukan begitu banyak cerita tentang tempat bermain anak yang berasal dari Meksiko ini. Memang tak semua cerita bertendensi positif. Ada juga komentar miring, terutama mengenai ramainya tempat ini sehingga untuk bisa menikmati establishment (arena bermain) harus antre lama. Namun, setelah masuk ke dalam, umumnya anak-anak dan orang tua benar-benar mendapatkan pengalaman luar biasa.

Tak hanya di dunia maya, di dunia nyata pun Kidzania kini tengah jadi bahan pembicaraan – terutama di kalangan ibu rumah tangga. Sebagian besar orang tua yang pernah mengunjungi tempat rekreasi anak ini merasa terkesan dan tak ragu menceritakan pengalaman (experience)-nya itu ke orang lain. Sehebat itukah Kidzania?

Hadir di Indonesia pada November 2007, Kidzania langsung menjadi buah bibir. Maklum, konsep yang dikedepankan PT Aryan Indonesia (AI), pengelolanya, berbeda dari objek wisata anak lainnya di Tanah Air, yaitu edutainment dengan konsep dasar role play. Di tempat ini, anak-anak mendapat pembelajaran tentang banyak hal. Mereka pun dapat berperan dan berprofesi laiknya orang dewasa, seperti menjadi pilot, pemadam kebakaran, dokter dan pegawai bank.

Sarana rekreasi anak yang pertama kali berdiri di Santa Fe, Meksiko, ini tak ubahnya sebuah kota. Di dalamnya ada begitu banyak fasilitas dan aktivitas dari berbagai sektor industri. Ada perbankan, kesehatan, media, manufaktur, pelayanan dan kantor pemerintahan. “Kota” ini juga memiliki mata uang sendiri, Kidzos. “Karena itu, kami pun menggunakan jabatan-jabatan laiknya di pemerintahan,” ungkap Uchu Riza, pemilik Kidzania Jakarta yang menjabat sebagai Mayor (Walikota).

Uchu menjelaskan, “kota” ini memang diciptakan untuk anak-anak. “Di sini anak-anak merdeka dari orang dewasa,” ujarnya. Hal ini juga tertuang dalam ”Declaration of Independent” yang terpampang pada salah satu sudut “kota”. Dan, karena konsep kemerdekaan itu pulalah, sebagian besar establishment yang ada tidak mengizinkan orang tua mendampingi anaknya. Sebagai gantinya, bagi orang tua yang menunggu anaknya disediakan tempat istirahat yang cukup luas dan nyaman, lengkap dengan berbagai fasilitas, seperti TV kabel dan Internet.

Bagi orang tua yang tak mau menunggu, mereka bisa meninggalkan anaknya untuk bermain sendiri. “Keamanannya kami jamin, karena mereka hanya boleh keluar jika sudah ada yang menjemput,” ujar Uchu. Maklum, jam bermain di Kidzania tergolong cukup lama, yaitu 5-7 jam.

Uchu mengatakan, ada banyak hal positif yang bisa diperlihatkan anak jika lepas dari orang tuanya, seperti lebih mandiri dan kreatif. Apalagi, di Kidzania juga terdapat lebih dari 70 establishment yang sangat menarik bagi anak-anak. Ia memastikan setiap anak terawasi dengan baik, karena jumlah instruktur (baca: supervisor) yang tersedia cukup banyak. “Maksimal komposisinya 1:4,” ungkapnya seraya menyebutkan, AI memiliki 700 karyawan.

Sebagian besar profesi dari establishment di Kidzania, menurut wanita yang juga menjadi pemilik dan Kepala Sekolah Al Jabr Islamic School ini, dibiayai sponsor. Meski demikian, semua harus mempunyai unsur edukasi dan real life experience. “Yang terpenting, permainan harus menarik, seru, menantang dan ada unsur edukasinya,” ujar Uchu sambil menambahkan, Kidzania berarti the land of cool kids atau kotanya anak-anak keren.

Saat ini ada 43 sponsor yang bergabung dengan Kidzania. PT Unilever Indonesia lewat salah satu mereknya, Pepsodent, menyediakan establishment dokter gigi. Di lokasi ini anak-anak bisa berperan sebagai dokter gigi yang tengah mengobati pasiennya. BCA bertindak sebagai sponsor di bidang perbankan. Lewat bank ini, pengunjung bisa menabung uang Kidzosnya atau menarik uang lewat ATM. Atau, pengunjung bisa pula menjadi presenter di stasiun televisi yang disponsori Metro TV. Siaran tersebut akan ditayangkan di seluruh teve yang ada di “kota” Kidzania. “Seluruh peralatan yang digunakan di Kidzania sesuai dengan aslinya, hanya ukurannya yang disesuaikan dengan anak-anak.”

Uchu mengatakan, pilihan aktivitas yang disediakan di Kidzania akan terus ditambah sembari menunggu sponsor. Namun, beberapa aktivitas yang dianggap cukup penting dan belum ada sponsor tetap dijalankan, dengan biaya operasional ditanggung AI, seperti theater dan stasiun radio. Tak mengherankan, investasi AI untuk mengembangkan Kidzania tergolong cukup tinggi, yaitu mencapai US$ 14 juta.

Dari setiap aktivitas, pengunjung akan mendapat upah atau malah harus membayar (dengan Kidzos). “Jika dia bekerja, dia akan mendapat upah. Sedangkan jika sekadar menikmati, mereka harus membayar,” kata Uchu. Uang (baca: Kidzos) yang diterima tidak harus dihabiskan saat itu juga, karena uang dan kartu ATM bisa kembali digunakan jika pengunjung datang kembali ke Kidzania.

Dengan cara seperti itu, Uchu mengharapkan orang yang pernah mengunjungi Kidzania akan datang kembali. Terlebih, hampir bisa dipastikan pengunjung tidak akan dapat menikmati semua establishment hanya dalam satu kali kunjungan. Pasalnya, rata-rata setiap establishment membutuhkan waktu sekitar 20 menit, sementara jam kunjungan maksimal hanya 7 jam, yang terdiri dari dua paket, yaitu sesi lima jam dan sesi 7 jam.

Namun, Uchu sadar, orang tidak akan kembali ke Kidzania jika layanan dan fasilitasnya berkualitas rendah. “Karena itu, kami selalu melakukan evaluasi, baik terhadap fasilitas maupun aktivitas yang ada,” ujarnya. “Jika pelanggan puas, mereka tidak hanya akan datang lagi, tapi juga dengan sendirinya akan membicarakan Kidzania kepada orang lain.”

Menurut Uchu, AI tidak merancang strategi khusus agar tercipta promosi word of mouth (WOM). Aktivitas tersebut, menurutnya, tercipta dengan sendirinya. Selain itu, AI juga tidak memonitor sejauh mana WOM itu berkembang, termasuk di forum-forum virtual yang saat ini marak di Internet.

Pengamat pemasaran yang juga konsultan OctoBrand, Sumardy, menyebutkan bahwa salah satu faktor yang membuat Kidzania banyak dibicarakan orang adalah karena tempat rekreasi anak ini berhasil menyasar target pasar yang tergolong talkers alias orang yang suka bercerita ke orang lain, yaitu ibu dan anak. “Kedua segmen ini merupakan the best talkers dalam konteks pengembangan strategi WOM.”

Sumardy menjelaskan, WOM bisa terjadi kalau menyasar pelanggan yang tergolong talkers. “Tidak semua pelanggan tergolong talkers. Ibu-ibu dan anak-anak memiliki tingkat kemampuan sebagai talkers yang lebih tinggi dibandingkan segmen lainnya.”

Menurut Sumardy, key success factors Kidzania terletak pada kemampuan memberikan pengalaman yang berbeda kepada anak-anak yang bersifat edukasi. Memang, Kidzania bukan yang pertama kali mengusung konsep tersebut. Akan tetapi, selama ini permainan anak-anak yang memberikan edukasi unsur experience-nya kurang bagus. Atau sebaliknya experience bagus, tapi tidak ada unsur edukasi. “Kidzania memiliki kedua hal tersebut. dan tentunya secara value lebih menarik bagi orang tua karena dengan harga yang terjangkau.”

Ungkapan Sumardy boleh jadi benar. Dengan membayar tiket masuk Rp 80-155 ribu (tergantung usia dan sesi yang dipilih), pengunjung sudah bisa menikmati seluruh fasilitas. Kalaupun ada biaya tambahan, hanya untuk kebutuhan konsumsi. Bandingkan dengan tempat wisata lain yang harus membayar untuk setiap aktivitasnya. “Jadi, sangat value for money. Terlebih, lokasinya ada di tengah kota dan bergabung dengan pusat perbelanjaan, tentu memudahkan para orang tua yang juga berniat mengadakan aktivitas lain.”

Ika Suwandi, Ministry of Industrial (Direktur Pemasaran) Kidzania, menjelaskan bahwa secara umum target yang dibidik Kidzania dibagi menjadi dua kelompok besar: sekolah dan keluarga. Pengunjung yang berasal dari kelompok sekolah biasanya datang di hari kerja (Senin-Jumat), sementara kolompok keluarga biasanya datang di akhir pekan (Sabtu-Minggu) dan hari libur nasional.

Saat ini, pengunjung Kidzania per bulan tak kurang dari 45 ribu orang. Bahkan, di akhir pekan terkadang AI terpaksa harus menolak pengunjung. “Kami membatasi jumlah pengunjung maksimal 1.500 orang,” ujar Uchu. Ini dilakukan untuk menjaga kenyamanan anak-anak dalam melakukan aktivitas di tempat seluas 7.500 m2 tersebut.

Sayangnya, hingga kini tak banyak aktivitas komunikasi pemasaran yang digelar AI. “Iklan itu mahal,” kata Uchu. Konsentrasi komunikasinya lebih diarahkan ke promosi langsung.

Ika menambahkan, saat ini AI memiliki tim yang beranggotakan 20 orang yang rutin mendatangi sekolah-sekolah – dengan membuat janji terlebih dulu – untuk menjelaskan konsep Kidzania. Tak ada undangan atau fasilitas khusus yang ditawarkan ke sekolah yang dikunjungi. “Paling hanya gratis masuk bagi seorang guru setiap kelipatan 20 siswa,” ujarnya.

Saat ini wilayah yang dijangkau oleh tim sebagian besar di Jabodetabek. Namun, sejak beberapa bulan lalu sudah merambah Bandung dan Bali.

Sumardy mengatakan, satu hal yang masih kurang dari Kidzania adalah belum terbentuknya komunitas penggemar Kidzania, baik itu yang dibuat sendiri oleh AI maupun yang dibuat oleh pelanggannya. “WOM akan lebih powerful jika digabungkan dengan pengembangan komunitas sehingga efeknya akan lebih berantai.”

Konsep membership dan komunitas, diakui Uchu, memang belum masuk dalam rencana kerja AI saat ini. AI kini berkonsentrasi menciptakan layanan dan aktivitas yang menarik bagi anak-anak. “Di Meksiko sekali pun belum ada.”

Uchu memaparkan, cita-cita besar AI adalah menjadikan Kidzania Jakarta sebagai tujuan wisata di Asia Tenggara. Pasalnya, di dunia hanya ada empat Kidzania: dua di Meksiko serta masing-masing satu di Jepang dan Indonesia. AI sebagai pemegang waralaba di Indonesia pun belum berencana membuka Kidzania di kota lain. “Kami masih mengedepankan kualitas ketimbang kuantitas. Klien kami adalah anak-anak, jadi kami harus sangat hati-hati.”

Penambahan establishment baru juga terus dilakukan. Seperti yang baru saja dibuka, yaitu Kantor Pajak yang disponsori Direktorat Jenderal Pajak dan Pastry Shop yang disponsori Bogasari. Uchu menjelaskan, tak hanya pengunjung yang dimanjakan oleh AI, sponsor pun demikian. AI bisa menciptakan aktivitas yang sesuai dengan sponsornya. “Tapi, semua harus ada unsur edukasi dan juga harus di-approve oleh Meksiko.”

Langkah-langkah menciptakan WOM

1.Cari talkers di antara pelanggan.

2.Ciptakan dan berikan topik/cerita yang menarik bagi talkers sehingga mereka akan mempromosikan produk/jasa Anda ke pihak lain.

3.Buat semacam program reward yang membuat talkers bersedia menjualnya ke pihak lain. Reward tidak harus bersifat finansial, tapi bisa emosional atau self-actualization sehingga mereka bangga membicarakan, mempromosikan dan menjualnya.

Artikel ini dimuat di Majalah SWA edisi 20/2008, 4 September 2008

3 pemikiran pada “Cara Kidzania Ciptakan Juru Bicara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s