Duh Susahnya Merubah Pola Hidup

“Ayah… kok ayah pulangnya malem terus sih. Kan aku mau main sama ayah,”. Demikian seloroh putri ku tersayang, Jasmine, ketika aku menghubunginya via telepon di pada Jumat sore. Seminggu ini memang aku selalu pulang larut malam. Rabu dan Kamis malam kemarin bahkan aku pulang dini hari. Terenyuh hati ini mendengar seloroh dari bocah yang masih polos itu.

Bekerja sebagai jurnalis disebuah media cetak yang cukup terkemuka di negeri ini sedikit banyak memang telah mengubah pola hidup ku. Pertama, pekerjaan ini tidak mengenal jam kerja, atau istilah di kantor adalah flexy time. Mau masuk jam brapa pun tidak masalah, demikian juga pulang. Bebas. Kantor juga buka 24 jam. KEdua, sejak duduk di bangku SD mengarang memang bukan pekerjaan yang ku sukai. Tapi, jalan hidup berkata lain. Kini mengarang (baca : menulis) menjadi pekerjaan yang aku tekuni sejak 9 tahun lalu.

Perlahan tapi pasti, aku belajar untuk menyukai pekerjaan ini. Sampai akhirnya, entah karena terpaksa atau tidak, aku pun menyukai pekerjaan ini. Banyak orang yang menyebut bahwa aku punya bakat di bidang ini, (Tanpa bermaksud sombong) Banyak orang yang bilang kalau tulisan ku bagus. Dan ini membuat ku semakin bersemangat untuk lebih memperdalam “dunia” ini. Selain itu, dengan bekerja di media ini, aku bisa banyak belajar tentang hidup, khususnya tentang kesuksesan finansial (maklum, media tempat aku bekerja adalah media bisnis). Bagaimana orang-orang yang menjadi nara sumber itu bisa mencapai kesuksesan finansialnya.

Selain itu, di media ini aku juga punya sedikit keleluasaan untuk mengerjakan pekerjaan lain di luar pekerjaan rutin. Maklum, tuntutan hidup kian hari kian berat. Jadi agak sulit jika hanya mengandalkan gaji.

Nah, ini juga yang akhirnya membuat waktu ku semakin tersita untuk bekerja. Dan keadaan makin diperparah dengan kebiasaan buruk ku yang hanya bisa bekerja di malam hari. Aneh, setiap siang hari, otak ini tidak bisa bekerja secara maksimal. Walau dipaksa, tetap saja tidak sinkron antara apa yang ada di otak dengan “tarian” jari diatas keyboard. Wal hasil, dari siang sampai sore (baca : maghrib), paling-paling hanya satu atau dua alinea saja yang bisa ku tulis. Nah, baru setelah lepas magrib, otak ini bisa bekerja dengan maksimal. Jadi gak heran kalau akhirnya pekerjaan baru selesai pada larut malam atau bahkan dini hari. Apalagi aku gak harus pusing-pusing mikirin pulang, karena biasanya ada supir yang stand-by dan siapa untuk mengantar sampai dirumah. Jadi aku gak terlalu khawatir sama para copet dan preman yang biasa beraksi di Jakarta.

Sebenarnya aku sudah beberapa kali mencoba untuk bisa bekerja laiknya kebanyak orang lainnya, yaitu pada jam kerja 08.00 – 17.00, tapi tak pernah berhasil. Pertanyaannya, kok susah bangat yah ngajak otak ini bekerja serius di siang hari. Kalo ada yang punya solusi, boleh dong si share….

3 pemikiran pada “Duh Susahnya Merubah Pola Hidup

  1. Bung Taufik, menurut anda, sekarang ini anda susah merobah pola hidup? Emangnya dari dulu sudah berapa kali gonta-ganti pola?
    Pola itu adalah anda yang buat berdasarkan interaksi anda dengan lingkungan, bukan? Sehingga anda kemudian men-sinkron-kannya dan secara (sukarela & tanpa sadar) anda menikmatinya dibandingkan sebelumnya. Walaupun ada kalanya jenuh dan rindu dengan pola- pola di masa lalu sebagai bunga- bunga hidup, bukan?
    Syukurlah anda memiliki ‘buah hati tersayang: Jasmine’ anak anda, sehingga untuk itu anda semakin bekerja giat untuk dia. Makanya dibela- belain “mengerjakan pekerjaan lain di luar pekerjaan rutin.”
    Entar juga kalo anak anda dewasa dan kemudian menikah, sehingga anda hanya tinggal berdua kembali bersama istri (jadi bulan madu lagi), pasti polanya berubah lagi, kan?
    “Only time that can tell lah, bos!” he he he

  2. hm harus belajar melupakan itu
    hehehehe
    bagaimana caranya suasana dan segala sesuatu yang berkaitan dengan malam hari di ciptakan pada pagi atau siang hari?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s